Seorang pria tengah meminum air dalam kemasan
Konsumsi AMDK masih akan terus meningkat ke depannya. Selain didorong penambahan jumlah penduduk di Indonesia, masyarakat juga semakin banyak memilih untuk mengkonsumsi AMDK dibandingkan air minum biasa, karena lebih praktis

Konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia pada tahun 2013 diperkirakan mencapai lebih dari 21,78 miliar liter, naik 10 persen dibandingkan tahun ini 19,8 miliar liter. Kenaikan tersebut seiring bertambahnya penduduk dan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan air minum yang baik.

“Tahun depan, konsumsi AMDK bisa meningkat minimal 10 persen dibandingkan tahun ini yang kami targetkan 19,8 miliar liter. Hingga Oktober kemarin, realisasi konsumsi masih sejalan dengan target,” kata Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin) Hendro Baroena pada acara Diskusi Air Danone Aqua di Jakarta, Selasa (6/11).

Hendro meyakini, konsumsi AMDK masih akan terus meningkat ke depannya. Selain didorong penambahan jumlah penduduk di Indonesia, masyarakat juga semakin banyak memilih untuk mengkonsumsi AMDK dibandingkan air minum biasa, karena lebih praktis. Konsumsi AMDK terbesar, menurut dia, masih berasal dari Pulau Jawa yang mencapai 40 persen dari total, sementara sisanya sebanyak 60 persen tersebar di Pulau-Pulau di luar Jawa.

“Konsumsi di Pulau Jawa memang tinggi karena tingkat kepadatan penduduknya juga tinggi,” kata dia. Suplai AMDK di dalam negeri, lanjut Hendro, hampir semuanya dipenuhi oleh perusahaan lokal. “Dari kebutuhan AMDK 17,9 miliar liter pada tahun lalu, hanya 2 juta liter yang dipenuhi dari impor, itu pun produk-produk yang memang diperuntukkan bagi kalangan atas. Selebihnya dipenuhi oleh perusahaan nasional,” jelas dia.

Hendro melanjutkan, saat ini ada sekitar 500 perusahaan AMDK yang beroperasi di Indonesia. Dari sekian banyak pemain di industri ini, hanya sekitar 10 perusahaan yang menguasai 60 persen pangsa pasar AMDK, seperti misalnya Aqua, Club, Pure Life, Ades, PrimA, Cleo, dan Vit.

Aqua, menurut dia, masih menjadi yang teratas dalam penguasaan pasar AMDK di dalam negeri. Produk keluaran Danone ini, menguasai 42 persen pangsa pasar AMDK nasional. Meski demikian, penguasaan pasar tersebut lebih rendah dibandingkan beberapa tahun se- belumnya yang pernah mencapai 55 persen.

“Tahun 1997, pangsa pasar aqua sebesar 55 persen, berkurangnya penguasaan pasar Aqua bukan karena volumenya turun, tetapi akibat munculnya pemain-pemain baru di industri    ini,” tutur dia.

Pemimpin Danone Aqua Parmaningsih Hadinegoro mengungkapkan, pihaknya berkomitmen untuk terus memenuhi kebutuhan AMDK di Indonesia. Seiring meningkatnya konsumsi AMDK di Tanah Air, Aqua juga siap menambah kapasitas produksinya di Indonesia.

Saat ini, menurut Parmaningsih, produksi Aqua dipenuhi dari 16 pabrik perseroan yang tersebar di seluruh Indonesia, di antaranya di Sumatera Utara, Lampung, Jawa Barat, Bali, dan Sulawesi Utara.

Penulis: /FEB