PP Properti Proses Izin Obligasi PUB Rp 2 Triliun

PP Properti Proses Izin Obligasi PUB Rp 2 Triliun
Dari kiri ke kanan Direktur Keuangan dan SDM Indaryanto, Direktur Utama Taufik Hidayat, Komisaris Utama Lukman Hidayat, Komisaris Betty Ariana dan Komisaris Independen M. Farela berfoto selfie usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT PP Properti di Jakarta, Selasa (17/4/2018). PPRO membagikan dividen sebesar Rp. 88 miliar, atau 20% dari laba bersih tahun 2017. Sepanjang tahun 2017, PPRO membukukan laba bersih Rp444 miliar atau meningkat sebesar 21% secara year on year sebesar Rp366 miliar. BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal ( Foto: beritasatu photo / Mohammad Defrizal )
Devie Kania / FER Selasa, 17 April 2018 | 21:43 WIB

Jakarta - PT PP Properti Tbk (PPRO) tengah memproses izin penerbitan obligasi penawaran umum berkelanjutan (PUB) I dengan plafon Rp 2 triliun kepada regulator. Perseroan berencana menerbitkan PUB I tahap I maksimal Rp 1 triliun pada awal Juli 2018.

Finance and HR Director PPRO, Indaryanto mengatakan, tahun ini perseroan berencana menerbitkan PUB setelah menerbitkan obligasi Rp 600 miliar pada 2017. Namun, emiten ini berpotensi tidak menghabiskan seluruh sisa plafon, karena masa penerbitan PUB itu baru habis pada 2020.

"Kami mengestimasi, dapat menggalang dana melalui PUB I tahap I awal Juli mendatang. Kemudian, perseroan akan lanjutkan dengan penerbitan medium term notes (MTN) maksimal Rp 600 miliar," ujar Indaryanto di Jakarta, Selasa (17/4).

Adapun PT Danareksa Sekuritas, PT Indo Premier Sekuritas, PT CIMB Sekuritas Indonesia, dan PT Trimegah Sekuritas Tbk (TRIM) akan menjadi penjamin pelaksana emisi efek PUB I PP Properti. Menurut Indaryanto, perseroan berniat menggunakan dana hasil penerbitan surat utang untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex) yang sebesar Rp 1,8 triliun.

Sampai kuartal I-2018, PPRO sudah menyerap capex kisaran Rp 300 miliar. Sementara, menurut Indaryanto, pada kuartal II ini perseroan berpeluang kembali menyerap tambahan Rp 300 miliar. "Jadi, PPRO diasumsikan menyerap capex kisaran Rp 600 miliar hingga Rp 700 miliar pada semester I-2018," papar dia.

Indaryanto mengungkapkan, selain untuk mendukung pembangunan proyek, perseroan memiliki kebutuhan pendanaan untuk refinancing MTN dan pinjaman bank yang jatuh tempo tahun ini senilai Rp 350 miliar. Selain itu, perseroan memiliki kebutuhan dana untuk membayar cadangan lahan (landbank).

"Untuk pengembangan proyek hotel atau lainnya, kami mengambil pinjaman bank. Sedangkan khusus landbank, perseroan mengambil dari penerbitan MTN dan obligasi," jelasnya.

Sampai akhir 2017 PPRO memiliki 297 hektare (Ha) landbank, yang tersebar di beberapa wilayah. Di samping obligasi, tahun lalu perseroan menerbitkan MTN Rp 1,2 triliun secara bertahap untuk mendanai aksi akuisisi lahan.

Indaryanto mengakui, terdapat beberapa lahan yang pembayarannya dilakukan bertahap hingga tahun 2018. Karena itu, terdapat alokasi pembayaran lahan di dalam capex tahun ini. Contohnya itu, sebagian dari total 150 Ha landbank perseroan di dekat Bandara Kertajati, Majalengka, Jawa Barat (Jabar).

PPRO berniat mengalihkan landbank yang setara dengan kisaran nilai aset Rp 200 miliar itu, kepada perusahaan patungan (joint venture/JV) yang akan didirikan bersama PT BIJB Aerocity Development. Adapun BIJB Aerocity Development, merupakan anak usaha dari PT Bandarudara International Jawa Barat (BIJB).

Berdasarkan perjanjian perjanjian yang ditandatangani antara PPRO dan BIJB Aerocity Development pada Maret 2017, kedua pihak sepakat mendirikan JV. Ke depan, JV itu akan mayoritas dimiliki PPRO, dan difokuskan untuk mengembangkan kawasan klaster business park I seluas 300 Ha di Aerocity, Kertajati.

"Setelah melalui berbagai proses perizinan dan kajian bisnis, kami bersama BIJB Aerocity Development akan mendirikan JV sebelum akhir kuartal II ini. Namun, untuk modal ditempatkan, dan disetor tahap pertama kami masih mengkaji dengan rekanan,” jelas Indaryanto.

Terkait bisnis di Kertajati, Direktur Realti PP Properti Galih Saksono mengungkapkan, pihaknya akan tengah memproses pembuatan akses jalan seluas 10 Ha. Kemudian, PP Properti juga menawarkan empat tower untuk apartemen kepada perusahaan maskapai, yang akan beroperasional di Bandara Kertajati.

Di samping Aerocity, sepanjang 2018 PPRO juga akan melangsungkan pengembangan sejumlah landbank untuk mendukung pembangunan properti di 19 lokasi lain. Dari 19 proyek, antara lain The Ayoma Apartment, Transyogi Apartment, Petra Apartment, dan Paragon di Semarang.

Kemudian dari empat proyek properti transit oriented development (TOD), perseroan memastikan akan memulai fase pemasaran di TOD Stasiun Juanda, dan Gubeng tahun ini. Khusus TOD Stasiun Juanda pun akan memasuki tahap konstruksi pada 2018.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE