Pesawat Sukhoi Super Jet 100 mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma.

JAKARTA – Maskapai penerbangan swasta nasional Sky Aviation, yang merupakan maskapai komersil pertama yang akan mengoperasikan pesawat Sukhoi Super Jet 100, siang tadi telah menerima kedatangan pesawat barunya di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma.

General Manager Marketing Sky Aviation Sutito Zainudin menuturkan bahwa pesawat buatan Rusia yang dipesan oleh maskapainya telah tiba. Dan dipastikan pada 8 Maret mendatang, pesawat tersebut sudah dapat dioperasikan.

“Pesawat Sukhoi pertama kami telah datang pukul 11 siang tadi, dan besok, kami akan mengadakan Inaguration Pesawat Sukhoi Superjet 100 PK-ECL Sky Aviation di Bandara Halim,” kata Tito di Jakarta, Rabu (27/2).

Lebih lanjut kata Tito, kedatangan pesawat Sukhoi yang sempat tertunda ini menjadi komitmen bagi maskapai yang mulai mengudara pada 2010 silam. Dalam rangka mempersiapkan kedatangan pesawat barunya tersebut, Sky Aviation sudah melengkapi segala administrasinya. Rencananya, Sukhoi pertamanya tersebut akan ditempatkan di bandara Sultan Hasanuddin, Makassar.

“Kita rencana rute akan dimulai dari Makassar dengan menerbangi kota-kota di wilayah timur, yakni Makassar-Sorong-Jayapura, Makassar-Denpasar, Makassar-Luwuk, Makassar-Balikpapan,” tukasnya.

Dengan menerbangi rute-rute tersebut, Tito mengharapakan tingkat keterisian penumpang (load factor) dapat mencapai 70%, lalu meningkat terus ke depannya.

Tito meyakini rute-rute yang akan diterbangi Sukhoi merupakan rute potensial sehingga lanjutnya, dirinya optimistis dengan rute yang ditempuhnya tersebut.

Pesawat buatan Rusia ini, terdiri dari 87 seat dengan 12 seat di kelas bisnis dan 75 seat kelas ekonomi. “Untuk bisnis kami menyediakan pelayanan full service dan untuk kelas ekonomi pelayanan medium service,” imbuhnya.

Terkait awaknya, Sky Aviation telah menyiapkan 18 orang kru untuk dua pesawat sukhoi. Adapun untuk pilotnya, Tito mengakui Sukhoi akan diterbangkan oleh pilot asing dengan di dampingi pilot asal Indonesia (lokal).

“Karena masih terbatasnya kemampuan orang kita menerbangi pesawat ini maka kita membutuhkan pilot asing yang didampingi oleh pilot kita,nanti setelah kita memiliki orang yang mampu menerbangkan Sukhoi, barulah kita menggunakan pilot lokal sepenuhnya,” kata Tito.

Pada Mei tahun 2012, pesawat Sukhoi Superjet 100 mengalami kecelakaan tragis. Penyebab kecelakaan diduga karena pilot menghiraukan sinyal tanda bahaya bahwa pesawat mendekati gunung. Sebanyak 45 orang, yang terdiri dari jurnalis, klien, dan awak pesawat meninggal.

Investor Daily

Penulis: KEY/FMB

Sumber:Investor Daily