Tambang Batubara/ Defrizal/Globe Asia
Huadian akan menjadi mitra strategis. Selain itu, ada satu perusahaan asing yang akan masuk melalui rights issue

Huadian Power International Corporation Ltd, salah satu perusahaan energi terbesar asal Tiongkok, akan membeli saham PT Exploitasi Energi Indonesia Tbk (CNKO) minimal senilai US$50 juta atau sekitar Rp470 miliar. Huadian akan membeli saham baru yang diterbitkan Exploitasi Energi melalui penawaran umum terbatas saham (rights issue).

“Huadian akan menjadi mitra strategis kami. Selain itu, ada satu perusahaan asing yang akan masuk melalui rights issue,” ujar Direktur Utama Exploitasi Energi Henry Sitanggang di Jakarta, Selasa (23/10).

Henry enggan menyebutkan nama perusahaan itu. Yang pasti, perusahaan itu menggunakan unit usahanya di Amerika Serikat (AS) dan Eropa untuk masuk ke perseroan.

Exploitasi Energi akan melepas 5,4 miliar (55,9 persen) saham baru melalui rights issue. Harga pelaksanaannya mencapai Rp500 per saham, sehingga total dana yang diraup mencapai Rp2,7 triliun.

Merujuk angka itu, Huadian akan menyerap sekitar 939 juta (17,3 persen) saham rights issue. Pasca-rights issue, total saham Exploitasi Energi bertambah menjadi 9,6 miliar dari saat ini 4,2 miliar. Dengan demikian, porsi saham Huadian pada Exploitasi Energi sekitar 9,75 persen.

Perseroan akan menggunakan dana rights issue untuk mengakuisisi 99,97 persen saham PT Energi Batubara Indonesia (EBI) senilai Rp2,3 triliun. EBI adalah induk usaha beberapa per usahaan tambang dan infrastruktur batubara. Adapun sisanya sebesar Rp400 miliar digunakan untuk modal kerja.

Henry menyatakan, perseroan menargetkan pernyataan efektif rights issue dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) diraih pada November 2012. Dengan demikian, aksi korporasi itu bisa digelar tahun ini.

Selain menjadi pemegang saham, Henry menyatakan, Huadian dan perseroan akan membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Kedua pihak telah meneken nota kesepahaman (MoU).

“Huadian akan menjadi pemegang saham mayoritas JV agar dapat dikonsolidasikan dalam laporan keuangan mereka,” tegas Henry.

Henry menambahkan, JV itu ditargetkan beroperasi tahun depan. Tahap awal, JV akan membangun PLTU berkapasitas 100-150 megawatt (MW) di luar Jawa. Proyek ini menelan dana sekitar US$150-200 juta. Sumber pendanaannya berasal dari ekuitas JV dan pendanaan eksternal.

Menurut dia, perseroan memilih Huadian sebagai mitra strategis karena memiliki kesamaan model bisnis. Selain itu, Huadian cukup berpengalaman menggarap bisnis tenaga listrik.

Henry menuturkan, perseroan berniat menggenjot kapasitas produksi listrik menjadi 1.000 MW dalam lima tahun mendatang. Saat ini, perseroan memiliki PLTU di Pangkalan Bun berkapasitas 2x7 MW.

Perseroan, kata dia, juga tengah membangun dua PLTU di Rengat dan Tembilahan berkapasitas masing-masing 2x7 MW. Konstruksi ditargetkan tuntas pada kuartal IV tahun depan. Ketiga PLTU ini ditargetkan memberikan pemasukan sekitar Rp300 miliar per tahun.

“Kami juga berencana mengakuisisi dua PLTU berkapasitas 2x25 MW dalam waktu dekat,” tegas dia.

Sebagai pelengkap bisnis PLTU, perseroan berencana memulai produksi perdana tambang batubara pada tahun depan. Setelah mengakuisisi EBI, perseroan akan memiliki lima izin usaha pertambangan (IUP) batubara.

“Total cadangan batubara mencapai 200 juta ton. Tahun depan, kami targetkan produksi mencapai 1,2-1,5 juta ton,” tegas dia.

Penulis: /FEB