Kebijakan Pengembangan Manufaktur Pemerintah Dinilai Tepat

Kebijakan Pengembangan Manufaktur Pemerintah Dinilai Tepat
Ilustrasi industri TPT ( Foto: beritasatu.com )
Leonard AL Cahyoputra / HK Minggu, 16 September 2018 | 20:52 WIB

Jakarta - Kenaikan indeks manajer pembelian (purchasing manager index/PMI) Indonesia dari 50,5 pada Juli menjadi 51,9 pada Agustus 2018 menunjukkan kebijakan pemerintah untuk industri manufaktur sudah tepat.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Perdagangan Benny Soetrisno meyakini, jika langkah pemerintah pusat diikuti pemerintah daerah tingkat I dan II, hasilnya akan lebih maksimal. “Sangat penting untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif bagi terciptanya aktivitas industrialisasi,” ujar dia dalam siaran pers, Minggu (16/9).

Dia menilai, semua upaya strategis yang dilakukan pemerintah bertujuan menciptakan ekonomi yang kompetitif dan memberikan kemampuan pengusaha untuk lebih banyak membuka lapangan pekerjaan. Apalagi, dengan adanya Making Indonesia 4.0 sebagai strategi dan peta jalan yang jelas untuk siap memasuki revolusi industri generasi keempat. “PMI naik adalah bagian dari investasi di capital goods (barang modal) yang meningkat, dan akan memberikan hasil produktivitas yang optimal, sehingga dapat memacu daya saing industri manufaktur,” kata Benny.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) Adhi S Lukman menegaskan, PMI Agustus 2018 sejalan dengan kinerja sektor industri makanan dan minuman (mamin) yang naik. “Setelah sempat melambat karena libur panjang Lebaran, mamin mulai menggeliat lagi pada Agustus lalu,” terang dia.

Adhi mengatakan, hasil tersebut bisa menjadi indikasi permintaan meningkat pada bulan-bulan berikutnya. Sepanjang tahun ini, Gapmmi memproyeksi industri mamin bisa tumbuh di atas 10% atau lebih tinggi dari tahun lalu sebesar 9,23%.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, kuartal II-2018, pertumbuhan industri mamin mencapai 8,67%, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,27%. Bahkan, sektor ini memberikan kontribusi tertinggi terhadap PDB industri pengolahan nonmigas, yakni sebesar 35,87%.



Sumber: Investor Daily
CLOSE