Ilustrasi ekspor China ke Amerika Serikat.

China juga menikmati surplus dalam perdagangan global, sementara AS terus mengalami defisit.

China telah melampaui Amerika Serikat untuk menjadi negara dagang terbesar di dunia diukur dari nilai ekspor dan impor yang dicatat tahun lalu, dan menciptakan tonggak sejarah baru dalam melawan dominasi AS di perdagangan global sejak berakhirnya Perang Dunia II tahun 1945.

Total ekspor dan impor AS tahun lalu senilai US$3,82 triliun, demikian menurut data Departemen Perdagangan AS yang dirilis pekan lalu. Sedangkan kantor cukai China melaporkan sebelumnya bahwa total nilai perdagangan negara itu US$3,87 triliun.

Sebagai tambahan, China menikmati surplus US$231,1 miliar dalam perdagangan luar negeri, sementara AS mengalami defisit US$727,9 miliar.

Kehadiran China sebagai negara dagang terbesar akan makin meningkatkan pengaruh negara itu dan bisa mengganggu kekompakan kawasan dagang regional di berbagai belahan dunia karena China telah tumbuh menjadi mitra dagang paling penting bagi banyak negara termasuk Jerman, yang pada akhir dekade ini nilai ekspornya ke China akan bernilai dua kali lipat daripada penjualan ke negeri tetangga Prancis, kata analis Goldman Sachs Group Inc.,  Jim O’Neill.

“Bagi banyak negara di seluruh dunia, China dengan cepat tumbuh menjadi mitra dagang bilateral paling penting,” kata O’Neill seperti dilansir Bloomberg.

“Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini, pada akhir dekade nanti banyak negara Eropa akan melakukan hubungan dagang bilateral lebih besar dengan China daripada dengan mitra bilateral mereka di Eropa.”

Kepemimpinan AS
Namun, menurut Bank Dunia, kekuatan ekonomi AS masih dua kali lipat dibandingkan China. Pada 2011, produk domestik bruto (PDB) AS mencapai US$15 triliun sedangkan PDB China senilai US$7,3 triliun.

“Ini luar biasa bagaimana kekuatan ekonomi yang hanya sebagian dari ukuran ekonomi AS bisa memiliki volume dagang lebih besar,” ucap Nicholas Lardy dari Peterson Institute for International Economics di Washington.

“Terlewatinya AS tidak disebabkan oleh rendahnya nilai mata uang yang mendorong terjadinya ledakan ekspor,” kata Lardy, sembari menjelaskan bahwa sebenarnya impor oleh China tumbuh lebih cepat dibandingkan ekspor sejak 2007.

AS sendiri muncul sebagai kekuatan dagang terbesar pasca Perang Dunia II karena negara itu menjadi ujung tombak terciptanya perdagangan global dan arsitektur keuangan dunia, sementara Inggris mulai melepas banyak koloninya.

Sedangkan China mulai fokus ke perdagangan dan investasi luar negeri untuk menggenjot ekonominya setelah selama beberapa dekade terisolasi di bawah rejim Mao Zedong. Pertumbuhan ekonomi China tercatat rata-rata 9,9 persen per tahun dari 1978 sampai 2012.

China Eksportir Terbesar
China menjadi eksportir terbesar di dunia pada 2009, sementara AS masih menjadi importir terbesar, tahun lalu membeli barang senilai US$2,28 triliun dibandingkan impor China US$1,82 triliun.

Sebelumnya HSBC Holdings Plc meramalkan kalau China akan mengambil alih posisi puncak AS sebagai negara dagang baru pada 2016.

Terakhir sebelum ini China dianggap sebagai kekuatan ekonomi besar di jaman dinasti Qing. Bedanya, pada abad ke-18 itu kerajaan Qing tidak fokus pada perdagangan.

Kaisar Qianlong dalam sebuah surat yang dikirim pada 1793 kepada Raja George III di Inggris mengatakan “kami sudah memiliki semuanya. Saya tidak punya nilai atas barang-barang aneh atau barang produksi, dan saya juga tidak bisa memakai hasil pabrik negara anda.”

Meskipun China adalah pengguna energi terbesar, memiliki pasar mobil terbesar di dunia dan juga cadangan devisa paling tinggi, banyak dari perdagangan yang dilakukan China harus melakukan impor bahan mentah atau suku cadang dulu, sebelum dibuat menjadi produk jadi dan diekspor kembali. Hal semacam itu hanya memberi sedikit nilai tambah, kata Eswar Prasad, profesor di Cornell University, New York, dan mantan pejabat IMF.

Perdagangan AS-China
AS mengalami defisit dalam neraca perdagangannya bersama China dan memuncak pada 2012. Prasad mengingatkan kondisi ini bisa memicu tensi di antara dua negara.

“Ketimpangan perdagangan ini tidak betul-betul mencerminkan jumlah barang yang diproduksi di China dan diekspor ke AS, (karena) perspektif ini dibelokkan oleh memanasnya retorika politik di AS,” kata Prasad.

Sedangkan menurut O’Neill, statistik dagang sekarang menggarisbawahi perlunya mendorong China lebih jauh terlibat dalam arsitektur dagang dan keuangan global yang dulu dibentuk AS.

“Betapa pun juga kita harus membuat China lebih terlibat dalam organisasi-organisasi global jaman sekarang dan yang akan dibentuk nanti, terlepas dari keengganan di pihak mereka,” kata O’Neill, dengan memberi contoh dimasukkannya China dalam organisasi mata uang dunia bentukan IMF yang disebut Special Drawing Rights.

“Tidak melibatkan China baik secara simbolis atau secara strategis ke hal-hal seperti ini akan terlihat bodoh,” kata dia.

Penulis: Heru Andriyanto/HA

Sumber:Bloomberg