Menteri BUMN Dahlan Iskan.
Secara simbolis Dahlan Iskan menyerahkan sepasang sepatu untuk sepuluh anak yang mewakili seribu anak

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan di Bundaran Hotel Indonesia, Minggu pagi, berbagi sepatu kepada sedikitnya seribu anak Sekolah Dasar dari berbagai sudut Jakarta untuk menandai peluncuran novel "Sepatu Dahlan".

Secara simbolis Dahlan Iskan menyerahkan sepasang sepatu untuk sepuluh anak yang mewakili seribu anak yang pagi itu hadir guna mengawali Gerakan Sepatu untuk Anak Indonesia, yaitu sebuah gerakan sosial untuk membantu pelajar yang kurang beruntung.

Aksi "bagi-bagi" sepatu itu memperoleh rekor dari Museum Rekor Indonesia (MUTI) sebagai gerakan berbagi sepatu terbanyak karena ditargetkan akan memberikan lebih dari 3.600 pasang sepatu bagi anak-anak Indonesia.

Sebelum menyerahkan sepatu kepada anak-anak sekolah dasar, Dahlan terlebih dahulu melepas sepatunya dan kemudian melemparnya ke salah satu sudut kawasan Hotel Kempinski sebelum kemudian menggantinya dengan sepatu buatan dalam negeri, "DI 19".

"Saya copot, lempar ke Anda dan saya pakai buatan Indonesia," katanya. Pelemparan sepatu itu merupakan bentuk dari penolakannya terhadap sepatu buatan luar negeri.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa novel "Sepatu Dahlan" adalah satu bentuk teguran baginya selaku pejabat publik untuk tidak lagi menggunakan sepatu buatan luar negeri.

Terkait novel yang disebut terinspirasi dari kisah hidupnya, Dahlan mengaku kaget saat pertama kali memperoleh informasi mengenai penulisan novel tersebut. Novel itu, katanya, juga membuat dia penasaran karena dia adalah seorang penikmat novel.

Namun ia memuji kepiawaian sang penulis yang mampu menghidupkan kisah hidupnya, salah satunya saat melukiskan rasa syukur Dahlan ketika pertama kali memiliki sepatu saat Kelas III SMA (Aliyah) dan bagaimana ia hanya menenteng sepatunya dan tetap jalan telanjang kaki ke sekolah supaya sepatunya tetap awet.

Tetapi, Dahlan mengingatkan bahwa beberapa adegan dan tokoh yang terdapat dalam novel itu adalah fiktif walau semangatnya sama.

Novel "Sepatu Dahlan" adalah bagian pertama dari trilogi novel inspirasi Dahlan Iskan yang ditulis oleh Khrisna Pabichara dan diterbitkan oleh Noura Books. Dalam buku itu dikisahkan masa kecil Dahlan Iskan yang tumbuh besar dengan dua impian yaitu sepatu dan sepeda.

Usaha sendiri Menurut Khrisna, Dahlan kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan tidak tega menyampaikan impiannya kepada orang tuanya sehingga dia berusaha untuk mewujudkannya dengan usahanya sendiri. Setiap hari ia harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki.

Sepulang sekolah banyak pekerjaan yang harus dilakoninya demi sesuap tiwul, mulai dari "nguli nyeset", "nguli nandur" (menjual tenaga di sawah), sampai melatih tim voli anak-anak pengusaha tebu.

Buku itu juga menyebutkan bahwa di usia mudanya, Dahlan sudah banyak merasakan kehilangan, yang semua tertuang dalam catatan hariannya.

Namun sekalipun novel itu terinspirasi oleh kehidupan Dahlan, Khrisna menjelaskan bahwa sebagian tokoh dan kisah di dalam novel "Sepatu Dahlan" merupakan hasil imajinasinya.

Dalam acara peluncuran novel itu hadir juga sejumlah tokoh antara lain Ary Ginanjar Agustian, Tina Talisa, Putra Nababan dan Abdillah Toha, yang bergantian memberikan pandangannya atas novel itu.

"Setelah membaca buku ini, segalanya terkonfirmasi. Kesederhanaan, rendah hati dan kerja keras yang dibarengi keteguhan hati, bukanlah sekedar gebrakan," kata pembawa acara berita Putra Nababan.

Ia mengatakan bahwa novel "Sepatu Dahlan" membuatnya lebih banyak bersyukur atas segala karunia yang diterimanya dalam kehidupan sehari-hari.

"Pagi ini saya memakaikan sepatu kepada anak saya dan saya bersyukur. Saya bayangkan kalau saya dan anak saya mengalami seperti itu," katanya.

Sementara itu, pembawa acara yang lain, Tina Talisa, mengatakan bahwa novel tersebut menginspirasinya untuk tidak pantang menyerah.

"Pada saat saya membaca saya menjadi sadar bahwa kalau kita mengeluh kita tidak akan mendapatkan apapun," katanya.

Sedangkan Ary Ginanjar menilai novel "Sepatu Dahlan" memiliki pesan besar yaitu agar pihak yang kaya bermanfaat dan pihak yang miskin bermartabat.

"Sepatu Dahlan adalah sebuah makna kebebasan. Sebuah makna dimana kita keluar dari segala hal birokrasi," katanya.

Novel "Sepatu Dahlan" menurut politisi Abdillah Toha akan diikuti oleh "Surat Dahlan" dan "Kursi Dahlan".

"Pak Dahlan mudah-mudahan menjadi inspirasi untuk bangsa Indonesia sekarang dan masa depan," katanya tentang novel "Sepatu Dahlan" terdiri dari 369 halaman dan 32 bab itu.

Penulis: /FEB