Pembenahan Industri Logistik Mendesak Jelang Implementasi 4.0

Pembenahan Industri Logistik Mendesak Jelang Implementasi 4.0
Pembukaan pameran CeMAT Southeast Asia IndoTransLog, IndoColdChain IndoTruck (CTCT) 2018 di ICE BSD City, Tangerang. ( Foto: Istimewa )
Lona Olavia / FER Kamis, 3 Mei 2018 | 14:52 WIB

Tangerang - Seiring implementasi industri 4.0, Indonesia kini tengah masuki momentum yang mendesak untuk meningkatkan daya saing industri nasional tak terkecuali di industri rantai pasok (supply chain) dan logistik. Apalagi, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah bahwa biaya logistik masih tinggi yakni 23,7 persen terhadap GDP dan porsi biaya logistik menyumbang sekitar 40 persen dari harga ritel barang.

"Kita berharap produktivitas bisa berdaya saing tinggi, mata rantainya baik sehingga biaya logistik bisa dibawah 20 persen untuk satu sampai dua tahun kedepan. Tahun lalu, biaya logistik masih 23,7 persen terhadap GDP. Kalau dengan infrastruktur paling hanya turun jadi 21 persen. Sedangkan Malaysia dan Thailand sudah dibawah 15 persen. Oleh karena itu, stakeholder, swasta, industri harus kerja keras apalagi 2020 era industri 4.0 akan dimulai," ucap Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Yuki Nugrahawan Hanafi, dalam ajang CTCT 2018 di Tangerang, Kamis (2/5).

Adapun industri 4.0 adalah industri generasi keā€empat yang telah dibuatkan peta jalannya (road map) oleh pemerintah Indonesia dalam rangka menuju Indonesia sebagai 10 besar ekonomi dunia di tahun 2030 melalui pemanfaatan teknologi berbasis digital yang menjadikan proses operasional kerja dan layanan pelanggan lebih murah, mudah dan berdaya saing, seperti ditunjukkan dengan berkembangnya bisnis berbasis online yang maju pesat sehingga mampu mengundang investor korporasi besar dunia untuk berinvestasi, khususnya di sektor layanan transportasi online.

Oleh karena itu, melalui ajang CTCT 2018, Yuki berharap bisa menghasilkan rekomendasi yang tepat bagi kemajuan industri logistik dan rantai pasok Indonesia. Pasalnya, di bidang logistik khususnya rantai pasok, tanpa disadari sudah banyak perubahan namun Indonesia terlambat meresponnya. Hal itu salah satunya karena persoalan regulasi.

"Kita tahu di paket deregulasi ada 16 paket dan ada lima yang berkaitan dengan logistik dimana salah satunya eCommerce. Tapi, sayangnya masih setengah-tengah penerapannya. Sayur-sayuran dan buah-buahan 40 persen busuk karena tak tersistem dengan baik, ini yang kita coba dorong supaya harga tinggi tapi tak membebani konsumen karena 40 persen yang busuk itu jadi beban biaya yang dibebankan ke konsumen," jelasnya.

Yuki memprediksi, bisnis logistik tahun ini bisa tumbuh 10,4 persen atau lebih tinggi daripada tahun lalu yang 7 persen hingga 8 persen. Namun, menurutnya, hal itu terjadi dengan catatan kondisi ekonomi membaik dan rupiah bisa stabil. "Pelemahan rupiah sampai saat ini belum mengganggu, tapi habis Lebaran kalau masih berlanjut maka bisa berubah," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Debindomulti Adhiswasti, Dwi Karsonno menambahkan, penyelenggaraan CTCT 2018 ini bertepatan dengan momentum implementasi Paket Kebijakan Ekonomi XV yang memberikan peta jalan dan regulasi di sektor logistik, termasuk di dalamnya transportasi logistik sebagai perbaikan sistem logistik nasional untuk mempercepat pengembangan usaha dan daya saing penyedia jasa logistik nasional.

"Secara khusus, acara CTCT 2018 memberikan fokus perhatian pada perkembangan implementasi layanan berbasis teknologi informasi digital industry 4.0 sebagai sebuah kebutuhan strategis dalam menghadapi erasnya arus globalisasi eCommerce yang mermbah semua sektor industri barang dan jasa. Oleh karena itu, kami juga menggelar kegiatan konferensi selama 4 hari paralel dengan kegiatan pameran, dengan mengangkat tema Supply Chain Digitizing Platform in Industry 4.0," jelasnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE