Ilustrasi warga miskin di rumah sakit
Berdasarkan data ini, maka jumlah warga miskin dalam satu tahun terakhir bertambah 5.440 jiwa

Jumlah penduduk miskin di Provinsi Kalimantan Timur bertambah 5.440 orang berdasarkan pendataan Badan Pusat Statistik setempat, yakni pada Maret 2011 sebanyak 247.900 jiwa, dan pada Maret 2012 menjadi 253.340 jiwa.

"Berdasarkan data ini, maka jumlah warga miskin dalam satu tahun terakhir bertambah 5.440 jiwa," kata Kepala Bidang Integrasi, Pengolahan, dan Diseminasi Statistik (IPDS) Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Achmad Zaini, di Samarinda, hari ini.

Menurut Zaini, ditinjau dari sisi jumlah, penduduk miskin di Kaltim secara absolut memang terjadi penambahan, namun jika dilihat dari persentasi dengan jumlah penduduk, maka terjadi penurunan 0,09 persen, yakni pada Maret 2011 sebesar 6,77 persen, sedangkan Maret 2012 menjadi 6,68 persen.

Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan dan perdesaan memiliki pola yang sama, yakni secara persentasi menurun namun secara absolute meningkat.

Selama periode Maret 2011 hingga Maret 2012, penduduk miskin di daerah perkotaan turun 0,01 persen namun secara absolute naik sebanyak 3.120 orang. Sedangkan penduduk miskin di perdesaan turun 0,20 persen namun secara absolute naik sebanyak 2.380 orang.

Jumlah penduduk miskin di perdesaan masih lebih banyak ketimbang yang di perkotaan. Jumlah penduduk miskin di perdesaan pada Maret 2011 sebanyak 11,21 persen dan pada Maret 2012 sebanyak 11,01 persen.

Sementara jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2011 sebesar 4,06 persen, sedangkan pada Maret 2012 sebesar 4,05 persen.

Ia mengatakan banyak atau sedikitnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh nilai Garis Kemiskinan (GK). Orang yang disebut penduduk miskin adalah, orang (penduduk) yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah nilai GK.

Selama periode Maret 2011 hingga Maret 2012, nilai GK naik sebesar 9,71 persen, yakni dari sebesar Rp316.819 per kapita per bulan menjadi Rp347.577 per kapita per bulan.

Nilai GK tersebut terdiri dari Garis Kemiskinan Makanan dan Garis Kemiskinan Non-Makanan yang meliputi sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan. Peranan komoditi makanan sangat besar terhadap GK karena mencapai 71,64 persen dibandingkan dengan pengaruh komoditi non-makanan.

Penulis: /FEB