Mochtar Riady: Ekonomi Digital Jadi Solusi Atasi Kemiskinan

Mochtar Riady: Ekonomi Digital Jadi Solusi Atasi Kemiskinan
Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga dan CEO Lippo Group, James T. Ryadi mengantar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, usai memberi tausiah pada acara Halal Bihalal keluarga besar Lippo Group di Gedung Mochtar Riady Institute of Nanotechnology Karawaci Tangerang Banten. ( Foto: BeritaSatu.com / Adi Prasetya )
Maria Fatima Bona / FMB Selasa, 10 Juli 2018 | 20:49 WIB

Tangerang -  Masalah kemiskinan telah terjadi sejak beberapa puluh tahun lalu. Bahkan, ratusan buku membahas tentang kemiskinan. Untuk saat ini, pada era teknologi, kemiskinan dapat diatasi dengan memanfaatkan sistem ekonomi digital.

Menurut Chairman dan pendiri Lippo Group, Mochtar Riady, ekonomi digital hadir agar masyarakat di perdesaan tidak perlu ke kota untuk menjual hasil panennya. Mereka dapat menjual dari desa dengan harga yang sesuai sehingga dapat menikmati hasil panennya.

“Kemiskinan ini masalah klasik. Saya diundang Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto untuk berdiskusi tentang program pengentasan kemiskinan. Saya ditanya bagaimana solusi untuk mengatasi kemiskinan ini,” kata Mocthar Riady pada halalbihalal Lippo Group 2018 di Mochtar Riady Institute Nanotechnology, Tangerang, Banten, Selasa (10/7).

Acara ini dihadiri, antara lain Mochtar Riady dan istri, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siroj, Presiden Lippo Group Theo L Sambuaga dan sejumlah jajaran pimpinan dan perusahaan-perusahaan dalam lingkungan Lippo Group serta perwakilan dari pemerintahan Provinsi Banten.

Grup Lippo sekarang sudah memanfaatkan teknologi dan ekonomi digitaln serta mempersiapkannya untuk masuk desa. Pasalnya, hadirnya ekonomi digital diyakini bisa berperan serta dalam mengatasi kemiskinan bangsa Indonesia.

Menurut Mochtar, hadirnya, ekonomi digital dapat mempersingkat proses distribusi yang selama ini dilakukan oleh masyarakat desa. Iklim perdagangan masa lalu dengan mengharuskan penjual bertemu pembeli, merugikan penjual. Maka, hadirnya ekonomi digital dapat mempersingkat mata rantai distribusi.

Mochtar juga menuturkan, sistem e-commerce dapat membantu warung- warung di desa. Masyarakat mendapat informasi harga barang sehingga dapat menjual hasil panennya lebih tinggi dan membeli barang pabrikan lebih murah.

“Selama ini (masyarakatn Red) tidak mempunyai informasi harga. Akibat tidak tahu harga, maka petani menjual produknya murah dan di sisi lain, petani membeli barang pabrikan dengan harga mahal. Hal inilah yang membuat petani miskin,” ujarnya.

Dalam membangun ekonomi digital di perdesaan, Mochtar mengaku siap menjadi penjamin seperti Jack Ma dengan Alibaba Group. “Saya siap jamin. Jadi orang membeli via e-commerce, dia berani bayar dulu. Kalau tidak cocok dengan barangnya kirim kembali saya bayar, ini baru bisa," ujarnya.

Mocthar juga mengatakan agar ekonomi digital dapat berjalan, ia telah mengusulkan ke menteri perindustrian untuk melarang toko ritel masuk ke perdesaan. Masyarakat desa sebaiknya membeli barang melalui pasar digital.

Untuk itu, ia berharap ada jaringan komunikasi bebas pulsa yang tidak membebani masyarakat perdesaan layaknya WhatsApp agar mereka dapat dengan mudah mengakses semua informasi. Pasalnya, tanpa adanya jaringan komunikasi yang memadai, ekonomi digital sulit terwujud. Untuk itu, infrastruktur telekomunikasi perlu ditingkatkan.



Sumber: BeritaSatu.com