Ilustrasi kawasan industri.

Jakarta - PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) membeli lahan seluas 900 hektare (ha) senilai US$ 145 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun di Gresik, Jawa Timur untuk dibangun kawasan industri.

Saat ini total luas kawasan industri AKR mencapai 2.150 ha. Adapun perseroan telah mengamankan 42 persen kebutuhan lahan atau sebesar 900 ha.

Danareksa Sekuritas dalam laporan risetnya menyatakan, kawasan industri itu merupakan bagian dari pelabuhan terintegrasi AKR.

Upaya ekspansi AKR merupakan langkah positif, karena Jawa Timur kini menjadi wilayah investasi potensial. Sebab, upah minimum provinsi (UMP) wilayah itu lebih rendah dibanding Jakarta.

“Langkah perseroan membangun pelabuhan juga positif, karena bisnis logistik merupakan salah satu bisnis inti AKR, selain distribusi bahan bakar minyak (BBM) dan kimia,” tulis Danareksa, belum lama ini.

Dalam pandangan Danareksa, akuisisi lahan bisa mendongkrak saham AKR berkode AKRA sebesar Rp 570. Sementara pada perdagangan Kamis (21/3), saham AKRA turun Rp 50 ke level Rp 5.450. Sepanjang tahun ini, saham AKRA tumbuh 29 persen, lebih besar dibanding indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sebelumnya, Direktur AKR Suresh Vembu mengakui, perseroan berniat membangun pelabuhan dan kawasan industri di Jawa Timur. Namun, dia enggan menjelaskan lebih jauh rencana itu.“Semua masih dibahas oleh perseroan. Nanti kami akan buat pengumuman jika ada perkembangan terbar u,” kata Suresh, baru-bar u ini.

Berdasarkan riset OSK Nusadana Securities, luas kawasan industri dan pelabuhan AKR mencapai 2.500 ha. Total investasinya berkisar Rp 8- 9 triliun. Pelabuhan AKR dilengkapi rel kereta api ganda sepanjang 9 ki- lometer (km) dan jalan tol sepanjang 3-4 km.

Pelabuhan itu akan dibangun anak usaha perseroan, PT Usaha Era Pratama Nusantara (UEPN), dengan menggandeng mitra strategis. Pendanaannya berasal dari ekuitas JV dan dana eksternal.

AKR dikabarkan menggandeng PT Pelindo III untuk membangun pelabuhan, dengan membentuk perusahaan patungan (joint venture/ JV). Sebanyak 40 persen saham JV itu dimiliki AKR, sedangkan 60 persen dikuasai Pelindo III.

Penjualan BBM AKR tahun lalu mencapai Rp 17,5 triliun, tumbuh 17,7 persen dibandingkan 2011. Volumenya naik 5,3 persen menjadi 2,15 juta kiloliter (kl). Danareksa merekomendasikan buy saham AKRA dengan target harga Rp 5.700. Target itu merefleksikan PER 2013 dan 2014 sebesar 27,8 kali dan 14,7 kali.

Investor Daily

Penulis: COY/WBP

Sumber:Investor Daily