Depok Resmi Larang Displai Penjualan Rokok

Depok Resmi Larang Displai Penjualan Rokok
Kepala Satpol PP Kota Depok Yayan Arianto (kanan) memasang batas putih menutup displai rokok dan dipasangi batas bertuliskan "disini tersedia rokok". Pemasangan secara simbolik dilakukan di Carrefour ITC Depok, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (27/9/2018). ( Foto: Suara Pembaruan / Bhakti Hariani )
Bhakti Hariani / BW Kamis, 27 September 2018 | 13:24 WIB

Depok- Kota Depok resmi melarang displai penjualan rokok, mengiklankan rokok, dan mempromosikan rokok. Sebanyak 374 ritel modern mulai Kamis (27/9) ini, resmi menutup displai rak tempat menempatkan rokok dan ditutup dengan batas putih yang bertuliskan "di sini tersedia rokok".

Pelarangan displai penjualan rokok ini sejalan dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Depok Nomor 03 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok. Wali Kota Depok Mohammad Idris mengeluarkan Surat Edaran bernomor 300/357-Satpol PP kepada pelaku/ pengelola/ penanggungjawab usaha se-Kota Depok per tanggal 19 September 2018. Hari ini, Surat Edaran tersebut resmi dilaksanakan di 374 ritel modern secara serentak.

"Kami meminta agar larangan ini segera dilaksanakan dan dilakukan pengawasan lebih lanjut," kata Idris dalam surat edaran tersebut.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Kota Depok Yayan Arianto mengungkapkan, larangan displai rokok ini tercantum dalam Pasal 13 Perda Nomor 03/ Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa Rokok yang berbunyi "Setiap orang dan badan yang menjual rokok dan/atau produk tembakau dilarang memperlihatkan secara jelas jenis dan bentuk rokok dan/atau produk tembakau lainnya tetapi dapat ditunjukkan dengan tanda tulisan "di sini tersedia rokok".

"Kami menjalankan amanah Perda. Saat ini memang baru ritel modern, termasuk minimarket, yang kami jangkau, tettapi nanti bertahap ke depan juga mungkin akan kami kembangkan ke pasar tradisional dan warung-warung kecil," ujar Yayan.

Lebih lanjut dikatakan Yayan, tujuan dari pelarangan displai rokok ini adalah untuk mencegah anak di bawah umur untuk mengakses rokok atau mulai merokok. Pemkot Depok juga sangat serius dalam pengendalian tembakau. Hal itu untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sehingga terhindar dari bahaya asap rokok. Di samping itu, melindungi anak-anak dan remaja yang menjadi sasaran industri rokok dari pengaruh iklan dan promosi rokok.

Sebagaimana diungkapkan di dalam Perda pada Pasal 44, sanksi bagi perorangan adalah sebesar Rp 1 juta dan pidana kurungan selama tujuh hari. Sedangkan bagi badan atau lembaga sebesar Rp 50 juta dan pidana kurungan selama tiga bulan.

"Sanksi ini tidak langsung kami jatuhkan tetapi secara bertahap yakni melalui imbauan atau peringatan selama tiga kali. Jika belum dipatuhi maka sanksi ini akan kami jatuhkan," papar Yayan.

Ketua No Tobacco Community (NOTC) Kota Depok Bambang Priyono mengungkapkan, dalam survei kepada warga Depok pada awal 2018 telah diungkap bahwa 59,2 persen responden yakin iklan rokok mendorong anak untuk mulai merokok, sedangkan 70,5 persen warga Depok mendukung pelarangan displai penjualan rokok.

"Ternyata apa yang diinginkan warga Depok sejalan dengan apa yang menjadi komitmen Pemkot Depok. Kami sangat mengapresiasi langkah pelarangan displai rokok yang diambil Pemkot Depok ini. Tentu kami sangat mendukung," tutur Bambang.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Depok May Haryanti menuturkan, adanya Perda KTR membuat jumlah perokok menurun di Depok. Jika pada tahun 2017 tercatat terdapat 69 persen rumah tangga yang merokok, maka pada 2018 ini menurun menjadi 67,54 persen.

"Harus kita sadari bahwa rokok mengandung 4.000 racun di dalamnya. Jika kita merokok berarti kita harus siap dengan segala akibat penyakit yang ditimbulkan seperti jantung, kanker otak, kanker paru, bronchitis," tutur May.

Dirinya berharap larangan displai penjualan rokok ini juga dapat menyentuh hingga ke warung warung kecil di sekitar sekolah. Idealnya sesuai dengan Perda KTR, 300 meter dari sekolah harus terbebas dari lokasi penjualan rokok. Agar anak anak tidak dapat mengakses rokok.

"Ini akan terus kami awasi. Tentunya kami berharap area sekitar sekolah dapat steril dari penjualan rokok. Selain mencegah orang yang sudah terbiasa merokok, kami juga fokus pada pencegahan anak mulai merokok di usia muda. Ini yang menjadi perhatian utama kami," pungkas May.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE