BCA Cetak Kenaikan Laba 13,1%

BCA Cetak Kenaikan Laba 13,1%
Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) Jahja Setiaatmadja berbincang dengan jajaran direksi BCA di sela-sela Analyst BCA di Jakarta, Kamis (8/3/2018). BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: BeritaSatu photo / Mohammad defrizal )
Fajar Widhiyanto / FW Jumat, 9 Maret 2018 | 00:22 WIB


Jakarta – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan para entitas anak menutup tahun 2017 dengan pertumbuhan laba bersih sebesar 13,1% mencapai Rp 23,3 triliun dibandingkan Rp 20,6 triliun pada tahun sebelumnya.

Pendapatan operasional yang terdiri dari pendapatan bunga bersih dan pendapatan operasional lainnya tumbuh 6,0% menjadi Rp 57,0 triliun pada tahun 2017, dibandingkan Rp 53,8 triliun pada tahun 2016. Pendapatan bunga bersih BCA meningkat 4,1% menjadi Rp 41,8 triliun sedangkan pendapatan operasional lainnya tumbuh 11,5% menjadi Rp 15,1 triliun pada tahun 2017.

Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja dalam paparan kinerja di Jakarta (8/3) menyampaikan, BCA berhasil membukukan hasil kinerja yang baik dengan memanfaatkan berbagai peluang bisnis di tengah proses pemulihan ekonomi Indonesia. Pencapaian kinerja di tahun 2017 tersebut sejalan dengan pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga, terutama pada dana giro dan tabungan. Profitabilitas BCA juga didukung oleh berbagai program efisensi serta pembentukan cadangan kredit bermasalah yang lebih rendah sejalan dengan kualitas kredit yang tetap terjaga.

Pada tahun 2017, portofolio kredit meningkat 12,4%, menjadi Rp 468 triliun yang ditopang oleh pertumbuhan di seluruh segmen. Kredit korporasi tumbuh 14,5% menjadi Rp 177,3 triliun pada akhir tahun 2017. Pada triwulan akhir 2017, BCA melihat tingginya pencairan kredit korporasi sejalan dengan siklus peningkatan permintaan kredit pada akhir tahun. Kredit konsumer tumbuh 12,1% menjadi Rp 122,8 triliun didukung oleh produk-produk kredit konsumer yang kompetitif. Pada portofolio kredit konsumer, Kredit Pemilikan Rumah (KPR) meningkat 14,2% menjadi Rp 73,0 triliun dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) naik 10,0% menjadi Rp 38,3 triliun pada tahun 2017. Pada periode yang sama, outstanding kartu kredit meningkat 6,9% menjadi Rp 11,5 triliun. Sementara itu, kredit komersial dan UKM tumbuh 10,3% menjadi Rp 167,5 triliun.

Rasio kredit bermasalah (NPL) BCA terjaga pada level yang relatif rendah yaitu 1,5% pada akhir tahun 2017. Total cadangan kredit yang telah dibentuk tercatat sebesar Rp 14,6 triliun, meningkat 5,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Rasio cadangan terhadap kredit bermasalah tercatat sebesar 190,7%.

Sementara itu, BCA mempertahankan posisi likuiditas dan permodalan yang sehat. Rasio kredit terhadap pendanaan (LFR) tercatat sebesar 78,2% dan rasio kecukupan modal (CAR) mencapai 23,1%.

Pengembangan layanan payment settlement merupakan langkah strategis yang berperan dalam memperkokoh pendanaan BCA terutama dari dana giro dan tabungan (Current Account and Savings Accounts – CASA). Pada akhir tahun 2017, dana pihak ketiga mencapai Rp 581,1 triliun, meningkat 9,6% dari tahun sebelumnya yang sebesar Rp 530,1 triliun. Dana CASA berkontribusi 76,3% dari total dana pihak ketiga BCA dan tercatat sebesar Rp 443,7 triliun pada akhir tahun 2017. Di dalam komposisi CASA, dana giro tumbuh 9,7% menjadi Rp 151,3 triliun dan dana tabungan naik 8,2% menjadi Rp 292,4 triliun.

“Pencapaian kinerja usaha BCA tidak lepas dari kepercayaan nasabah. Oleh karena itu, para karyawan BCA termotivasi untuk meningkatkan kualitas produk dan layanan dalam memenuhi kebutuhan nasabah yang terus berevolusi. Pemanfaatan teknologi terkini mendukung customer experience dan upaya otomasi yang pada akhirnya meningkatkan efisiensi operasional”, tutur Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA.



Sumber: Majalah Investor
CLOSE