Ilustrasi tambang batu bara di Kalimantan.
Perusahaan yang dikendalikan Grup Bakrie dan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) itu membukukan kenaikan pendapatan menjadi US$770 juta.

Bumi Plc, perusahaan investasi batubara yang tercatat di Bursa Efek London, mengalami rugi sebesar US$117 juta pada semester I-2012.

Kerugian itu berkurang dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar US$308 juta. Rugi bersih dipicu non-cash adjustment terkait depresiasi dan amortisasi.

Perusahaan yang dikendalikan Grup Bakrie dan PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk (BORN) itu membukukan pendapatan sebesar US$770 juta, naik 61 persen dari US$478 juta. Sejalan dengan itu, laba usaha meningkat dari US$62 juta menjadi US$128 juta.

Utang bersih Bumi Plc mencapai US$384 juta atau turun dari sebelumnya US$393 juta. Bumi Plc merupakan induk usaha dua perusahaan batubara termal di Indonesia, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU).

“Kinerja keuangan kami terpengaruh tingginya beban bunga dan kerugian derivatif Bumi Resources,” ujar Chief Executive Of ficer Bumi Plc Nalinkan Rathod dalam keterangan resmi, Kamis (9/8).

Dia mengatakan, curah hujan yang tinggi membuat produksi batubara pada kuartal II lebih rendah, sehingga berdampak pada profitabilitas. Soalnya, perseroan tidak dapat mengompensasi kenaikan biaya tetap.Dia berharap produksi dapat membaik pada paruh kedua. Dengan demikian target penjualan batubara dapat dicapai.

Secara operasional, Nalin mengatakan, produksi batubara Berau mencapai 9,6 juta ton per Juni 2012, naik dari 9 juta ton. Sedangkan Bumi membukukan produksi batubara sebesar 32,7 juta ton, naik dari sebelumnya 29,9 juta ton.

Menurut Nalin, curah hujan di tambang batubara Berau sangat tinggi. Di saat yang sama, biaya meningkat, seiring peningkatan biaya kontraktor dan bahan bakar.

Dia menambahkan, harga jual batubara Berau pada paruh pertama mencapai US$ 76,6 per ton, naik dari sebelumnya US$74,6 per ton. Adapun harga jual batubara Bumi turun dari US$91,3 per ton menjadi US$88 per ton.

Sepanjang tahun ini, Nalin menuturkan, produksi batubara Berau ditargetkan mencapai 20-22 juta ton, dibandingkan tahun lalu sebesar 20 juta ton. Adapun produksi Bumi ditargetkan mencapai 75 juta ton dari sebelumnya 63,8 juta ton.

Nalin menegaskan, Bumi Plc terus mendorong penurunan utang Bumi Resources. Salah satunya dengan
menguangkan (monetize) aset noninti. Bumi Plc, kata dia, juga tetap mengusung rencana penambahan kapasitas produksi batubara termal.

Dia mengakui, harga batubara termal turun tajam dalam beberapa bulan terakhir atau sama seper ti harga komoditas mineral dan logam lainnya. Ini tak lepas dari memburuknya kondisi perekonomian global.

“Hal ini jelas merupakan salah satu perhatian utama kami, karena bisa berdampak terhadap profitabilitas. Untuk itu, kami berupaya mengantisipasinya dengan memangkas biaya dan efisiensi,” kata dia.

Kinerja Berau
Sementara itu, Berau Coal membukukan rugi sebesar US$45,9 juta pada semester I-2012. Padahal, pada periode sama tahun lalu, perseroan meraup laba bersih US$76,4 juta.

Pendapatan Berau naik 5,6 persen menjadi US$770 juta dari US$729 juta. Beban pokok penjualan meningkat dari US$431 juta menjadi US$515 juta.

Laba kotor turun dari US$279 juta menjadi US$255 juta. Berau meraih laba usaha sebesar US$181 juta, turun 26 persen dari US$247 juta. Beban keuangan naik dari US$57 juta menjadi US$ 75 juta. Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan turun dari US$199 juta menjadi US$49 juta.

Berau sebelumnya sukses menerbitkan obligasi global senilai US$500 juta pada Maret 2012. Tenornya mencapai lima tahun dengan kupon 7,25 persen. Dana hasil obligasi digunakan untuk membiayai kembali fasilitas pinjaman senilai US$340 juta. Adapun sisanya dialokasikan untuk mendanai belanja modal (capital expenditure/capex).

Penulis: