Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu . FOTO : ANTARA
Parameter yang akan digunakan seperti jumlah tenaga kerja, karakteristik kegiatan di daerah tersebut, dan pengaruh terhadap masyarakat sekitar, serta sektor lain

Badan Pusat Statistik (BPS) akan bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk mendata perkembangan pariwisata di 16 destinasi wisata dan 15 sektor ekonomi kreatif. Pendataan itu diperlukan untuk mengetahui lebih riil perkembangan wisata dan ekonomi kreatif.

“Ke depannya kami akan mencoba mendata mengenai destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif. Kami ingin lebih baik dalam mengukur parameter mengenai dua komponen tersebut,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu pada acara penandatanganan nota kesepahaman antara Kemenparekraf dan BPS di Jakarta, hari ini.

Mari Elka menjelaskan, parameter yang akan digunakan seperti jumlah tenaga kerja, karakteristik kegiatan di daerah tersebut, dan pengaruh terhadap masyarakat sekitar, serta sektor lain.

Untuk rencana pendataan destinasi wisata, BPS tengah melakukan uji coba di beberapa daerah mengenai metode penghitungan yang efektif. Beberapa daerah tersebut diantaranya di Pangandaran-Jawa Barat, Lembang-Jawa Barat, dan Banten.

Di tiga daerah tersebut, BPS terlebih dahulu akan mempelajari karakteristiknya, kemudian menggunakan metodologi yang tepat dan menentukan manajemen lapangan.

Sementara untuk yang ekomoni kreatif, Mari Elka mengungkapkan, terdapat 15 sektor ekonomi kreatif yang akan dilakukan pendataan oleh BPK. Selama ini, Kemenparekraf masih menggunakan pendekatan dari data terkait yang dikeluarkan BPS. “Sekarang kami ingin memperbaiki, termasuk membuat surveinya,” tambah dia.

Kepala BPS Suryamin menambahkan, pihaknya akan terlebih dulu memetakan data-data industri yang terkait dengan pariwisata dan ekonomi kreatif. Pasalnya, kegiatan yang termasuk dalam dua segmen tersebut cukup banyak.

“Dan itu akan lebih luas lagi, kalau kami menggabungkan dengan sektor jasa, dari sini kita akan mendapatkan besaran angka yang disumbangkan dua segmen tersebut ke perekonomian Indonesia,” jelas dia.

Mari Elka mengaku, persiapan dan pengumpulan data tersebut memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. “Memang butuh waktu, tapi kami harus segera memulainya,” tambah dia.

Kemenparekraf, menurut Mari Elka, telah menganggarkan dana Rp 4 miliar untuk kegiatan pendataan tersebut pada 2012. “Tahun depan kemungkinan anggarannya lebih,” tambah dia.

Mari Elka mengungkapkan, data BPS yang baru dimanfaatkan Kemenparekraf sekarang, adalah jumlah wisatawan nusantara (wisnus) dan wisatawan mancanegara (wisman), tingkat hunian hotel, lama tinggal, penciptaan lapangan pekerjaan, dan sumbangan terhadap produ domestik bruto (PDB). 

Penulis: /FEB