Ilustrasi perkebunan kelapa sawit. FOTO: ANTARA
Alih fungsi ke lahan sawit menjadi ancaman serius karena bisa menjadi  ancaman bagi ketahanan pangan di daerah

 

Pemerintah diminta waspada terhadap maraknya alih fungsi lahan pertanian  menjadi perkebunan sawit di daerah karena bisa menjadi ancaman ketahanan pangan.
 
"Alih fungsi ke lahan sawit menjadi ancaman serius karena bisa menjadi  ancaman bagi ketahanan pangan di daerah," kata Profesor Riset Badan  Litbang Kementerian Pertanian (Kementan) Kusuma Dwiyanto dalam pemaparan  hasil kunjungan kerja (kunker) ke daerah perbatasan dan lahan sub optimal di Jakarta, hari ini.
 
Kusuma mencontohkan, hal itu terjadi di Tanjung Jabung Timur, Jambi yang  sebelumnya menjadi lumbung pangan provinsi tersebut. Tetapi, petani berbondong-bondong beralih ke sawit akibat program Dinas Pekerjaan Umum  yang kurang koordinasi dengan Dinas Tanaman Pangan Daerah, yang berakibat  dilakukannya pengeringan saluran irigasi (over drain).

"Akibatnya lahannya kering lalu petani berbondong-bondong beralih ke sawit," ujar dia.
 
Sayangnya, setelah beralih ke sawit petani tidak juga menjadi sejahtera  karena produktivitasnya rendah akibat tujuh tahun tidak berproduksi.  Selain itu, petani juga menghadapi ancaman yang luar biasa karena  fluktuasi harga tandan buah segar (TBS) di Jambi lebih tinggi ketimbang  daerah yang infrastrukturnya lebih baik.

"Harga TBS kemarin sudah turun menjadi Rp800 dari Rp1.800 per kg," tutur Kusuma.
 
Menurut dia, hal itu menjadi ancaman yang nyata dan permanen bagi petani  di Jambi. Jika dibiarkan, konversi lahan pertanian menjadi perkebunan akan menganggu ketahanan pangan di daerah.
 
Sebenarnya, pendapatan petani masih bisa tertolong jika menanam pinang  karena hargnya relatif bagus dan tidak menganggu lahan pertanian.
 
Saat ini, di Tanjung Jabung Timur terdapat lahan rawa pasang surut. Rata-rata kepemilikan lahan petani seluas 2 hektare (ha), tetapi produktivitas padinya rendah kurang dari 3 ton per hektar dan indeks pertanaman kurang dari satu. "Untuk keutuhan sehari-hari, petani bergantung pada produksi perkebunan, seperti kelapa dalam, pinang, dan sawit," tutur dia.


Penulis: /FEB