ilustrasi wijaya karya
Wijaya Karya termasuk emiten konstruksi yang sukses melakukan diversifikasi usaha.

Jakarta -
Diantara perusahaan infrastuktur dan konstruksi, nama PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) sangat diperhitungkan. Didirikan untuk menggeluti bisnis konstruksi di bidang energi, kini WIKA mulai merambah berbagai sektor usaha, seperti energi kelistrikan, jalan tol, pelabuhan, dan pengairan.

Jembatan Surabaya Madura (Suramadu) yang membentang sepanjang 5,4 kilometer (km) dari Surabaya ke Pulau Madura, adalah salah satu contoh proyek besar yang dikerjakan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA).

Sejumlah proyek jalan dikerjakan WIKA seperti jalan layang Pasupati Bandung, dan jalan layang Cikubang  Tol Cipularang dengan pilar tertinggi di Indonesia. Tak cuma jago kandang, BUMN konstruksi ini juga membangun sejumlah proyek di luar negeri. Salah satunya proyek jalan tol di Algeria, Afrika 
 
Wijaya Karya termasuk emiten konstruksi yang sukses melakukan diversifikasi usaha. “Saat emiten konstruksi lain baru mulai melakukan diversifikasi, WIKA sudah berhasil menjalaninya dengan baik,” papar analis Bahana Securities, Anthony Alexander.

WIKA memang memiliki diversifikasi bisnis cukup banyak. Perusahaan konstruksi ini juga masuk di bisnis produksi beton. Selain itu, perusahaan pelat merah ini juga agresif mengembangkan proyek pembangkit listrik.

Bahkan, kontribusi pendapatan dari bisnis non-konstruksi cukup besar. Bisnis produk beton dan realty menyumbang pendapatan sebesar Rp 1,21 triliun, setara 30,14 persen dari total pendapatan di semester pertama 2012. Sementara bisnis mekanikal-elektrikal menyumbang pendapatan Rp 1,43 triliun, dari total pendapatan Rp 4,02 triliun.

Melihat potensi proyek infrastrukktur di berbagai daerah di Indonesia, analis optimis, kinerja WIKA akan tetap kinclong. Apalagi, emiten ini berpeluang memperoleh proyek besar. Lewat konsorsium dengan perusahaan Jepang, Obayashi, WIKA menjadi salah satu nominasi pemenang tender pembangunan terowongan bawah tanah untuk proyek MRT.

Proyek terowongan ini merupakan bagian dari tahap pertama MRT, yakni rute Lebak Bulus-Bundaran HI. Panjang proyek ini 15,1 kilometer. Total nilai proyek tersebut mencapai Rp 4 triliun-Rp 4,5 triliun. WIKA  mengikuti tender untuk dua paket dari tiga paket yang ada. Rencananya proyek mulai berjalan di awal 2013 hingga akhir 2016.

Melihat kinerja yang cemerlang di tahun 2012, WIKA menargetkan dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja sebesar 20 persen pada tahun 2013 dengan adanya beberapa kontrak dan proyek dari pihak pemerintah maupun swasta. Direktur Utama Wika, Bintang Perbowo mengatakan, kontrak baru perseroan yang cukup besar berasal dari proyek minyak dan gas dari swasta, proyek pembangkit listrik, jembatan dan bendungan. Komposisi perolehan kontrak baru tersebut, lanjut dia sebesar 20 persen berasal dari proyek pemerintah, 30 persen dari proyek BUMN, dan sisanya disumbang dari swasta.

Dengan adanya perolehan kontrak baru tersebut, pihaknya berharap dapat mencatatkan pertumbuhan kinerja mencapai 20 persen pada 2013.                                        

Dalam kinerja perusahaan ke depan, perusahaan mengharapkan pertambahan proyek dari pemerintah dan BUMN sehingga mencapai 60 persen dibandingkan saat ini, sedang selebihnya dikontribusikan oleh swasta. Sebelumnya perseroan telah menggarap proyek pembangkit listrik antara lain PLTA Bali sebesar 50 MW, Ambon 25 MW, Rengat 20 MW, dan Borang 30 MW.

Selain itu, perseroan telah memperoleh kontrak pembangunan jalan Oksibil Dekay senilai Rp 206,68 miliar, proyek Betano di Timor Leste senilai Rp 93,81 miliar, proyek precast concrete piperack senilai Rp 81,72 miliar, dan proyek pembangunan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia senilai Rp 36,53 miliar pada Oktober 2012.
     
Menurut Anthony Alexander, Saham Wika terus menunjukkan valuasi yang tinggi. Hal tersebut dipengaruhi   rencana ekspansi dan investasi yang terus dilakukan WIKA. Selain itu, laba perusahaan yang terus meningkat juga membuat perusahaan platmerah tersebut layak untuk dilirik oleh para investor di tahun ini. 

Bahana Securities memberi rekomendasi buy untuk saham perusahaan milik pemerintah tersebut. Pasalnya, emiten yang listing dengan kode WIKA ini, mampu menyerap proyek-proyek pemerintah, yang anggaran belanjanya terus meningkat dari tahun ke tahun.
    
Selain itu, WIKA juga berhasil melakukan ekspansi pada proyek EPC (Enegineering, Procurement, and Construction) serta mampu melakukan efisiensi kinerja. “Kami perkirakan target harga saham di tahun 2013 akan mencapai Rp 1.900 dengan perkiraan Price to Earning Ratio hingga 20 kali, dan termasuk saham premium untuk sektor konstruksi,” ungkapnya.


Penulis: