Kuartal III, Laba BFI Finance Naik 30% Jadi Rp 1,1 Triliun

Kuartal III, Laba BFI Finance Naik 30% Jadi Rp 1,1 Triliun
BFI Finance ( Foto: Istimewa )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Jumat, 2 November 2018 | 06:00 WIB

Jakarta - PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFI Finance) hingga kuartal ketiga 2018 mencatat peningkatan laba bersih sebesar 30 persen secara year on year (yoy) menjadi Rp 1,1 triliun, dibanding periode yang sama 2017. Naiknya pendapatan menjadi pemicu kenaikan laba perusahaan pembiayaan ini.

"Hingga kuartal III-2018 pendapatan naik 27,5 persen menjadi Rp 3,7 triliun dibandingan kuartal ketiga 2017," kata Direktur Keuangan dan Corporate Secretary BFI Finance, Sudjono, dalam keterangan resminya dikutip Jumat (2/11).

Dia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) belum berdampak signifikan bagi perusahaan. "Di tengah momentum kenaikan suku bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang USD serta kondisi bisnis yang cukup menantang di kuartal ini, perusahaan tetap mencatat pertumbuhan yang sehat sesuai rencana kerja yang ditetapkan,” ujar dia.

Kebijakan BI menaikkan suku bunga acuannya pada Mei 2018 menjadi akhir dari periode suku bunga level terendah 4,25 persen yang sudah berlangsung sejak September 2017. Selanjutnya, suku bunga acuan terus meningkat hingga mencapai 5,75 persen pada September lalu, atau naik 150 bps hanya dalam waktu empat bulan.

Kebijakan itu tentu saja berpengaruh pada cost of fund industri pembiayaan. Untuk mengimbangi kenaikan tersebut, BFI Finance turut menaikkan bunga pembiayaannya antara 0,5 persen - 1,0 persen di bulan September 2018.

Sementara penyaluran pembiayaan baru sebesar Rp12,7 triliun sampai kuartal tiga 2018 atau 24,2 persen lebih tinggi dari periode yang sama di 2017 sebesar Rp 10,2 triliun.

Dari nilai pembiayaan baru tersebut, pembiayaan mobil bekas masih mendominasi dengan komposisi nilai pembiayaan sebesar 68 persen, diikuti dengan pembiayaan motor sebesar 15 persen, alat berat dan machinery sebesar 14 persen, serta mobil baru dan properti dengan kontribusi masing-masing sebesar 2 persen dan 1 persen.

Keseluruhan pencapaian itu mendongkrak pertumbuhan piutang bersih sebesar 24,5 persen year on year (yoy) menjadi Rp 17,7 triliun dengan total aset sebesar Rp 19,4 triliun atau meningkat 26,8 persen dari periode yang sama di 2017.

Non-performing financing (NPF) stabil di kisaran 1,2 persen, sama jika dibandingkan dengan kuartal II-2018. Angka ini masih jauh lebih baik dibandingkan angka NPF industri yang berkisar di angka 3,1 persen (per Agustus 2018).

Sampai kuartal III-2018, BFI Finance telah memperluas jaringan penjualannya dari Sumatera Utara hingga Papua dengan sebaran outlet sebanyak 389 outlet, dimana 4 di antaranya terdapat Unit Usaha Syariah. Jumlah ini merupakan peningkatan 47 outlet sejak akhir 2017.

Analis Indo Premier Sekuritas, Mino, mengungkapkan pada dasarnya, pergerakan saham akan sejalan dengan sisi fundamental perusahaan. ”Kalau ada perbaikan fundamental akan direspons positif,” ucapnya ditemui di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (1/11).

Mino menyebut, kenaikan harga saham termasuk saham BFIN pada beberapa hari terakhir lebih kepada kinerja. ”Secara umum, kalau kinerjanya bagus, sahamnya akan direspons positif,” tegasnya.

Khusus industri pembiayaan yang menjadi bisnis utama BFI Finance, menurutnya, memang tergantung jenis pembiayaannya. ”BFIN kan otomotif, memang mulai ada perbaikan (di sektor otomotif) walaupun belum terlalu signifikan,” terusnya.

Dengan asumsi industri otomotif melanjutkan pemulihan maka kinerja BFI Finance berpotensi terus membaik. "Tantangannya adalah suku bunga dan depresiasi rupiah. Maka ketika ada growth (di tengah tantangan suku bunga dan nilai tukar), potensial naik sahamnya,” kata dia.

Pada penutupan perdagangan Kamis (1/11), saham BFIN naik 20 poin (3,77 persen) ke level Rp 550 per saham.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE