Bank Indonesia.
Tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia mendorong transaksi modal.

Bank Indonesia (BI) mengumumkan jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan II-2012 tercatat sebesar US$106,5 miliar, atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

"Penyebab utamanya adalah surplus neraca perdagangan yang menyusut sehingga tidak dapat mengimbangi defisit neraca jasa dan neraca pendapatan yang melebar," kata Direktur Eksekutif Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Dody Budy Waluyo, dalam siaran pers yang dikeluarkan BI, Jakarta, hari ini.

Dodi menjelaskan, pada sisi neraca perdagangan nonmigas, lebih rendahnya surplus disebabkan adanya penurunan ekspor akibat pelemahan permintaan dan penurunan harga komoditas global. Sedangkan impor, khususnya bahan  baku dan barang modal tumbuh tinggi sejalan permintaan domestik yang  kuat.

Sektor migas, menurut dia, juga memberikan kontribusi negatif  karena defisit neraca perdagangan minyak yang masih lebih besar  dibandingkan surplus neraca perdagangan gas. Sedangkan di sisi neraca jasa, kenaikan defisit disebabkan oleh meningkatnya pembayaran jasa transportasi barang impor dan jumlah warganegara Indonesia yang bepergian ke luar negeri.

Sementara itu, kenaikan defisit neraca pendapatan terjadi karena laba dan bunga yang diperoleh investor asing atas investasi mereka di dalam negeri meningkat seiring dengan nilai investasi mereka yang terus bertambah.
 
Ditambahkan Dodi, tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia mendorong transaksi modal dan finansial mengalami kenaikan surplus yang signifikan. Pada kuartal kedua tahun ini, surplus neraca modal dan finansial naik menjadi US$5,5 miliar dari US$2,5 pada kuartal pertama tahun ini.
 
"Kenaikan tersebut terjadi baik dalam bentuk investasi langsung (PMA), investasi portofolio, maupun penarikan utang luar negeri swasta. Perkembangan ini menunjukkan bahwa di tengah kondisi perekonomian global yang masih diliputi oleh ketidakpastian, keyakinan investor asing terhadap ketahanan dan prospek perekonomian Indonesia tetap tinggi," papar Dody.

Penulis: