Kemperin Akan Revitalisasi 7.000 Sentra IKM

Kemperin Akan Revitalisasi 7.000 Sentra IKM
Dirjen IKM Kemperin Gati Wibawaningsih saat memberikan bantuan kemasan pada perwakilan IKM di Bandar Lampung, Senin 16 April 2018. ( Foto: Beritasatu Photo / Whisnu Bagus )
Rahajeng KH / FER Selasa, 17 April 2018 | 19:16 WIB

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemperin) melalui Ditjen Industri Kecil Menengah (IKM) akan merevitalisasi sekitar 7.000 sentra IKM secara bertahap.

Direktur Jenderal IKM, Gati Wibawaningsih, mengatakan, tahun ini pemerintah tidak akan membangun sentra IKM baru, melainkan memaksimalkan fungsi dari sentra yang sudah ada. Tahun depan, Kemperin akan mendata terperinci kondisi berbagai sentra IKM.

"Kami akan data apakah sentranya masih ada atau tidak. Apa yang mereka butuhkan untuk dapat mengembangkan sentra yang sudah ada," ujar Gati, di Jakarta, Selasa (17/4).

Gati mengatakan, dalam melakukan revitalisasi, pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda) dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) untuk pendanaan revitalisasi sentra tersebut. 

"Anggaran revitalisasi bukan berasal dari Kemperin, melainkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Jadi, apa yang dibutuhkan IKM, kemudian apa yang perlu direvitalisasi itu nanti datanya dari Kemperin," katanya.

Menurut Gati, tahun ini revitalisasi akan dimulai dengan tiga sentra IKM dari tiap sektor. Adapun yang menjadi fokus adalah IKM Pangan, terutama makanan kering karena jumlahnya paling besar.

"IKM pangan juga akan diperbaiki terutama pengemasannya, yang akan bekerja sama dengan industri kemasan besar dan rumah kemasan. Kemasan ini penting, karena kalau orang mau beli, yang pertama dilihat pasti kemasannya," kata Gati.

Dalam kesempatan yang sama, Kemperin juga menggelar Pameran Jogja Istimewa yang menampilkan berbagai kerajinan unggulan khas IKM Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta.

Gati mengatakan, pengembangan potensi IKM, khususnya kerajinan menjadi salah satu program prioritas yang dilakukan oleh pihaknya. Pengembangan IKM Yogyakarta telah dilakukan melalui serangkaian program, dalam rangka mengatasi permasalahan yang dihadapi yaitu, sumber daya manusia dan teknologi. Bahkan IKM di Yogyakarta juga menjadi patokan dalam pengembangan e-smart IKM.

BPS Provinsi DIY mencatat perkembangan ekspor pakaian jadi menjadi komoditas dengan nilai ekspor tertinggi pada Februari 2018 dengan angka 35,78 persen. Selanjutnya disusul oleh produk perabot rumah tangga dan barang-barang rajutan dengan nilai ekspor di angka 14,43 persen dan 11,58 persen.

"Kita juga menyadari bahwa kerajinan Indonesia memiliki pasar yang terus meningkat, sehingga dapat dikatakan bahwa para penggiat IKM Kerajinan menjadi salah satu tombak ekonomi kerakyatan yang tahan terhadap krisis ekonomi global," kata Gati.



Sumber: Investor Daily
CLOSE