Rilis Obligasi Rp 1 T, Bussan Auto Finance Tawarkan Kupon 6%-8,25%

Rilis Obligasi Rp 1 T, Bussan Auto Finance Tawarkan Kupon 6%-8,25%
Ilustrasi Obligasi ( Foto: Istimewa )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 11 April 2018 | 16:35 WIB

Jakarta– PT Bussan Auto Finance (BAF) menerbitkan Obligasi II Bussan Auto Finance Tahun 2018 maksimal Rp 1 triliun. Obligasi terbagi dalam dua seri yaitu seri A berjangka waktu satu tahun dengan kupon 6 persen-6,5 persen dan seri B berjangka waktu tiga tahun dengan indikasi tingkat bunga 7,5 persen -8,25 persen untuk Seri B.

“Dana hasil obligasi seluruhnya akan digunakan sebagai modal kerja pembiayaan," kata Chief Executive Officer (CEO) BAF, Lynn Ramli, di sela investor gathering obligasi perseroan di Jakarta, Rabu (11/4).

Masa penawaran awal (book building) obligasi berperingkat idAA (Double A) dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) ini dilakukan pada 9 – 20 April 2018. Jika mendapat pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 3 Mei 2018, maka sedangkan masa penawaran umum pada 7 – 9 Mei 2018 dan pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 16 Mei 2018.

Bertindak sebagai penjamin emisi adalah PT Indo Premier Sekuritas dan PT Ciptadana Sekuritas Asia, serta PT Bank Mandiri (Persero) Tbk sebagai wali amanat.

bussan

Sementara dalam rangka memperkuat eksistensi, BAF belum lama ini memperkenalkan logo baru. “Per 2 April 2018 kami juga meluncurkan logo baru untuk semakin mempertegas kehadiran kami memberikan pelayanan terbaik kepada konsumen," tambah Lynn.

BAF sepanjang 2017 berhasil membukukan pembiayaan baru sebesar Rp 6 triliun atau meningkat 13,3 persen (YoY) dari Rp 5,3 triliun di tahun 2016. Laba tahun berjalan tumbuh 122,7 persen dari Rp 82,1 miliar pada 2016 menjadi Rp 182,7 miliar pada 2017. Jumlah aset juga tumbuh 9,5 persen dari Rp 7,3 triliun di tahun 2016 menjadi Rp 8,0 triliun di tahun 2017.

BAF juga mampu menjaga rasio Non-Performing Financing (NPF) di level yang semakin baik yaitu sebesar 0,65 persen (YoY) pada akhir tahun 2017 dari 0,91 persen di tahun 2016. Rasio tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan dengan NPF industri pembiayaan yang tercatat pada level 2,96 persen di akhir tahun 2017.



Sumber: BeritaSatu.com