Sejumlah Tokoh Akan Bawa Misi Kerukunan Beragama Keliling Eropa i

Menteri Agama Alwi Shihab memberikan keterangan pers menanggapi pandangan politik luar negeri yang diusung Capres Joko Widodo dengan mendukung kemerdekaan Palestina di Cikini, Jakarta, Jumat (27/6). Alwi Shihab menyatakan apresiasi terhadap tekat Jokowi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.

Oleh: Novi Setuningsih / FMB | Jumat, 17 Maret 2017 | 17:53 WIB

Jakarta - Memperkenalkan kerukunan di Indonesia, sejumlah tokoh agama akan mengadakan diskusi keliling ke sejumlah negara di Eropa dan Amerika Serikat, mulai 28 Maret sampai 11 Mei 2017. Demikian dikatakan pendiri Institut Leimena, Jakob Tobing saat ditemui di Istana Wakil Presiden (Wapres), Jakarta, Jumat (17/3).

Menurut Jakob, Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar sekaligus sebagai negara dengan keanekaragaman suku, budaya patut dikenal oleh banyak negara di dunia. Apalagi, dengan keragaman tersebut mampu menjaga persatuan.

"Sering agama-agama itu dilihat secara apriori, pokoknya kalau yang ada di Timur Tengah itu adalah Islam. Yang paling besar itu di Indonesia kok malah tentunya bisa rukun walaupun ada gejolak sana-sini sedikit begitu. Tetapi, kita ingin perlihatkan karena kadang ini kan luput dan kita katanya kan terlalu baik jadi tidak kelihatan," ungkap Jakob.

Oleh karena itu, ungkapnya, misi yang akan dibawa oleh para tokoh agama, seperti Alwi Shihab, Azumardy Azra dan Syafii Maarif adalah memperkenalkan dan berbagi mengenai kerukunan yang mampu dibangun di Tanah Air.

Namun, lanjutnya, dalam diskusi keliling tersebut tidak hanya akan menghadirkan pembicara atau tokoh muslim. Tetapi, juga tokoh kristen yang akan berbagi mengenai kerukunan hidup beragama di Indonesia.

"Rombongan itu sendiri mencerminkan Muslim dan Kristen bicara tentang bagaimana kerukunan agama, bagaimana Islam moderat Indonesia sangat berperanan, bagaimana nasionalisme Indonesia itu satu tiang pancangnya adalah umat beragama yang toleran dan inklusif di Indonesia," ujarnya.

Menambahkan, cendikiawan Muslim, Amin Abdullah mengungkapkan bahwa dalam diskusi yang akan digelar nantinya tidak hanya satu arah. Dalam artian, juga mendengar pengalaman dari kelompok atau komunitas yang hadir.

"Dua belah pihak karena nanti itukan juga akan ada komunitas akademisi, mungkin juga jurnalis, politisi, agamawan di setiap kota itu. Sehingga kita dialog informal, bukan pidato atau kuliah tapi dialog informal," ungkapnya.

Namun, pengajar di UIN Yogyakarta ini menekankan bahwa misi yang dibawa adalah memperkenalkan konsep Islam moderat yang ada di Tanah Air kepada dunia.

Ketika ditanya tujuannya menemui Wapres Jusuf Kalla (JK), Amin mengungkapkan untuk meminta dukungan sekaligus masukan yang bersangkutan selaku tokoh yang sangat berperan terhadap terciptanya perdamaian di sejumlah daerah di Tanah Air.

"(Pak JK) memberian masukan-masukan apa dan bagus kenapa kita begini karena prakteknya kita itu sudah begini (rukun antar umat beragama). Jadi, bukan hal yang aneh betul tetapi yang diceritakan ya apa adanya gitu. Wapres juga menekankan bagaimana hari libur semua agama ada, mana ada itu di negara lain dan itu kan luar biasa yang sudah mendarah daging. Beliau mendukung lah yang jelas," katanya.

Lebih lanjut, Amin mengungkapkan sebagai tindaklanjut dari diskusi, rencananya akan digelar pre summit meeting di Yogyakarta, pada tahun 2018.

Sebagaimana diketahui, JK memang berperan besar dalam terciptanya kerukunan di sejumlah daerah konflik di Tanah Air. Sebut saja, Ambon, Poso dan Aceh.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT