Pertunjukan Women On, Mendobrak Persepsi Soal Wanita

Pertunjukan Women On, Mendobrak Persepsi Soal Wanita
Koreografi Women On karya Dwi Windarti dalam pementasannya di Taman Budaya Surakarta (TBS), Jum'at (16/11) malam dengan dukungan Yayasan Kelola dalam program Empowering Women Arts. ( Foto: SP/ IMRON ROSYID )
Sabtu, 17 November 2012 | 09:31 WIB
Women On, merupakan hasil proses kreatif Winda dengan dukungan Yayasan kelola dalam program Empowering Women Arts. 

Bagi sebagian perempuan, menikah kerap dijadikan alasan untuk meninggalkan wilayah publik. Karier atau pekerjaan yang pernah dibangun sebelumnya ditanggalkan berganti dengan urusan domestik rumah tangga. Mengurus rumah tangga merupakan satu-satunya kewajiban yang musti dilakukan.
 
Di tradisi Jawa ada adigium bahwa perempuan itu kodratnya adalah macak, masak dan manak. Macak alias merias diri untuk kepentingan si suami, masak yang diartikan menyiapkan keperluan sehari-hari seisi rumah dan manak alias melahirkan anak. Padahal sesungguhnya, hanya manak lah yang merupakan kodrat.
 
Tema "melawan budaya patriarki" nampaknya masih menjadi sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, termasuk di kalangan seniman. Koreografer perempuan Dwi Windarti salah satu yang konsisten mengangkat isu-isu perempuan di atas panggung pertunjukkan.

Selama dua hari berturut-turut, Jum'at (16/11) dan Sabtu (17/11), koreografer jebolan ISI Solo ini menyuguhkan karya terbarunya berjudul Women On di Taman Budaya Surakarta (TBS).
 
"Women On ini sebenarnya lebih merupakan refleksi atas perjalanan hidup saya sebagai seorang seniman yang kemudian menikah dan memiliki anak. Sebagai perempuan saya memiliki kodrat untuk melahirkan, tetapi di sisi lain saya juga seorang seniman yang harus berkarya. Saya tidak mungkin meninggalkan dua hal itu tetapi bagaimana menyeimbangkan," kata Winda.
 
Menurut Winda, tidak mudah sebagai seorang perempuan pekerja seni pertunjukan menyimbangkan dua hal yang disebutnya sebagai kewajiban itu. Kewajiban di keluarga yang merupakan wilayah domestik dan kewajiban profesi sebagai seniman di wilayah publik.
 
"Menjalani kehidupan berkesenian dan kehidupan sebagai ibu rumah tangga merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain, tidak untuk saling mengalahkan. Justru memunculkan kesadaran untuk menyeimbangkan sebagai kesatuan yang utuh yang menurut saya itu lah yang namanya hidup," kata Winda.
 
Women On, merupakan hasil proses kreatif Winda dengan dukungan Yayasan kelola dalam program Empowering Women Arts.  Empat penari perempuan masing-masing Putri Pramesti, Agustina Intan, Ika Nurdita Larasanti, dan Yustiana Petricia Rosalina sebagai pendukung garapan yang berdurasi 40 menit ini.
 
Winda membagi pertunjukannya dalam empat babak sesuai titik-titik krusial perjalanan kehidupan. Sebuah layar rasaksa berisikan gambar aneka gambar peralatan rumah tangga menjadi backdrop panggung. Di antara gambar peralatan rumah tangga yang didominasi piranti memasak itu, bermunculan sangkar burung.
 
Empat penari berdiri sejajar dengan posisi sigap ala militer dan melakukan gerakan-gerakan gymnastic. Ekpresi mukanya berubah-ubah, sedih, gembira, lucu, bersungut, riang. Suatu pembukaan koreografi dengan tempo yang cukup lamban dan begitu banyak repitisi gerakan.

Sebagai penari yang dibesarkan di lingkungan tradisi Jawa yang kental, koreografi Women On rasanya terlalu lepas dari vocabulary gerakan-gerakan tari Jawa. Unsur gerakan dansa justru lebih terasa dalam beberapa adegan.  Mungkin itu buah pengalaman Winda bergelut dengan penari-penari kontemporer termasuk ketika dia menjalani workshop di Venesia, Italia.
 
Panggung teater Arena Taman Budaya Surakarta juga terasa begitu luas untuk empat penari.  Winda yang detail dalam menggarap gerak, agak kedodoran memperhatikan bloking penarinya membuat penonton menjadi kehilangan fokus. Empat buah kotak bujur sangkar yang dibuat untuk penari terasa hanya menjadi tempelen ketimbang simbol ruang atau ruang di dalam rumah tangga yang menjadi bagian dari perjalan hidup Winda.
 
Sebagaimana perjalanan hidup sang koreografi yang masih panjang, Women On  masih harus terus mengupayakan pencarian dan mengeksplorasi lagi kemampuannya. Apalagi jika Winda ingin bukan hanya gerak tetapi juga keseimbangan medium lain seperti grafis, warna dan pencahayaannya. 

Satu hal yang perlu mendapat apresiasi dari Winda adalah keleluasaannya untuk membebaskan diri dalam mengeksplor tubuh dan rasa di atas panggung. Mungkin seperti perjalanan hidup Winda sehari-hari yang ingin secara bebas mencitai profesi dan keluarganya.
CLOSE