Fahmi saat berbuka puasa bersama teman-temannya.
"Pada prinsipnya sama saja dengan Indonesia hanya di sini (Jerman) kami (muslim) adalah kaum minoritas."

Bagi masyarakat Indonesia yang sudah terbiasa menjalankan ibadah puasa di negeri sendiri, memiliki tantangan besar saat harus menjalankannya di negeri orang. Apalagi jika berada di negeri dengan komunitas muslim minoritas.

Seperti yang dialami Fahmi Rizanul, warga Indonesia yang sudah 14 tahun tinggal di Jerman. Fahmi tinggal di Jerman sejak melanjutkan kuliahnya hingga kini bekerja di salah satu perusahaan ternama di Eropa.

Awalnya, Fahmi mengaku merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan kultur Jerman yang tidak mengenal suasana Ramadan. Namun seiring berjalannya waktu, sebagai kaum minoritas, ia dan rekan-rekannya mulai membiasakan diri.

"Pada prinsipnya sama saja dengan Indonesia hanya di sini (Jerman) kami (muslim) adalah kaum minoritas jadi sudah biasa melihat orang lain makan dan minum di tempat umum saat Ramadan tiba," tulis Fahmi kepada Beritasatu.com melalui surat elektronik.

Menurut Fahmi, suasana Ramadan di Jerman sangat berbeda dengan di Indonesia. Jika di tanah air, sebelum Ramadan sudah didengung-dengunkan melalui televisi dan media lainnya, di Jerman berjalan seperti hari-hari biasa.

"Kalau terasa suasana Ramadan ya di lingkungan masjid atau di komunitas-komunitas Islam," terang Fahmi yang saat ini menetap di Munich.

Satu hal tantangan terberat dalam menjalankan puasa di Jerman adalah lamanya waktu berpuasa. Menurut Fahmi, hampir setiap Ramadan jatuh pada musim panas, sehingga waktu siang lebih lama dari biasanya.

"Bulan puasa hampir setiap tahun ada di musim panas, jadi kami berpuasa dari jam 3 pagi hingga 9 malam. Kalau jatuhnya saat musim dingin, waktu puasa jadi lebih pendek, dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Tapi untuk bisa jatuh di musim dingin, mungkin butuh waktu 10 tahun lagi, mengingat pergeseran hitungan kalender Islam dan konvensional," tulis Fahmi lebih lanjut.

Meski dihadapkan pada kultur yang berbeda, namun untuk urusan makanan, Fahmi mengaku, kaum muslim di Jerman tidak terlalu mengalami kesulitan. Sebab banyak restoran yang pemiliknya para pendatang dari Turki dan negara-negara penganut muslim mayoritas lainnya beroperasi di Jerman.

Kesulitan mencari makanan hanya pada saat santap sahur. Sebab jarang restoran yang buka dini hari. Karena itu ia harus membeli makanan di malam hari usai berbuka.

Dalam menjalankan tarawih, sejumlah umat muslim di Munich, menurut Fahmi tidak terlalu mengalami kesulitan, sebab ada beberapa masjid yang menyelenggarakan salat tarawih.

"Tapi suasanannya ya seperti hari-hari biasa saja, normal karena memang mayoritas penduduknya non muslim. Kalau tarawih karena jatuhnya hampir tengah malam, belakangan memang jarang yang berjamaah di masjid. Rata-rata salat masing-masing karena sudah terlalu larut," tulis Fahmi lagi.

Meski terasa berat, namun Fahmi dan rekan-rekan sesama muslim lainnya di Munich menjalani puasa dengan penuh kenikmatan. Apalagi rekan-rekan warga Jerman yang non muslim tetap menghargai orang-orang yang berpuasa.

"Pengetahuan agama Islam mereka memang kurang jadi mereka suka bertanya kenapa harus puasa dan sampai berapa lama. Kami berusaha menjelaskannya dengan semudah mungkin untuk dimengerti," tulisnya lagi.

Penulis: /FMB