Penghargaan JFFF untuk 3 Perempuan Berdedikasi Terhadap Fashion

Penghargaan JFFF untuk 3 Perempuan Berdedikasi Terhadap Fashion
Ghea Panggabean ( Foto: Nadia Felicia/Beritasatu.com )
/ WEB Minggu, 27 Mei 2012 | 00:43 WIB
Penghargaan untuk 3 tokoh terpilih yang dianggap menjadi untuk yang berkarier di bidang fashion.

Di ajang 9th Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF), kembali dilangsungkan acara penghargaan Fashion Icon Awards (FIA) kepada insan-insan yang dianggap pantas mendapat penghargaan atas dedikasinya terhadap fashion di Indonesia.

FIA kali ini merupakan penghargaan keenam yang diselenggarakan JFFF. Penghargaan ini dibuat khusus untuk tokoh-tokoh yang dianggap memberi kontribusi berarti bagi perkembangan industri mode di Indonesia.

Kepedulian para ikon ini terhadap fashion di Indonesia memberi jalan bagi banyak penerusnya untuk berkembang dan berkarya. Pemilihan tokoh yang dianggap pantas diberikan penghargaan dilakukan melalui penjurian oleh 12 pakar yang punya andil dalam dunia mode.

Ke-12 juri tersebut adalah: Alm. Muara Bagdja, Dian M Muljadi, Enny Soekamto, Firman Ichsan, Irma Hardisurya, Martha Tilaar, M Alim Zaman, Ninuk Mardiana Pambudi, Okky Asokawati, Poppy H Isman, Ria Lirungan, dan Taruna K Kusmayadi. 

Setelah melalui tahapan penilaian, terpilih 3 tokoh yang diberikan penghargaan tersebut. Untuk masing-masing kategori, mereka adalah;

Kategori Lifetime Achievement Award: Nian S Djumena
Diberikan penghargaan selaku pemerhati dan pelestari jejak batik melalui penulisan literatur.

Perempuan kelahiran 11 Desember 1928 ini menuntut ilmu di Belanda mengenai tekstil. Kecintaannya terhadap kain batik dan tenun menular dari ibu dan neneknya yang adalah pengkoleksi kain, juga dari ayahnya yang adalah pedagang tekstil. 

Berawal dari hobi, membuat Nian menelusuri tentang filosofi, kaitan, persamaan, dan mencari tahu lebih banyak tentang kain. Pengetahuan-pengetahuannya itu kemudian dituangkan dalam bentuk literatur. Tahun 1996, Nian meluncurkan buku pertamanya, Ungkapan Sehelai Batik, dan beberapa buku lain tentang kain Indonesia juga dibuatnya.

Kategori Heritage: Ghea Panggabean
Sebagai perancang fashion dengan kreasi kreatif yang mengangkat kain daerah.

Perempuan kelahiran Rotterdam, Belanda, 1 Maret 1955 ini mendalami bidang fashion di Inggris. Meski lama di luar negeri, Ghea tetap memilih Indonesia sebagai identitas desainnya.

"Saya terharu atas pemberian penghargaan ini. Semoga penghargaan ini bisa memacu saya untuk berkarya. Setelah 30 tahun berkarya dengan mengangkat dan menggali warisan nenek moyang. Saya gembira dengan berkembangnya industri fashion Indonesia hingga sekarang," kata Ghea usai menerima penghargaan di panggung JFFF. 

Kategori Non Heritage/Fashion Support: Sjamsidar Isa
Sebagai pelopor institusi desainer dan pengelola acara mode di Indonesia.

Memulai pekerjaan di bidang fashion sebagai asisten perancang kain dan motif Iwan Tirta, perempuan kelahiran Palembang, 24 Januari 1946 ini terus berkiprah di bidang fashion.

"Saya dan beberapa teman perancang membuka Studio One, perkumpulan desainer, pada tahun 1975. Pada waktu itu kami mencari cara bagaimana untuk menjual pakaian. Kami kemudian berpikir untuk melakukan fashion show dengan modal seadanya. Terus melakukan hal tersebut, pada tahun 1985 barulah ada perhatian kepada perancang," jelas perempuan yang biasa dipanggil Bu Tjamy ini.

Di malam pemberian penghargaan tersebut, ia sempat mengungkap, "Penghargaan ini bukan untuk saya sendiri, tetapi untuk masyarakat mode Indonesia. Tak terbayang oleh saya pada tahun 1975 fashion Indonesia akan berkembang sangat luas seperti ini. Desainer Indonesia saat ini sudah sangat memperhatiakn kerajinan dan budaya Indonesia. Itu adalah kekuatan dan kebanggaan kita. Kita punya budaya yang sungguh luar biasa."
CLOSE