Ilustrasi
Amat penting diketahui karena kerawanan gizi rentan terjadi pada lansia.

Pola makan yang tepat dapat memengaruhi kualitas hidup lanjut usia (lansia), mulai dari kesehatan, produktivitas dan semangatnya.  

Namun mengingat kondisi fisik dan biologis yang mengalami penurunan, membuat lansia harus mengatur pola makannya secara khusus.

Penurunan kondisi ini misalnya, lansia sering mengeluh sulit mengonsumsi daging dan makanan keras akibat gangguan gigi dan gusinya.

Selain itu mereka juga sering merasa tak nyaman saat mengonsumsi susu, karena laktose intoleran ditambah kehilangan selera makan akibat menurunnya indra perasa. Begitu pula dengan sensivitas penciuman yang juga menurun.

Exton-Smith dalam Encyclopaedia of Food Science, Food Technology and Nutrition mengatakan, lansia umumnya mengalami kerawanan gizi.

Ini terjadi karena beberapa faktor penyebab seperti fisiknya melemah, kebingungan mental dan depresi, konsumsi obat, gangguan kesehatan gigi, sulit menyerap makanan, kesepian, depresi dan masih banyak lagi.

Beranjak dari kondisi itulah lansia memerlukan perencanaan menu khusus. Diet khusus ini amat penting untuk mengurangi risiko kekurangan gizi atau sebaliknya kelebihan gizi.

Tanda fisik lansia yang kekurangan gizi bisa dilihat dari tubuhnya yang kurus atau lebih rendah dari berat badan baku.

Sebaliknya kelebihan gizi pada lansia menyebabkan kegemukan (obesitas) yang memicu berbagai penyakit degeneratif.

Kondisi ini banyak terjadi di perkotaan dimana mereka menerapkan pola diet tinggi lemak, tapi  rendah serat.

Jumlahnya Berbeda
Untuk mencegah hal tersebut para ahli menganjurkan untuk memilih makanan yang tepat. Makanan yang dipilih adalah makanan yang mengandung vitamin dan mineral yang mampu mencegah atau  menghambat munculnya keluhan tulang keropos (osteoporosis), kencing manis (diabetes melitus), jantung koroner atau penyakit degeneratif lainnya.

Kebutuhan gizi lansia sendiri sebenarnya hampir sama dengan orang dewasa, tapi sedikit berbeda dalam hal kuantitasnya.

Ini dikarenakan kondisi kesehatan, fisik, dan kemampuannya mencerna makanan mengalami penurunan. Kondisi itulah yang menyebabkan terjadi perubahan selera makan pada lansia.

Karenanya diet untuk lansia harus memerhatikan kecukupan gizi dari makanan yang dikonsumsinya, tekstur makanan agar lansia tak kesulitan dalam mencerna makanan dan terhindar dari masalah gizi (mal nutrisi).

Menjawab kebutuhan tersebut, Cleveland Clinic membuat panduan diet khusus lansia. Seperti apa? Berikut penjelasannya.

Lansia sebaiknya mengonsumsi 1-1,2 gram protein per hari per kilogram (kg) berat badan. Contohnya, jika seorang lansia berat badannya 70 kg, sebaiknya memperoleh asupan  70-100 gram protein per hari.

Tak hanya itu, lansia juga membutuhkan 1.000 miligram (mg) kalsium per hari dan 1.000 unit vitamin D per hari.

Asupan buah dan sayuran juga perlu diperbanyak sebagai penyeimbang makanan sehari-hari.

Bila pola makannya tak seimbang, para ahli menyarankan agar lansia mengonsumsi multivitamin. Konsumsi suplemen ini amat penting terutama setelah sakit atau berat badannya berkurang.

Yang tak kalah penting untuk diperhatikan adalah asupan cairan. Apalagi para lansia cenderung tidak suka minum. Padahal  mereka membutuhkan cairan sekitar 1,5 liter atau delapan gelas air per hari.

Nah, bagi lansia yang memiliki gangguan kesehatan sebaiknya segera konsultasi ke dokter untuk diatur pola makannya secara aman.


-

Penulis:

Sumber:Healthday