Sampah Organik Rumahan Jadi Pakan Ternak

Sampah Organik Rumahan Jadi Pakan Ternak
Direktur Bio Cyle Indo (BSI) Budi Tanaka menunjukan budidaya belatung black soldier fly (BSF) skala ekspor di peternakan RPH, Bubulak, Kota Bogor, Jumat (13/7/2018). ( Foto: Vento Saudale )
Vento Saudale / BW Sabtu, 14 Juli 2018 | 13:27 WIB

Bogor - PT Bio Cyle Indo (BCI) memberdayakan masyarakat Kota Bogor dalam memanfaatkan sampah organik menjadi pakan ternak protein tinggi. Saat ini, BCI sebagai produsen telur/larva black soldier fly (BSF) mengajak masyarakat beternak maggot (belatung) sebagai pakan ternak berprotein tinggi dengan pangsa pasar hingga Amerika Serikat.

Direktur BCI Budi Tanaka menuturkan, belatung BSF saat ini tengah digandungi masyarakat sebagai bahan pakan protein bagi peternak unggas, lele, hingga ikan hias. Di luar negeri, protein belatung BSF digunakan sebagai pengganti protein ikan.

"Peluang dan pangsa pasar belatung BSF sangat terbuka lebar untuk skala dalam negeri atau ekspor ke Amerika Serikat," kata Budi, Jumat (13/7). Pangsa pasar nasional, belatung BSF masih dipergunakan untuk pakan ternak dan di luar negeri untuk makanan hewan (pet).

Kata dia, program pemberdayaan dan penyuluhan biokonveksi limbah organik sudah pernah dilakukan dengan bekerja sama masyarakat Kabupaten Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup dan saat ini BCI tengah mengembangkan pemberdayaan dengan dinas terkait di Kota Bogor.

Berkaca penyuluhan di Bekasi, terang Budi, sangat merasakan dampak positif seperti lingkungan bersih bebas dari sampah organik dan masyarakat mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil menjual belatung BSF ke peternak.

Dari sisi nilai jual, General Manager Wahyu Samodra menjelaskan, membudidayakan belatung BSF sangat menguntungkan. Kata dia, belatung BSF sudah dapat dipanen setiap dua pekan dan proses pemeliharaannya tidak perlu memakan tempat dan belatung BSF ini rakus terhadap sampah organik.

Wahyu memerinci, idealnya bagi petenak rumahan bisa menyediakan lahan seluas 2x4 meter, berbentuk petak dan mengolah 50 gram larva. Dari 50 gram larva tersebut, bisa menghasilkan sekitar 150 kilogram belatung BSF. Larva ini juga tidak meninggalkan bau saat dibudidaya.

"Belatung dewasa bisa dipanen 14 hari sekali. Di pasaran peternak bisa menghasilkan uang Rp 1,2 juta untuk sekali panen dan pakan belatung BSF bisa memakan sekitar 20 kilogram sampah organik per hari," tambah Wahyu.

Tentunya, dengan makin banyaknya masyarakat membudidayakan belatung BSF dapat mengurangi buangan sampah organik ke tempat pembuangan sampah akhir. Dengan demikian, sampah organik bisa habis di lingkungan sekitar.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE