Perbanas Berikan 7 Rekomendasi Cetak Biru Perbankan Nasional

Raden Pardede (reformed-crs.org)

Oleh: | Kamis, 1 November 2012 | 20:49 WIB
Tujuan cetak biru perbankan nasional adalah memberikan pemikiran kepada otoritas ekonomi dan keuangan, untuk menentukan arah strategi sektor perbankan nasional.

Perhimpunan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) menyiapkan tujuh poin rekomendasi terkait cetak biru perbankan nasional, dalam rangka mendukung perekonomian Indonesia setidaknya hingga 30 tahun ke depan. Rekomendasi tersebut dibuat setelah menelaah berbagai hal di dalam industri perbankan selama ini.

"Setelah kami melakukan observasi sejarah, tren lingkungan perbankan baik di tingkat global dan nasional, kami memberikan rekomendasi," kata Ketua Bidang Pengkajian Perbanas, Raden Pardede, dalam Kongres Perbanas Ke-XVIII di Jakarta, Kamis (1/11).

Perbanas memiliki empat prinsip utama, yaitu Bermanfaat, Aman dan nyaman, Efisien dan efektif, serta Kokoh (BAEK).

Keempat prinsip tersebut, kata Raden, merupakan semangat yang mendasari perbankan nasional agar disegani oleh negara-negara lainnya.

Tujuan cetak biru perbankan nasional adalah memberikan pemikiran kepada otoritas ekonomi dan keuangan, untuk menentukan arah strategi sektor perbankan nasional. Cetak biru tersebut setidaknya mempertimbangkan perkembangan 20 tahun hingga 30 tahun ke depan.

"Sebab itu, industri perbankan memiliki daya tahan dan daya dukung yang kuat terhadap perkembangan ekonomi di masa yang akan datang," katanya.

Berikut tujuh poin rekomendasi Perbanas untuk cetak biru perbankan nasional:
1. Penguatan struktur. Perbankan yang kokoh ditandai dengan ketersediaan sumber daya manusia yang handal, modal yang besar, keuntungan yang berkesinambungan, likuiditas yang terjaga, dan aset yang berkualitas.

2. Pengelolaan bank. Berhadapan dengan perubahan tren lingkungan perbankan yang dinamis serta industri perbankan yang semakin kompetitif, perbankan nasional harus mempersiapkan diri agar mampu menjadi bank yang bermanfaat bagi perekonomian, aman dalam bertransaksi, dan efisien dalam beroperasi.

3. Pelayanan dan perlindungan konsumen. Terdapat perubahan perilaku konsumen sejalan dengan perkembangan pendapatan, peningkatan kelas menengah, perubahan struktur ekonomi, serta perkembangan sektor modern, inovasi, dan teknologi baru. Hal itu menimbulkan tantangan bagi perbankan untuk berinovasi dalam memberikan pelayanan yang nyaman namun tidak melupakan faktor perlindungan.

4. Regulasi dan pengawasan. Rekomendasi mencakup pembuatan peraturan dan penegakannya yang efektif, standar regulasi internasional Basel diterapkan sesuai dengan kondisi lokal, pengawasan yang terintegrasi, menyiapkan sistem peringatan dini dan instrumen penanganan krisis, mekanisme resolusi dan pemulihan saat krisis, pun pembentukan dewan pengawas otoritas keuangan.

5. Pembuatan roadmap penguatan struktur perbankan nasional, dengan membuat rencana aksi dan rencana target waktu pencapaian, serta konsekuensi bila rencana tersebut tidak tercapai.

6. Pendalaman pasar keuangan. Perkembangan sektor perbankan di masa depan tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan dari pasar keuangan.

7. Tata kelola bank. Perbaikan tata kelola bank secara terus-menerus harus dilakukan dan perlu disosialisasikan serta diingatkan dari waktu ke waktu.

Sumber:
ARTIKEL TERKAIT