Noor Aziz, Direktur Zakat Watch
www.zakatwatch.org
Zakat Watch
Berpotensi hasilkan triliunan rupiah.

Untuk membahas tentang potensi zakat, perlu kiranya dipahami terlebih dahulu dua jenis zakat dalam Islam. Ada dua jenis zakat dalam Islam, yaitu zakat fitrah dan zakat maal.
 
Dua Jenis Zakat

1.  Zakat Fitrah

Zakat ini disebut juga dengan zakat nufus atau zakat jiwa. Disebut demikian karena bentuk perhitungan zakat ini menggunakan hitungan per orang (jiwa), bukan harta. Siapapun orang Muslim (laki-laki atau perempuan, anak-anak, bahkan budak kecuali yang benar-benar miskin) memiliki kewajiban untuk zakat fitrah (baik dalam bentuk makanan pokok sekitar 2,5 kg atau uang yang setara). 

Oleh karena itulah, zakat ini dalam bahasa ekonomi dapat didefinisikan sebagai biaya tetap dikenakan pada setiap orang. Setiap Muslim - termasuk masyarakat miskin, selama mereka masih memiliki makanan untuk hari pertama Idul Fitri - harus membayar zakat al-fitr untuk diri mereka sendiri dan tanggungan mereka.

Pelaksanaannya adalah menjelang Idul Fitri (waktu wajib bayar) atau dapat pula dibayarkan dari awal Ramadhan (waktu mubah). Zakat Fitrah akan dibahas sendiri dalam pembahasan berikutnya.  Dalam membayar atau menyerahkan zakat fitrah ini, dapat dilakukan melalui amil (di masjid-masjid atau musala) dan yang masih banyak berkembang adalah diserahkan sendiri secara langsung kepada penerimanya.

Adapun dalam hal pengumpulan yang dilakukan amil, hasil yang dikumpulkan dari zakat fitrah ini didistribusikan untuk memberi makan orang miskin, sehingga bisa dipastikan bahwa pada saat Idul Fitri tidak ada masyarakat yang kelaparan atau tidak memiliki makanan. Dengan demikian, meskipun banyak orang miskin harus membayar zakat al-fitr, mereka juga penerima utama dari jumlah yang diterima.

2.  Zakat Maal

Sesuai namanya, zakat maal merupakan zakat yang dikenakan atas harta benda yang diperoleh atau yang dimiliki oleh seorang Muslim. Tidak seperti zakat al-fitr, zakat al-mal dikenakan hanya pada Muslim yang kekayaannya melebihi ambang batas yang disebut nisab.

Sebelum nisab dihitung, terlebih dahulu diperhitungkan kebutuhan dasar muzakki dan keluarganya, serta kewajiban keuangan dan utang jatuh tempo.  Karena mendasarkan kepada kepemilikan harta inilah, maka zakat maal ada yang menyamakan dengan pajak, walaupun sebenarnya memiliki perbedaan yang sangat substansial.

Memang perlu dicatat bahwa fakta sejarah menunjukkan, pengumpulan dan distribusi zakat al-mal dikelola oleh negara pada masa Nabi dan para khulafaurrarasyidin, dan terus menjadi fungsi dari pemerintah Muslim sampai jatuhnya Kekaisaran Ottoman.

Selanjutnya, batas minimum harta yang wajib dizakati pada tabungan atau investasi adalah 85 gram emas, dan jumlah zakatnya adalah 2,5%;. Harta yang dikenakan bisa merupakan harta perniagaan, pertanian/peternakan, dan yang terakhir berkembang zakat profesi.

Potensi Ekonomi Zakat  di Indonesia

Dari dua jenis zakat tersebut di atas, zakat fitrah barangkali sering kurang diperhitungkan sebagai potensi besar yang menggerakkan ummat. Lembaga-lembaga amil zakat yang ada selama ini, baik Badan Amil Zakat (BAZ) maupun Lembaga Amil Zakat (LAZ) juga kurang memperhitungkan dan lebih banyak menyerahkan menjadi gerakan di masyarakat, baik diserahkan secara langsung maupun pembentukan amil adhoc di masjid-masjid atau mushola. 

Hal ini bisa dipahami, karena dari sisi waktu pengumpulan dan distribusi, zakat fitrah berlangsung begitu cepat, hanya dalam hitungan hari atau bahkan jam. Batasnya adalah akhir ramadan hingga pelaksanaan Salat Idul Fitri. Karenanya, penghitungan yang dijadikan patokan adalah jiwa, bukan harta.

Padahal, jika zakat fitrah dapat dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan, sebuah gerakan sosial zakat selama Ramadan akan menjadi sesuatu yang dahsyat. Bayangkan, dengan penghitungan jiwa, setidaknya zakat fitrah akan dibayarkan oleh sekitar 200 juta jiwa Muslim. Jika satu jiwa membayar 2,5 kg beras dan jika dikonversi per kg beras adalah Rp8 ribu, maka per tahun Zakat Fitrah dapat terkumpul sebesar Rp4 triliun. 

Akan tetapi, untuk dapat mengelola zakat fitrah secara lebih optimal, tampaknya diperlukan usaha lebih keras, baik dari sisi ijtihad fiqhiyahnya maupun peningkatan kualitas sumber daya manusianya.

Sementara zakat maal memiliki waktu yang relatif lama, yaitu satu tahun (haul). Patokan yang dijadikan dasar hitungan adalah kepemilikan harta. Atas dasar inilah, terdapat ruang yang cukup untuk melakukan perencanaan, pengumpulan dan pendistribusian terkait zakat maal. Dan zakat ini pula yang paling banyak dikelola oleh lembaga-lembaga amil zakat (baik BAZ maupun LAZ). 

Dari kedua jenis zakat tersebut, bangsa Indonesia memiliki potensi ekonomi yang sangat besar dari penerimaan zakat. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh pihak Kemenag dan Baznas misalnya, disebutkan bahwa potensi zakat di Indonesia mencapai Rp217 triliun. Potensi ini pada dasarnya bukan sesuatu yang mengagetkan. Hal ini tentu saja dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:

    •    Jumlah penduduk Muslim di Indonesia, yaitu sekitar 86% dari  250 juta jiwa, atau sekitar 200 juta jiwa. Jumlah ini menempatkan Indonesia sebagai berpenduduk Muslim terbesar di dunia. Arab Saudi yang 100% Muslim saja hanya memiliki sekitar 30 juta jiwa. Berikut data jumlah penduduk Muslim 2011 di antara negara Islam:

No

Negara

Populasi

Muslim (%)

Total

1

Indonesia

240,271,522

86.10%

206,873,780

2

Pakistan

176,242,949

95%

167,430,802

3

India

1,166,079,217

13.40%

156,254,615

4

Bangladesh

156,050,883

83%

129,522,233

5

Turki

76,805,524

99.80%

76,651,913

6

Mesir

83,082,869

90%

74,774,582

7

Nigeria

149,229,090

50%

74,614,545

8

Iran

66,429,284

98%

65,100,698

9

Maroko

34,859,364

98.70%

34,406,192

10

Algeria

34,178,188

99%

33,836,406

11

Afghanistan

33,609,937

100%

33,609,937

12

Arab Saudi

28,686,633

100%

28,686,633


(dari berbagai sumber)

    •    Membaiknya kondisi perekonomian bangsa yang tentu saja menjadi salah satu represenstasi dari kondisi perekonomian masyarakat (Muslim).

Data BPS (Badan Pusat Statistik) menunjukkan bahwa selama tiga tahun terakhir, terjadi peningkatan Pendapatan Perkapita penduduk di Indonesia, yaitu besarnya pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Sebagaimana diketahui bahwa pendapatan per kapita sering digunakan sebagai tolok ukur kemakmuran dan tingkat pembangunan sebuah negara, semakin besar pendapatan per kapitanya, semakin makmur negara tersebut.

Berikut data perkembangan pendapatan perkapita Indonesia 3 tahun terakhir:

Tahun

Pendapatan Perkapita

Kenaikan dari tahun sebelumnya (%)

2009

23,9 juta

11,6 %

2010

27,1 juta

13,3%

2011

30,8 juta

13,8%


(dari berbagai sumber)

Jika dihitung per bulan, rata-rata pendapatan per kapita penduduk Indonesia sekitar Rp2,56 juta.

Dengan dasar asumsi bahwa mayoritas penduduk adalah Muslim, maka tentu saja kenaikan pendapatan sebagian besar terjadi pada keluarga Muslim. Dan dapat dipahami jika disebutkan bahwa terjadi peningkatan jumlah kelas menengah di Indonesia.  Beberapa pengamat bahkan secara kuantitatif menyatakan bahwa setidaknya terjadi peningkatan sekitar 50 juta orang kaya baru. 


Dari dua faktor diatas saja, maka potensi Rp217 triliun pertahun sebagaimana hasil penelitian Kemenag dan Baznas di atas, merupakan sesuatu yang cukup realistis. Katakanlah, jika dari 86% jumlah masyarakat Muslim, sekitar 60% merupakan muzakki, dan rata-rata membayar zakat sebesar Rp2 juta, maka zakat yang bisa terkumpul sekitar 248 Trilyun.

Jika dibandingkan dengan total APBN Indonesia 2012 sebesar Rp1,418 triliun, maka potensi zakat adalah seperempatnya. Sebuah angka yang sangat besar untuk penguatan dan pengembangan ekonomi ummat. Bahkan beberapa pihak ada yang menyebut potensi zakat umat Indonesia sebenarnya adalah sepertiga dari APBN.

Realisasi Penerimaan Zakat

Berapapun potensi yang bisa diestimasi dan diprediksikan, ternyata realitas penerimaan zakat hingga sekarang ini masih sangat jauh dari harapan. Pada tahun 2011 misalnya, data BAZNAS menunjukkan penerimaan masih berkisar sekitar Rp1,5 triliun. Angka ini tentu saja sangat jauh dari potensi yang ada.

Sebuah tantangan besar yang dihadapi oleh masyarakat Muslim umumnya, dan lembaga-lembaga zakat pada khususnya (baik BAZ maupun LAZ). Beberapa pengamat mensinyalir misalnya, kondisi tersebut disebabkan karena Indonesia bukan negara Islam. kalangan lain menyebut belum meratanya edukasi tentang zakat serta sumber daya pengelola yang kurang optimal.

Apapun alasan yang bisa dikemukakan, yang jelas kondisi tersebut patut menjadi perhatian, khususnya bagi kaum Muslim. Sebuah perjuangan besar harus dilakukan. Selain jumlah penduduk Muslim terbesar, kondisi penerimaan zakat yang cukup kecil tersebut berbanding terbalik dengan umur Islam di Nusantara ini yang bahkan sudah mencapai lebih dari 7 abad atau 700 tahun.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat distribusi zakat yang dilakukan secara personal. Hal ini menjadi tantangan tersendiri lagi, bagaimana seluruh komponen ummat Islam dapat dilakukan integrasi sehingga penerimaan dapat dilakukan secara optimal. Dengan optimalnya zakat, maka akan menjadi kekuatan ekonomi dahsyat. Terlebih hingga sekarang ini, setidaknya data BPS masih masih adanya sekitar 36 juta masyarakat miskin --dan sangat mungkin lebih dari 50 juta – di tengah semaraknya pertumbuhan ekonomi 6.5% yang sering disuarakan pemerintah.
 
Sebuah jalan panjang dan berliku masih hasrus dihadapi oleh Ummat Islam. Belum optimalnya zakat, berarti misi dan pesan penting yang terkandung dalam makna zakat belum dapat terpenuhi. 

****
Noor Aziz
Direktur Zakat Watch
www.zakatwatch.org


Zakat Watch didedikasikan untuk kepentingan umum untuk kemanfaatan pengelolaan zakat di Indonesia. Aktivitasnya antara lain melakukan pengawasan, pembinaan dan advokasi pengelolaan zakat . Zakat Watch adalah organiasi masyarakat sipil atau Civil Society Organisation (CSO), bergerak secara non profit yang berkedudukan di Jakarta dan melaksanakan program di berbagai wilayah Indonesia.

Zakat Watch akan bekerjasama dengan para pemangku kepentingan dibidang pengembangan zakat di Indonesia dan menjalin kerjasama gerakan sejenis di dunia.

Zakat Watch menerima saran dan informasi terkait penyimpangan dan keluhan pengelolaan zakat untuk menguatkan data advokasi zakat. Informasi dapat disampaikan melalui email sekretariat@zakatwatch.org.


Penulis: /FMB