Tambang Batubara/ Defrizal/Globe Asia
Sebanyak US$17 juta jatuh tempo pada kuartal IV tahun ini.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) akan membayar utang sebesar US$271 juta yang jatuh tempo pada 2012-2013. Perinciannya, sebanyak US$17 juta jatuh tempo pada kuartal IV tahun ini dan US$254 juta pada tahun depan.

“Kami akan membayar semua utang yang jatuh tempo tepat pada waktunya, “ ujar Direktur Bumi Dileep Srivastava di Jakarta, Selasa (27/11).

Dileep enggan menyebutkan skema pelunasan utang. Dia hanya mengatakan, perseroan tetap berupaya untuk mempercepat pembayaran tranche II dan tranche III utang ke China Investment Corporation (CIC) senilai total US$1,2 miliar. Namun, dia tidak dapat menyebutkan kapan utang itu akan dibayar.

Tadinya, BUMI berencana membayar tranche II utang ke CIC senilai US$600 juta tahun ini. Sedangkan tranche II rencananya dibayar tahun depan. Dua utang itu masing-masing jatuh tempo pada 2014 dan 2015.

BUMI telah mempercepat pembayaran tranche I senilai US$600 juta pada Oktober tahun lalu. Sumber dananya berasal dari pinjaman beberapa bank.

Dalam materi paparan publik BUMI yang dipublikasikan di laman Bursa Efek Indonesia (BEI) disebutkan, BUMI memiliki sejumlah utang utang jatuh tempo hingga 2017. Pada 2014, utang jatuh tempo BUMI mencapai US$1,2 miliar, 2015 sebesar US$1 miliar, 2016 sebanyak US$530 juta, dan 2017 sebesar US$700 juta.

Dileep mengatakan, pengurangan utang menjadi agenda utama perseroan. Untuk itu, fokus perseroan saat ini adalah menambah kas dengan menggenjot volume penjualan. “Kami targetkan volume produksi mencapai 100 juta ton pada 2014,” kata Dileep.

Jual Aset
BUMI, kata dia, juga berencana menjual aset noninti untuk membayar utang. Belum lama ini, BUMI mengumumkan rencana penjualan seluruh kepemilikan saham pada PT Fajar Bumi Sakti (FBS) sebesar 50 persen. Transaksi ini ditargetkan tuntas tahun ini.

FBS memiliki konsesi pertambangan di Load Ulung, Tenggarong, Kalimantan Timur, seluas 988 hektare (ha). Cadangan batubara di lokasi itu sekitar 14 juta ton. BUMI dikabarkan dapat mengantongi dana sebesar US$200 juta dari penjualan saham FBS.

Anak usaha Bumi Plc itu juga tetap membuka opsi untuk melepas sebagian saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRM). Saat ini, Bumi memiliki 87 persen saham BRM.

Emiten berkode saham BRMS itu meupakan lini bisnis BUMI di sektor tambang mineral dan logam. Tahun lalu, perseroan berencana melepas 75 persen saham BRM ke Bumi Plc senilai US$2 miliar. Pembayarannya melalui penerbitan obligasi konversi (conver tible bond/ CB). Namun, rencana itu kandas, seiring memburuknya pasar finansial global. Perseroan enggan menjual CB di harga diskon.

“Dalam dua tahun ke depan kami menargetkan jumlah utang mencapai 1 kali laba sebelum beban bunga, pajak, amortisasi, dan depresiasi (EBITDA),” kata Dileep.

Berdasarkan materi paparan publik insidentil BUMI, perseroan memiliki utang sebesar US$4,1 miliar. Dari jumlah itu, sebanyak US$3,7 miliar merupakan utang perseroan dan sisanya merupakan utang anak usaha.

Utang-utang Bumi terdiri atas obligasi konversi I senilai US$364,7 juta, fasilitas UBS AG senilai US$25 juta, utang ke CIC senilai US$1,3 miliar, guaranteed senior secured notes senilai US$296 juta, fasilitas Credit Suisse senilai US$147 juta, dan guaranteed senior secured notes II senilai US$679 juta.

Terdapat juga fasilitas UBS AG senilai US$75 juta, fasilitas Axis Bank Limited senilai US$178 juta, fasilitas Deutsche Bank sebesar US$146 juta, dan fasilitas China Development Bank sebesar US$594 juta. Fasilitas Credit Suisse Jatuh tempo pada Agustus 2012. Bunga pinjaman itu mencapai LIBOR ditambah 11 persen

Utang BUMI

Kuartal IV-2012 US$17 juta
2013 US$254 juta
2014 US$1,23 miliar
2015 US$1,062 miliar
2016 US$530 juta
2017 US$700 juta

Penulis: