Mantan Menteri Perindustrian Fahmi Idris
Komunis mengintai untuk kembali mengambilalih negara

Sebuah diskusi mengenai komunisme mengungkapkan bahwa paham komunis yang sudah dilarang di Indonesia bisa muncul kembali karena adanya kesenjangan soial, ekonomi, dan politik.
 
Hal tersebut dikatakan oleh Prof. H. Fahmi Idris, salah satu pelaku politik di Indonesia dalam acara diskusi bersama mengenang peristiwa G30S.
 
"Sosial, ekonomi, dan politik, ada gap yang luas dan besar sekali. Ini  menjadi ciri khas buat komunis, dan bisa dibentuk dengan cara yang lain," ujar Fahmi Idris di acara Halaqoh kebangsaan di kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI), hari ini.

Terkait mengenai situasi Indonesia kini yang mengalami berbagai permasalahan kebangsaan, menurut Fahmi, ini karena komunis yang ingin merebut kekuasaan kembali.

"Pemberontakan, memanfaatkan situasi, menguasai situasi, ini kekuatan komunis dan komunis ada dimana saja," katanya.
 
"Komunis punya sasaran yang jelas. Unsur-unsur yang bisa membahayakan komunis. Kalau tidak tentara, ya tokoh-tokoh agama. Dua itu saja karena dua itu yang sadar supaya tidak terjadi perluasan (perluasan komunis)," tambahnya.
 
Menurut Fahmi, yang juga pernah menjadi ketua dewan mahasiswa Universitas Indonesia, dulu komunis memang sudah bangkrut, namun kini situasi kembali dibayang-bayangi kemunculan komunis yang ada di Indonesia.
 
"Saya melihat secara langsung, karena dulu aktif memantau, tahun 1998 mirip sekali dengan sekarang," ujarnya.
 
Sependapat dengan Fahmi Idris, Harry Tjan Silalahi, sejarawan dan salah satu pendiri Centre for Strategic and International Studies (CSIS) cara mengatasi kemunculan kembali Partai Komunis Indonesia (PKI) ataupun komunis adalah  dengan kembali kepada Pancasila, sila kelima yaitu, keadilan sosial bagi  seluruh rakyat Indonesia.
 
"PKI memang terlibat dan kita atasi dengan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Harry.
 
Ia mengatakan, Pancasila dan juga peran agama Islam menjadi penting untuk menghadapi komunis yang butuh pertarungan keras.
 
"Jangan mau dipanasin orang luar yang main sensasi. Ini penting, ini mesti secara tenang kita atasi. Kalau tidak ini akan jadi sumber ketegangan di antara kita," ungkapnya.
 
Harry pun memberi saran setiap agama harus mengajari seluruh rakyat  Indonesia untuk memakmurkan dan mengembangkan keadilan sosial.


Penulis: