Ilustrasi perdagangan saham
Selain batubara dan perkebunan, investor boleh memperhatikan saham-saham sektor logam

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan ini, akan melanjutkan penguatan menuju level 4.381.

Para analis merekomendasikan saham-saham sektor pertambangan dan komoditas lain untuk dikoleksi, di tengah kondisi pasar yang miskin momentum dan katalis setelah euforia kebijakan quantitative easing ketiga (QE3) mereda.

Menyusul langkah Federal Reserve (The Fed) mengeluarkan QE3 sebesar US$ 40 miliar setiap bulan untuk membeli utang hipotek, pekan lalu bursa saham Wall Street di Amerika Serikat (AS) menguat.

Hal ini berimbas ke BEI dan bursa lain di berbagai belahan dunia. IHSG ditutup melonjak 86,3 poin (2,07%) ke level 4.256,9 Jumat lalu, atau mencetak rekor tertinggi baru dari rekor sebelumnya 4.224 pada 3 Mei 2012.

Demikian rangkuman pendapat analis Waterfront Octavianus Marbun, analis UOB Kay Hian Securities Edy Kho, analis Etrading Securities Budi Budaya, analis Reliance Securities Monchita Wintion Pangemanan, dan pengamat pasar modal Yanuar Rizky. Mereka dihubungi Investor Daily secara terpisah di Jakarta, akhir pekan lalu.

Octavianus mengatakan, di pasar global harga komoditas per tambangan kemungkinan naik, seiring QE yang cenderung melemahkan nilai tukar dolar AS. Harga komoditas lain seperti minyak sawit mentah (CPO) juga cenderung menguat.

“Biasanya, saat dolar AS melemah ada kecenderungan harga komoditas minyak maupun emas naik. Untuk trading jangka pendek di BEI, sektor komoditas yang menarik diperhatikan adalah timah dan batubara. Untuk jangka panjang, investor bisa memerhatikan saham-saham sektor consumer dan CPO,” ujar Octavianus.

Bagi investor yang masuk ke pasar modal, Budi menegaskan, saham-saham sektor batubara dan pertambangan lain perlu dicermati. Saham ini antara lain adalah Bukit Asam (PTBA), Harum Energy (HRUM), dan Indo Tambangraya Megah (ITMG).

Edy mengatakan, sektor batubara dan perkebunan sedang rebound. Dia memprediksikan harga saham Adaro menguji level Rp 1.890, United Tractor pada level Rp 23.000, Astra Argo pada level Rp 24.500, dan BW Plantation pada level Rp 1.800.

“Hingga akhir tahun ini, selain sektor batubara dan perkebunan, investor boleh memperhatikan saham-saham sektor logam dan komoditas yang lain,” papar dia.

Budi Budaya mengatakan, pasar modal di dalam negeri akan banyak dipengaruhi sentimen eksternal. Sedangkan sentimen internal tidak terlalu berpengaruh, karena perekonomian domestik masih terjaga baik.

Sedangkan untuk price to earnings ratio (PER) IHSG yang 15,1 dinilai masih on the track, menyusul diberikannya peringkat investment grade untuk Indonesia.

“Investor juga akan melihat laporan keuangan emiten kuartal III ini. Biasanya properti turun di saat seperti ini, tetapi pada 2012 kinerja properti bagus,” ucap Budi.

Profit Taking

Meski berpeluang menguat, kata Edy Kho, IHSG masih rawan profit taking (ambil untung).

Indeks antara lain akan dipengaruhi laporan keuangan emiten kuar tal III ini.

Dia memprediksi, indeks bergerak pada kisaran suppor t 4.120 dan resistance 4.381. Pelaku pasar diperkirakan menunggu kabar mengenai jumlah dan kriteria bond (obligasi), yang akan ditetapkan European Central Bank (ECB).

“PER IHSG yang 15,1 sudah cukup premium atau mahal dibandingkan indeks bursa regional. Mungkin akan terjadi koreksi terlebih dahulu menuju 12-13, kemudian kembali naik menuju 15,” ucap dia.

Hingga akhir tahun ini, Edy memperkirakan IHSG mampu naik menuju level 4.500. Namun, ini setelah ada koreksi sehat untuk keseimbangan pasar.

Octavianus juga optimistis IHSG melanjutkan penguatan pekan ini. Indeks akan bergerak pada level 4.170- 4.270, setelah pekan lalu ditutup menguat 86,36 poin (2,07%) ke level 4.256,9 berkat sentimen positif global, regional, maupun domestik.

“Seminggu belakangan, para pelaku pasar menunggu pernyataan The Fed, meski sebenarnya tidak ada masalah di pasar domestik. Mungkin pekan ini ada koreksi tipis atau aksi ambil untung, menyusul kenaikan indeks berturut-turut,” kata Octavianus.

Ia mengatakan, ada peluang indeks menguji level 4.400-4.500 hingga akhir tahun ini, namun hal itu tergantung pada laporan keuangan kuar tal III-IV 2012.

Faktor lain adalah minat asing untuk melakukan net buy (pembelian bersih) secara besar-besaran.

“Di tengah kondisi China mengalami perlambatan per tumbuhan ekonomi, PER IHSG sebesar 15,1 saat ini masuk akal,” tutur dia.

Sementara itu, Monchita memperkirakan, pekan ini kondisi pasar miskin momentum dan minim katalis seiring meredanya euforia kebijakan QE3 dari The Fed.

Pada perdagangan hari pertama, IHSG kemungkinan terkoreksi setelah naik terlampau tinggi ke rekor baru.

“Waspadailah kemungkinan profit taking, karena indikator stochastic yang sudah overbought dan dead cross memberi r uang penur unan yang cukup besar,” kata dia.

Yanuar Rizky sependapat, sepekan ke depan, indeks rawan terkoreksi. Ia memperkirakan indeks bergerak fluktuatif, karena pelaku pasar berspekulasi mengenai kucuran real cash stimulus The Fed tersebut.

“QE ini adalah hot money. Sementara itu, kenaikan indeks yang tinggi sekali pada akhir pekan tidak diikuti penguatan rupiah secara signifikan,” kata dia.

Asing, menurut dia, sedang mencoba memainkan pasar uangnya. Pasar akan ditandai dengan high risk high return.

“Uang panas pada QE selalu mencari bunga. Untuk pelaku pasar yang tidak bisa mengelola risiko sebaiknya stay cool, menunggu pasar kembali stabil,” ungkap dia.

Penulis: