Pengunjung memperhatikan mobil Toyota Agya produksi Astra International di Indonesia International Motor Show 2012. FOTO: AFP PHOTO / Bay ISMOYO
Belum ada harga pasti

Pameran otomotif terakbar di Indonesia, Indonesia International Motor Show (IIMS) ke-20, belum rampung digelar tetapi telah jelas terlihat dua mobil murah yang ditawarkan Astra dalam kolaborasi dengan Toyota dan Daihatsu menjadi rebutan para pengunjung.

Dari pantauan Beritasatu.com di Jakarta International Expo, tempat penyelenggaraan IIMS, pada Sabtu akhir pekan kemarin tampak ratusan orang bergantian mengerubuti, menyentuh, dan mencoba kenyamanan interior Agya dan Ayla, dua mobil yang digadang-gadang akan menjadi kompak paling murah Tanah Air.

Hampir sukar bagi wartawan mengambil foto dua mobil itu sendirian, tanpa pengunjung yang sedang membuka pintunya, meraba-raba kulit joknya, mengamati mesin, hingga logonya yang memang bukan logo Daihatsu atau Toyota.

Yanto, 38, seorang pengunjung dari Tangerang, Banten misalnya mengaku penasaran dengan Ayla, mobil yang harganya diperkirakan akan berkisar dari Rp75 hingga Rp105 juta itu.

"Ini sudah ada di dealer?" tanyanya kepada salah seorang pramuniaga yang bertugas di booth Daihatsu, sambil mengetuk-ngetuk bodi mobil itu, seakan tidak percaya.

Situasi di booth Toyota, yang memajangkan Agya, juga tidak berbeda. Tidak hanya mengamati, sejumlah pengunjung yang penasaran juga menaiki mobil itu, mencoba kenyamanannya.

"Bisa sampai lima orang loh," seloroh Nisa, perempuan ibu muda dari Rawamangun, Jakarta Timur, ketika sedang mencoba duduk di kursi belakang mobil itu. Dia datang bersama suami dan bayi mereka.

Sebagian besar pengunjung juga berusaha meminta meminta lembaran keterangan harga dan spek mobil itu dari para pramuniaga. Tetapi mereka mendapat jawaban yang sama dengan ribuan pengunjung lainnya: mobil itu belum tersedia di dealer dan belum punya harga yang pasti.

"Masih tentatif," kata Toto, staf pramuniaga Ayla yang akhir pekan kemarin bertugas menyambut para pengunjung pameran di booth Daihatsu.

Menurut lelaki yang sehari-hari bekerja di dealer Astra Harmony, Jakarta Pusat itu, mobil dengan mesin berkapasitas 1,0 L itu, baru akan tersedia pada awal tahun depan.

"Kalau peraturan pemerintahnya sudah keluar," tutur lelaki bersetelan jas abu-abu itu.

Yang dimaksud Toto tentu peraturan pemerintah tentang insentif pajak, termasuk di dalamnya pembebasan pajak pertambahan nilai atas barang mewah (PPnBM), untuk mobil seperti Ayla dan Agya yang diklaim termasuk dalam kategori mobil "low cost and green car" - program pemerintah untuk mobil murah dan ramah lingkungan.

Tetapi meski belum jelas Astra sudah berani menjual mobil itu di IIMS yang akan berlangsung hingga 30 September mendatang itu. Tidak hanya itu, sudah lebih dari seratus Ayla yang laris meski pameran baru berjalan dua hari.

"Mulut sampai pegal menjelaskan," ketus Toto, "Capai juga bikin SPK (surat pemesanan kendaraan)."

Staf humas Daihatsu, Guntur Kusuma Ardhy, yang dikonfimasi Beritasatu.com juga mengakui ramainya pesanan yang masuk meski menolak memberikan angka yang pasti.

"Saya belum bisa ngomong untuk SPK. Tetapi sekitar itu memang," tulisnya dalam pesan singkat.

Betapa para pengunjung tidak berebut memesan mobil-mobil itu, untuk mendapatkannya mereka hanya perlu menyetor uang 'tanda jadi' sebesar Rp1 juta untuk Ayla dan Rp5 juta untuk Agya.

"Jika nanti peraturannya tidak keluar dan harga berubah kita akan kembalikan uang 100%," kata Jimmy S, salah satu pramuniaga di booth Daihatsu, sebelum menyodorkan kartu nama dan pergi untuk melayani pelanggan lain.

Harga yang berubah dan pengembalian uang "tanda jadi", seperti yang dijelaskan Jimmy, tentu adalah skenario lain jika peraturan pemerintah tentang insetif pajak itu tidak kunjung dikeluarkan.

Tetapi Menteri Perindustrian, MS Hidayat, yang ditemui seusai membuka IIMS bersama Wakil Presiden Boediono, Jumat (21/9), mengaku optimistis peraturan itu akan keluar, meski tetap menyerahkan sepenuhnya pada Kementerian Keuangan.

"Tolong Anda menemui Menkeu Agus Martowardojo," ketika ditanyai wartawan tentang kejelasan regulasi itu.

"Kemarin di rapat Kabinet khusus mengenai green car sudah saya laporkan. Berilah kesempatan kepada Menkeu untuk memproses sesuai dg prosedur birokrasinya," tukas Hidayat.

Penulis: