Menpar: Investor Lokal Enggan Garap Sektor Pariwisata

Menpar: Investor Lokal Enggan Garap Sektor Pariwisata
Menteri Pariwisata, Arief Yahya, didampingi Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, saat memberi keterangan pers usai acara Regional Investment Forum di Yogyakarta, Rabu (14/3). ( Foto: Suara Pembaruan/Fuska Sani Evani )
Fuska Sani Evani / FER Rabu, 14 Maret 2018 | 23:42 WIB

Yogyakarta - Pemerintah tengah menggenjot pariwisata sebagai sektor andalan perkembangan investasi nasional. Sayangnya, komposisi jumlah investor nasional jauh di bawah investor asing.

Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, mengatakan, investasi sektor pariwisata saat ini memang masih banyak dikuasai modal asing. Dalam catatan pihaknya, pada tahun 2015 sebanyak 90 persen sektor pariwisata dikuasai investor asing dan hanya 10 persen dikuasai investor lokal. Pada tahun 2016, investasi asing mulai menurun menjadi 70 persen dan sisanya dikuasai lokal.

"Saya sudah sempat senang. Namun, di tahun 2017 kondisinya balik lagi. Asing kembali menguasai investasi 90 persen dan 10 persen investor lokal," ujar Arief Yahya, usai menghadiri Regional Investment Forum (RIF) yang digelar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), di Yogyakarta, Rabu (14/3).

Arief Yahya mengatakan, pihaknya menyadari investor lokal enggan menanamkan modalnya pada sektor wisata. Alasannya, marjin keuntungan yang sangat kecil. "Kami tidak pernah mengutamakan investor asing, investor lokal selama ini cenderung tidak berminat karena keuntungannya kecil dan lama," ujarnya.

Menurutnya, saat pemerintah menggelar forum investasi, mayoritas peserta merupakan investor lokal. Namun, seringkali hasil dari forum tersebut tidak ditindaklanjuti dengan investasi secara nyata. "Kami sering bertemu investor lokal dalam forum seperti di Bali kemarin, tapi mengapa tetap tidak mau berinvestasi?" ujarnya.

Arief menambahkan, untuk mendorong agar investor lokal mau bergerak berinvestasi dalam sektor pariwisata, pihaknya mengusulkan agar sektor ini digabungkan dengan sektor lain, seperti properti.

"Jika murni mengandalkan pariwisata, memang net profit margin atau keuntungannya akan sangat sedikit. Namun, kalau digabung dengan sektor lain bisa lebih besar keuntungannya," tegasnya.

Untuk menggenjot arus investasi, kata Arief Yahya, pemerintah fokus pada 10 destinasi wisata yang dinamai 10 Bali Baru. "Kami telah menargetkan 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara (Wisman) di tahun 2018, yang mana 10 Bali baru, tetap menjadi prioritas untuk didorong pengembangannya," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, menambahkan, Regional Investment Forum (RIF), bertujuan untuk mengkomunikasikan berbagai kemajuan dan peluang investasi secara langsung kepada investor.

"Investasi harus mampu mendukung percepatan pembangunan ekonomi yang inklusif, terintegrasi, melengkapi rantai pasok (supply chain) dan efisiensi bagi peningkatan daya saing nasional," katanya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE