Tahir: di Bawah Jokowi, Ekonomi Indonesia Maju Pesat

Tahir: di Bawah Jokowi, Ekonomi Indonesia Maju Pesat
Pengusaha Dato Sri Tahir (kiri) bersama Kepala Kantor Staf Kepresidenan Moeldoko (kedua kiri), Pengusaha Properti Hendro Gondokusumo (kanan), Pengusaha Murdaya Po (kedua kanan) dan Ketua Umum Partai Perindo Hary Tanoesudibjo (tengah) hadir dalam acara Solidaritas Untuk Indonesia Lebih Baik di Jakarta, Jumat (9/11/18). Acara yang dihadiri ribuan peserta dari berbagai etnis di Indonesia ini bertujuan untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan mengingatkan pentingnya persatuan dalam kebhinekaan. ( Foto: beritasatu photo / mohammad defrizal )
Ridho Syukro / HA Sabtu, 10 November 2018 | 00:24 WIB

Jakarta - Pengusaha Sukses dan pendiri Mayapada Group Dato Sri Tahir mengatakan dalam empat tahun terakhir sejak Joko Widodo (Jokowi) menjabat presiden, pereekonomian Indonesia sudah jauh lebih baik.

Menurut Tahir, dalam diskusi bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko di Jakarta, Jumat (9/11), ada tiga kemajuan yang dilihat pengusaha dari pemerintahan Jokowi.

Pertama, pembangunan infrastruktur yang hebat. Menurut dia, pembangunan infrastruktur dilakukan merata sehingga tercipta keadilan ekonomi dan membuka peluang untuk investasi baru.

Kedua, masa tunggu antrean di pelabuhan sudah tidak bermasalah lagi. Dulu waktu tunggu di pelabuhan mencapai 15 hari, sekarang paling lama tiga hari. Kemajuan ini bisa menurunkan cost dan meningkatkan daya saing pengusaha.

Ketiga, selama pemerintahan Jokowi, perjanjian dagang banyak dilakukan sehingga membuka akses pasar untuk ekspor. Semakin banyak ekspor maka perekonoman tentu membaik.

"Selama empat tahun terakhr sudah banyak kemajuan Indonesia," ujar Tahir, dalam diskusi bertajuk "Solidaritas Untuk Indonesia Lebih Baik" yang diadakan Mayapada Group di Jakarta Convention Center (JCC).

Dia menambahkan selama ini banyak yang membicarakan soal utang Indonesia yang semakin besar. Namun, jika dibandingkan negara lain, rasio utang Indonesia masih 30% terhadap PDB, dibandingkan misalnya Tiongkok yang pernah mencapai rasio 250% terhadap PDB.

Setiap negara pasti mempunyai masalah utang, tinggal bagaimana menerapkan risk management secara baik, ujarnya.

"Pengusaha terus berdoa tahun depan, pesta pemilu berjalan lancar dan berharap Jokowi bisa memimpin lagi," ujarnya.

Jika ada presiden baru diharapkan lebih baik dan membuat Indonesia menjadi negara high class, tambahnya.

"Saya bangga tinggal di Indonesia dan nyaman, sebagai pengusaha saya hanya berharap yang terbaik," ujar dia.

Pada kesmepatan yang sama, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia akan memasuki era baru yaitu revolusi industri 4.0.

Industri 4.0 didasarkan pada prinsip perubahan yang dinamis dan transformatif yang bisa meningkatkan nilai tambah dan daya saing Indonesia ke depannya.

Ekonomi Indonesia terus tumbuh dan berkembang, selama 15 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh pada kisaran 4%-5% dan tetap stabil, kata Airlangga.

Populasi tenaga kerja juga meningkat dan mencapai 30 juta dan angka pengangguran menurun 25%. Pertumbuhan konsumsi Indonesia juga luar biasa, meningkat delapan kali lipat dan sudah menyumbang 55% terhadap PDB. Investasi juga tumbuh dan menyumbang 30% terhadap PDB.

Kemajuan dari sisi ekonomi, investasi dan angkatan kerja merupakan awal dari revolusi industri 4.0.

Menurut dia, industri 4.0 tidak terlepas dari konektivitas, kemampuan analitik dan intelegensi mesin, teknologi robotik, koneksi antara manusia dan mesin serta metode manufaktur melalui tiga dimensi.

"Tinggal menunggu waktu, Indonesia akan menuju revolusi industri 4.0," ujar dia.

Ia mengatakan industri 4.0 tidak akan menggantikan tenaga manusia melainkan saling melengkapi. Saat ini, sudah banyak perusahaan yang sudah menerapkan teknologi digital dalam proses produksinya, dan manusia yang mengoperasikannya.

Dampak industri 4.0 terhadap ekonomi Indonesia akan sangat hebat. Jika revolusi industri 4.0 benar benar diterapkan secara serius maka bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 15% dan Indonesia bisa menjadi negara maju, kata Airlangga, yang juga ketua umum Partai Golkar.

Lima industri yang sudah disiapkan menuju industri 4.0 adalah makanan dan minuman, kimia, tekstil, elektronik, dan otomotif.

Kelima industri tersebut dipilih karena sudah mantap dari segi teknologinya dan ekspornya juga tinggi.

Ia mengatakan negara-negara di Asia Pasifik juga semakin memberikan perhatian yang serius untuk memasuki era revolusi industri 4.0.

Transformasi terhadap industri 4.0 akan membawa Indonesia ke model bisnis baru pada industri manufaktur.

Kementerian Perindustrian sudah bekerjasama dengan United Nation Industrial Development Organization (UNIDO) mengadakan Konferensi yang dihadiri para perwakilan dari 12 negara di kawasan Asia Pasifik, antara lain Bangladesh, Bhutan, Jepang, Kamboja, Korea Utara, Laos, Malaysia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Timor Leste, dan Vietnam, kata Airlangga. Salah satu isu yang dibahas adalah capacity building.

Untuk berubah menjadi negara yang kompetitif di era revolusi industri 4.0, diperlukan integrasi konektivitas, teknologi, informasi dan komunikasi. Upaya ini mampu mengarahkan proses industri yang lebih efisien dan menghasilkan produk yang lebih berkualitas.

Di tempat yang sama, Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko mengatakan stabilitas politik yang kondusif merupakan bagian dari pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Menurut mantan Panglima TNI itu, politik harus kondusif dan keamanan negara harus dijamin. "Kalau negara kacau maka akan mempengaruhi semuanya mulai dari investasi atau ekonominya", kata Moeldoko.



Sumber: Investor Daily
CLOSE