Ilustrasi mesin tekstil
Strategis karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku (serat) sampai dengan barang konsumsi

Jakarta
- Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) merupakan salah satu komoditi andalan industri manufaktur dan menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi nasional. Hal ini dikarenakan kontribusi industri TPT cukup signifikan dalam perolehan devisa ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan peranannya yang strategis dalam proses industrialisasi.

Demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin),  Ansari Bukhari, saat membuka pelatihan SDM industri garmen di Balai Diklat Industri (BDI) Jakarta, Selasa (5/2). “Strategis karena produk yang dihasilkan mulai dari bahan baku (serat) sampai dengan barang konsumsi (pakaian jadi dan barang jadi) mempunyai keterkaitan baik antar industri maupun sektor ekonomi lainnya,” kata Ansari.

Selama tahun 2012, kata dia, industri pengolahan non migas menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada triwulan III 2012, sektor ini membukukan pertumbuhan yang cukup tinggi, sebesar 7,3%. Meskipun industri migas mengalami kontraksi sekitar 5%, namun tingginya pertumbuhan industri pengolahan non migas mengakibatkan sektor industri pengolahan mengalami pertumbuhan sebesar 6,4%.

Dengan ketidakpastian perekonomian dunia yang masih terus berlangsung, kondisi perekonomian Indonesia tetap berjalan dengan pertumbuhan yang cukup tinggi.  Pada triwulan III 2012 pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 6,2%, merupakan pertumbuhan tertinggi kedua di Asia setelah China dan ke-5 tertinggi di dunia.

Menurut Ansari, sampai Oktober 2012, produk TPT memberikan kontribusi nilai ekspor sebesar US$10,4 miliar atau setara dengan 10,7% dari total ekspor non migas, sedangkan nilai investasi industri TPT mencapai Rp2,6 triliun dan penyerapan tenaga kerja pada triwulan kedua tahun 2012 sebanyak 430.000 orang.

Prospek pertumbuhan Industri TPT akan semakin baik dikarenakan permintaan pasar di dalam negeri yang meningkat serta tingginya konsumsi dunia. Peluang Indonesia untuk memanfaatkan pasar dunia akan semakin besar dengan adanya pembatasan masuknya TPT China ke Amerika, Eropa dan beberapa pasar non tradisional Indonesia seperti negara-negara Amerika Latin dan Turkey.

Kondisi ini juga didukung dengan mahalnya biaya tenaga kerja di Pantai Timur China yang merupakan basis industri TPT Tiongkok, sehingga Industri TPT Tiongkok  akan mengalihkan industrinya ke negara lain seperti Bangladesh, Vietnam, termasuk ke Indonesia. “Indonesia bersaing ketat dengan negara-negara tersebut untuk menarik investasi. Biaya tenaga kerja di Indonesia relatif lebih tinggi dari kedua negara tersebut, maka itu Indonesia harus mempunyai keunggulan,” tegas Ansari.

Ia mengatakan, salah satu yang bisa tawarkan adalah penyiapan tenaga kerja yang siap pakai. Oleh karena itu, melalui pelatihan SDM diharapkan kompetensi dan kemampuan tenaga kerja industri yang siap pakai dalam bidang garmen dapat disediakan untuk mendukung produktivitas dan efisiensi yang menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing.

Peluang pasar ekspor sangat terbuka bagi Industri TPT yang mampu menghasilkan produk dengan kualitas tinggi, desain yang up to date dan kemampuan pasok (lead time) yang cepat, sehingga produk TPT Indonesia terus mengalami peningkatan kualitas, yang pada akhirnya Indonesia bukan lagi sebagai produsen produk TPT low end product tetapi lebih ke high end product.

Menurut Ansari, Kemenperin telah melakukan beberapa upaya untuk meningkatkan daya saing industri TPT baik hulu maupun hilir, diantaranya melalui program restrukturisasi permesinan industri tekstil dan produk tekstil, yang telah berjalan sejak tahun 2007 hingga saat ini. Program restrukturisasi mesin merupakan kebijakan prioritas Kemenperin, dengan memberikan potongan harga dan subsidi bunga bagi perusahaan TPT yang akan melakukan peremajaan mesin dan peralatannya.

Setelah dilakukan program restrukturisasi mesin pada industri TPT sejak tahun 2007 sampai 2011, telah terjadi peningkatan investasi sebesar Rp7,87 Triliun, penyerapan tenaga kerja sebesar 55.000 orang, peningkatan produksi sebesar 15–28%, penurunan konsumsi energi sebesar 6–18%, dan peningkatan produktivitas sebesar 7–17%.

Seiring dengan meningkatnya kinerja industri TPT, terjadi juga peningkatan kebutuhan tenaga kerja sektor industri TPT terutama untuk tingkat operator di bidang industri garmen. Untuk menyediakan kebutuhan tenaga kerja tersebut, sejak tahun 2011 Kemenperin bekerjasama dengan Asosiasi Industri Tekstil melakukan program pelatihan, sertifikasi, dan penempatan di Balai Pengembangan SDM Semarang.

Selanjutnya, kata dia, pada tahun 2012 program yang sama juga dilakukan di BDI Jakarta dan BDI Surabaya. Program ini dilaksanakan Kemenperin dalam rangka mendorong pertumbuhan industri TPT.

Selain itu, kebutuhan tenaga kerja sektor industri TPT tidak hanya mengalami peningkatan pada tingkat operator tetapi juga untuk tingkat ahli D1, D2, D3, dan D4.

Hal ini tercermin bahwa data permintaan tenaga kerja tingkat ahli setiap tahun adalah 500 orang, sedangkan Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Kementerian Perindustrian hanya mampu meluluskan 300 orang.

Untuk memenuhi sebagian permintaan atas tenaga kerja tingkat ahli bidang TPT, maka pada tahun 2012 Pusdiklat Industri melaksanakan Pendidikan D1 Tekstil di Balai Diklat Industri Surabaya bekerjasama dengan Asosiasi Pertekstilan Jawa Timur, Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, dan dunia usaha industri TPT di Jawa Timur.

Penulis: /FEB