Yoga memulihkan para penderita stroke
Gerakan yoga yang dimodifikasi meningkatkan keseimbangan.

Melakukan terapi yoga, menurut sebuah penelitian kecil, ternyata mampu meningkatkan keseimbangan dan membantu mereka yang pernah terserang stroke untuk menjadi lebih aktif.

Penelitian ini melibatkan 47 pasien – kira-kira tiga perempatnya lelaki – yang pernah mengalami stroke lebih dari enam bulan sebelumnya dan dilibatkan dalam salah satu dari tiga grup: grup yoga dua kali seminggu selama delapan minggu; grup “yoga-plus” yang berlatih dua kali seminggu dan melibatkan kelas relaksasi selama setidaknya tiga kali seminggu; dan sebuah kelompok rehabilitasi stroke yang biasa.

Kelas-kelas yoga itu diajarkan oleh seorang terapis yoga terdaftar dan melibatkan postur-postur yoga yang dimodifikasi, relaksasi, dan meditasi. Kelas-kelas yoga semakin melibatkan pose-pose sulit dan menantang setiap minggu.

Dibandingkan pasien di kelompok rehabilitasi biasa, mereka yang mengikuti kelompok yoga memperlihatkan perbaikan signifikan dalam keseimbangan mereka, tidak banyak yang takut jatuh, dan memiliki nilai tinggi atas kemandirian dan kualitas hidup mereka.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Stroke pada 26 Juli.

Kebanyakan penderita stroke menghadapi masalah keseimbangan dalam jangka waktu lama, yang dihubungkan dengan ketidakmampuan yang lebih besar dan bertambahnya risiko mengalami jatuh.

Temuan baru ini memperlihatkan bahwa “sesuatu seperti yoga dalam sebuah lingkungan yang berkelompok, lebih efektif dan memperlihatkan fungsi motor dan keseimbangan” untuk mereka yang pernah mengalami stroke, menurut ketua peneliti, Arlende Schmid dalam pers rilis di jurnal tersebut.

Schmid mencatat bahwa terapi rehabilitasi bagi pasien stroke biasanya berakhir setelah enam bulan namun perubahan pada otak dan peningkatan fisik bisa berlanjut setelah enam bulan.

“Masalahnya adalah sistem perawatan kesehatan biasanya tidak bersedia membayar untuk kondisi perubahan itu. Penelitian ini mendemonstrasikan bahwa dengan beberapa pendampingan, bahkan pasien stroke kronis dengan kelumpuhan signifikan di satu sisi bisa menjalani untuk melakukan pose-pose yoga yang dimodifikasi,” kata Schmid, yang adalah peneliti riset rehabilitasi di Roudebush Veterans Administration Medical Center dan Indiana University di Indianapolis.

Schmid juga adalah asisten profesor untuk terapi di Indiana University-Purdue University.

Salah satu pakar yang membantu pasien-pasien stroke yakin bahwa ada kebutuhan besar untuk mendapatkan strategi rehabilitasi yang efektif.

“Apa pun yang bisa mengurangi risiko jatuh – yang biasa terjadi dalam penderita stroke lanjutan – sangat dibutuhkan, termasuk apa pun yang meningkatkan suasana hati dan berkurangnya gejala depresi pada pasien pascastroke,” ujar Dr. Roger Bonomo, direktur perawatan stroke di Lenox Hill Hospital in New York City.

Penulis: