Hary Tanoe

Jakarta - Di tengah pertarungan kubu Grup Bakrie dan Samin Tan melawan Nathaniel Rothschild, konglomerat Hary Tanoesoedibjo masuk ke Bumi Plc dengan membeli saham milik Grup Recapital.

Masuknya bos MNC Group itu diperkirakan menguntungkan Grup Bakrie menjelang RUPS Bumi Plc pada 21 Februari 2013.

Kalangan analis memperkirakan, rapat umum pemegang saham (RUPS) menjadi arena pertarungan hebat kepentingan Grup Bakrie dan Samin Tan (PT Borneo Lumbung Energi Tbk) melawan Rothschild. Salah satu agenda RUPS adalah persetujuan terhadap resolusi yang diusung Rothschild terkait perombakan dewan direksi Bumi Plc.

“Aksi Hary Tanoe di Bumi Plc saat ini bisa menguntungkan Grup Bakrie. Bahkan, aksi itu bisa menandai dimulainya kongsi Bakrie - Hary Tanoe. Beberapa aset Bakrie kan sudah dilepas ke Hary Tanoe, hanya kami tidak tahu apa deal di balik itu semua. Y\ng tahu hanya mereka," kata analis Millenium Danatama Asset Manageemnt Desmon Silitonga, di Jakarta, Senin (18/2).

Bumi Plc merupakan perusahaan yang tercatat di Bursa Efek London, Inggris. Selain saham yang dijual oleh Grup Recapital, saham Bumi Plc dimiliki oleh Grup Bakrie, PT Borneo Lumbung Energi Tbk, Nathaniel Rothschild, dan publik.

Sebelumnya, regulator pengambilalihan perusahaan di Inggris The Takeover Panel membatasi hak suara (voting) Grup Bakrie, Samin Tan, dan Recapital (Rosan Roeslani) di Bumi Plc menjadi hanya 29,9 persen dari “seharusnya” 50,3 persen. Pasalnya, The Takeover Panel menilai tiga pihak itu cenderung satu suara.

Adapun total kepemilikan saham Grup Bakrie, Samin Tan, dan Recapital sebelum dijual di Bumi Plc mencapai 60,6 persen. Grup Bakrie dan Samin Tan masing-masing memiliki 23,8 persen saham Bumi Plc. Setelah saham milik Recapital dijual, Grup Bakrie dan Borneo menguasai 47,6 persen saham. Meski secara kepemilikan mencapai 47 persen, namun tetap secara hak suara hanya mempunyai 29,9 persen di Bumi Plc.

Sementara itu, Nathaniel Rothschild memiliki 12 persen saham Bumi Plc. Namun, dalam hak suara, Rothschild dan sejumlah mitranya diklaim memiliki 25,2 persen.

Bumi Plc mengendalikan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Berau Coal energy Tbk (BRAU), aset pertambangan batubara di Indonesia yang sangat strategis. Belakangan, kubu Grup Bakrie dan Samin Tan terlibat konflik melawan Rotschild yang dituding ingin menguasai Bumi Plc sekaligus BUMI dan BRAU.

Desmon mengatakan, investor lebih suka BUMI cerai dengan Bumi Plc. "Investor sudah tahu akal bulus Nathaniel Rothschild. RUPS Bumi Plc akan seru,” ujar dia.

Namun, analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan, penjualan saham Bumi Plc oleh Recapital belum cukup untuk menggeser dominasi Rothschild. “Kecuali, Recapital mengajak investor baru untuk masuk ke Bumi Plc tanpa mengurangi hak suara. Jika seperti itu, penjualan saham Bumi Plc oleh Recapital untuk memenangkan Grup Bakrie di RUPS Bumi Plc,” katanya.   

Langkah Hary Tanoe masuk ke Bumi Plc menarik perhatian publik di tengah memuncaknya konflik antara kubu Grup Bakrie dan Nathaniel Rothschild, menjelang RUPS Bumi Plc pada 21 Februari 2013. Jalan masuk bos Media Nusantara Citra (MNC) Hary Tanoe ke Bumi Plc terbuka, setelah Gr up Recapital menjual 24,2 juta (13 persen) saham Bumi Plc ke tiga pihak.

Pihak pertama yang membeli saham Bumi Plc dari Grup Recapital adalah Flaming Luck Investments Ltd milik Hary Tanoe, sebanyak 3 juta (1,6 [persen). Pihak kedua adalah Avenue Luxembourg SARL, yang mengakuisisi 13,6 juta (7,3 persen) saham Bumi Plc. Sedangkan yang ketiga adalah Argyle Street Management Ltd, yang membeli 7,53 juta (4 persen) saham.

Avenue Luxembourg merupakan unit usaha Avenue Capital Group, perusahaan investasi global asal Amerika Serikat. Avenue memiliki 10 persen saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), perusahaan properti milik Grup Bakrie. Sedangkan Argyle Street Management adalah perusahaan investasi asal Hong Kong.

Grup Recapital tidak menyebutkan nilai penjualan 13 persen saham Bumi Plc kepada Avenue, Argyle, dan Hary Tanoe. Rosan Roeslani yang merupakan salah satu pendiri Grup Recapital tidak dapat dikonfirmasi. Begitu juga dengan Hary Tanoe.

Ekspansi Hary Tanoe
Aksi Hary Tanoe membeli aset perusahaan milik Grup Bakrie belakangan makin gencar. Pengusaha dan politikus itu mengakuisisi ruas tol milik PT Bakrie Toll Road (BTR), anak usaha PT Bakrieland Development Tbk, serta perusahaan properti milik Grup Bakrie.

Ruas tol itu adalah Kanci-Pejagan (35 km), Pejagan-Pemalang (57 km), Pasuruan-Probolinggo (45,3 km), Batang-Semarang (75 km), dan Ciawi- Sukabumi (54 km). Enterprise value atas divestasi aset tol tersebut sekitar Rp 2 triliun.

Selain ruas tol, Hary Tanoe mengambil alih Lido Lakes Resort, aset Grup Bakrie lainnya di bawah PT Lido Nirwana Parahyangan, anak usaha Bakrieland. Enterprise value resor yang bakal dihubungkan oleh ruas tol Ciawi- Sukabumi itu diperkirakan senilai Rp 900 miliar hingga Rp 1 triliun.

Hary Tanoe melalui MNC juga disebut-sebut mengincar mayoritas saham PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), peusahaan media yang dikendalikan oleh Grup Bakrie. Visi Media adalah pemilik TV One, ANTV, dan Vivanews.

Hary Tanoe mendapat pesaing berat dari CT Corp, perusahaan yang dikendalikan oleh Chairul Tanjung. CT Corp melalui Trans Corp memiliki Trans TV, Trans 7, dan situs berita Detikcom. Pesaing lainnya adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek), perusahaan milik keluarga Sariatmadja yang mengelola SCTV dan Indosiar.

Grup Bakrie dikabarkan berencana melepas 51 persen saham Visi Media. Grup Bakrie sedang mencari penawaran tertinggi dari para calon pembeli, dengan valuasi Visi Media saat ini diperkirakan US$ 1,2-2 miliar. Adapun kapitalisasi pasar saham Visi Media di Bursa Efek Indonesia (BEI) sekitar US$ 845 juta.

Belakangan, bos VIVA Aburizal Bakrie (Ical) membantah akan menjual perusahaannya. Namun, seorang pengusaha membenarkan adanya pem-bicaraan mengenai penjualan VIVA dengan Anindya Novyan Bakrie, putra sulung Ical.

Penulis: Jauhari Mahardhika / Novy Lumanauw/WBP

Sumber:Investor Dialy