Turki Ancam Gelar Aksi Massa Lagi di Jerman

Recep Tayyip Erdogan. (AFP Photo/Adem Altan)

Oleh: Natasia Christy Wahyuni / WIR | Senin, 20 Maret 2017 | 15:40 WIB

Ankara - Turki menyatakan para menterinya kemungkinan bisa merencanakan aksi massa lagi di Jerman menjelang referendum pada 16 April mendatang. Langkah itu dipastikan bisa meningkatkan ketegangan antara Ankara dan Berlin.

Hal itu disampaikan oleh juru bicara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, dalam wawancara dengan CNN Turki hari Minggu (19/3). Sebelumnya, Kalin mengkritik otoritas Jerman karena mengizinkan Partai Pekerja Kurdi (PKK) yang dilarang, untuk menggelar aksi massa di Jerman.

Sekitar 30.000 demonstran pro-Kurdi berkumpul di pusat kota Frankfurt pada Sabtu (18/3) untuk berunjuk rasa melawan referendum oleh Erdogan. Mereka menolak Turki memberikan kekuasaan lebih besar kepada sang presiden. Para demonstran di kota Jerman tersebut menyerukan “Erdogan teroris” dan “Pembebasan untuk Ocalan”, merujuk kepada pemimpin kelompok militan PKK yang dipenjarakan, Abdullah Ocalan.

“Kami mengutuk keras otoritas Jerman karena mengizinkan demonstrasi oleh para pendukung teroris PKK,” kata Kalin.

Polisi Frankfurt beralasan aksi protes itu berjalan damai dan sebagian besar pengunjuk rasa telah memenuhi hukum Jerman. Turki telah terlibat dalam perselisihan diplomatik dengan Jerman dan Belanda setelah kedua negara itu mencegah para menteri Turki untuk menghadiri aksi massa bagi para warga Turki di sana, dengan alasan keamanan.

Erdogan merespons situasi itu dengan menyebut Jerman mepraktikkan Nazi dan menyalahkkan Belanda atas pembantaian Srebrenica tahun 1995 di Bosnia. Erdogan juga mengancam akan mengirimkan 15.000 migran ke Uni Eropa, serta akan membatalkan kesepakatan pada Maret 2016 untuk mengurangi aliran pengungsi ke Eropa.

Jerman adalah rumah bagi lebih dari tiga juta warga asli Turki, tempat hampir setengah dari mereka memiliki hak suara untuk referendum.

Turki juga menuding Jerman mendukung jaringan ulama Fethullah Gulen yang berbasis di Amerika Serikat (AS). Erdogan menuding Gulen sebagai otak di balik upaya kudeta militer tahun lalu.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT