Dirut PT Mustika Ratu, Putri Kuswisnu Wardani

Siapa bilang generasi kedua hanya bisa menikmati apa yang dibangun generasi pertama? Pemeo bahwa generasi pertama membangun bisnis, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan jelas tidak berlaku bagi Direktur Utama PT Mustika Ratu Tbk, Putri Kuswisnu Wardani, generasi kedua produsen kosmetika berbasis bahan alami.

Faktanya, di bawah kepemimpinan Putri Wardani, Mustika Ratu terus tumbuh, berkembang, dan semakin besar. Putri sukses membawa Mustika Ratu yang dibangun dan dikembangkan ibunya, Mooryati Soedibyo, menjadi perusahaan kosmetika berbasis tradisional yang kian modern. Mustika Ratu juga sukses di pasar remaja yang sebelumnya tidak dilirik pemain industri kecantikan.

Padahal, tantangan yang dihadapi Mustika Ratu tidaklah ringan. Selain harus memenangi persaingan dengan sesama produk lokal, emiten bersandi saham MRAT itu pun harus bertempur dengan produk kosmetika asing yang terus menggempur pasar domestik. Salah satu kunci kesuksesan Putri Wardani adalah inovasi.

“Kami terus berinovasi sehingga produk kosmetika Mustika Ratu yang mengangkat budaya dan tradisi Indonesia bisa diterima di pasar lokal dan internasional,” tutur Putri di Jakarta, baru-baru ini.

Putri adalah pebisnis yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai tradisi dan budaya. Ia bahkan menjadikan hal itu sebagai sumber inspirasi, filosofi, dan visi-misinya dalam mengembangkan perusahaan.

Bagi Putri, industri berbasis budaya sungguh strategis. Selain menunjang pertumbuhan ekonomi nasional, industri tradisional berbasis budaya mampu menjadi tameng bagi dampak negatif globalisasi. “Industri berbasis budaya merupakan landasan bagi pembentukan dan pembangunan karakter bangsa,” tegas Putri. Berikut wawancara lengkap dengannya.

Apa yang membuat Anda dipercaya memimpin Mustika Ratu?
Perjalanan karier saya hingga menjadi presiden direktur Mustika Ratu bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Saya memulai karier sebagai management trainee, sampai kemudian menjabat posisi manajerial pertama saya, yaitu sebagai promotion manager pada 1986.

Pada awal 15 tahun karier saya, saya masih lebih banyak dilepas berjalan seperti air mengalir. Hingga akhirnya ibu saya (Mooryati Soedibyo, Red) sebagai pendiri, mantap memilih saya sebagai penerus beliau. Maka saya pun mulai dibina secara intensif.

Sebelum menerima jabatan sebagai presiden direktur, saya sudah menangani operasional sehari-hari perusahaan selama sekitar delapan tahun. Jadi, ini bukan sesuatu yang instan. Sepanjang itu, Mustika Ratu terus bertahan dan berkembang dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat. Bukan hanya itu, kami juga menciptakan strategi agar di antara semakin banyaknya pilihan di pasar, produk-produk Mustika Ratu tetap digemari pelanggan dan dipilih calon pelanggan.

Mengapa Anda mau bekerja di perusahaan keluarga?
Saya bergabung dengan Mustika Ratu sejak lulus sekolah pada 1985. Awalnya memang dimulai dengan rasa ingin mencoba atau melihat lebih jauh tawaran orangtua untuk bergabung dengan usaha keluarga. Saat itu saya berpikir, kalau memang saya cocok berada di sini, tentu akan saya lanjutkan. Kalaupun tidak, saya akan mengambil jalan yang lain. Jadi, memang awalnya belum langsung yakin akan cocok.

Saat Anda bergabung, bagaimana kondisi industri kosmetika Indonesia?
Saat saya mulai bergabung, perusahaan dipegang ibu saya. Saat itu, masyarakat menggandrungi produk-produk kosmetika yang terbuat dari bahan alami dan produksinya tidak merusak kelestarian alam. Mustika Ratu sebagai pionir di sektornya mendapatkan tempat khusus di hati pelanggan. Waktu itu masih sangat sedikit merek asing.

Perusahaan kami punya konsep yang belum ada sebelumnya, yaitu back to nature, diramu sesuai resep leluhur, warisan ramuan Keraton Surakarta Hadiningrat, dan diwariskan turun-temurun. Konsep ini diminati masyarakat yang ingin mendapatkan pilihan aman dan teruji manfaatnya selama berabad-abad. Saat itu, tentu Mustika Ratu belum sebesar saat ini.

Apa keunggulan Mustika Ratu?
Produk kami diolah dari resep tradisional keraton yang telah teruji selama ratusan tahun, aman, dan berkhasiat. Sebagai pionir di sektor industri ini, kami selalu berjalan selangkah di depan. Walaupun berasal dari tradisi dan budaya, produk kami diproses secara modern melalui riset dan pengembangan yang mutakhir. Pengembangannya senantiasa menyesuaikan tuntutan zaman.

Terobosan Anda di perusahaan?
Salah satu achievement pada awal karier saya dulu, antara lain melahirkan produk untuk remaja putri yang pertama di Indonesia dengan nama "Puteri" yang sekarang menjadi salah satu tulang punggung penjualan kami saat ini. Nama merek ini diambil dari nama saya. Penjualan merek Mustika Puteri berkontribusi 40 persen terhadap total penjualan Mustika Ratu, dengan kontribusi body spray sebesar 80 persen. Brand Mustika Ratu dan brand-brand lain di bawahnya juga mampu menelurkan produk-produk yang menjadi market leader di kategorinya masing-masing. Berbagai penghargaan di dalam maupun luar negeri, baik pengakuan produk, perusahaan, maupun kepemimpinan perusahaan telah kami terima. Itu semua menjadi penyemangat bagi kami untuk terus berkarya dan membangun.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan?
Tentu setiap pemimpin punya gaya kepemimpinan yang berbeda. Pendiri biasanya adalah single person manager dan mengandalkan insting. Penerus biasanya lebih menekankan pada upaya membangun teamwork dan mengandalkan data, fakta analisis. Begitu pula yang terjadi pada kami. Tapi ada juga dasar-dasar kultur perusahaan yang tidak berubah, misalnya unsur kekeluargaan.

Hasilnya memang masih jauh dari rasa puas. Masih banyak hal yang dapat dan harus ditingkatkan serta diperbaiki. Tapi kami bersyukur karena rutin meraih penghargaan sebagai salah satu bukti keberhasilan atau pencapaian kami.

Bagaimana kondisi perusahaan saat ini jika dikaitkan dengan semakin ketatnya persaingan?
Bisnis Mustika Ratu tetap tumbuh setiap tahun dan berhasil survive pada setiap kondisi ekonomi. Di tengah tantangan derasnya globalisasi, di mana produk kosmetika impor terus membanjiri pasar domestik, industri jamu dan kosmetika tergolong evergreen, sehingga kesempatan berkembangnya ke depan masih sangat besar.

Banyak sekali tantangan yang dihadapi industri nasional dengan berlakunya globalisasi. Pasar lokal kita yang besar tentu sangat menggiurkan bagi produk-produk dari luar. Untuk dapat bersaing secara komprehensif diperlukan langkah-langkah yang bukan hanya didapat dari hasil kerja pebisnis. Banyak faktor, seperti nilai tukar mata uang, ketersediaan energi dengan harga terjangkau dan kompetitif, tingkat suku bunga perbankan, ketersediaan infrastruktur, dan faktor-faktor eksternal lainnya. Itu berada di luar kendali kami. Walau demikian, Mustika Ratu beruntung dan merasa percaya diri karena masih mempunyai kelebihan-kelebihan yang dapat dikapitalisasi sebagai kekuatan kompetisi.

Kami menganut dual approach untuk mengantisipasi serta menjawab tantangan tren kecantikan dan perawatan kesehatan dunia yang terus menyesuaikan diri dengan tuntutan zaman dan kebutuhan konsumen. Di sisi lain, kami akan menggunakan kekayaan budaya dan local wisdom untuk dijadikan dasar pegangan kami.

Filosofi hidup Anda?
Konsep falsafah Jawa memayu hayuning bawono sangat relevan dengan apa yang kami jalankan dalam berbisnis. Artinya, di dalam menjalankan hidup dan berkarya, kita harus membawa kebaikan, keberlangsungan yang harmonis terhadap lingkungan.

Anda aktif di organisasi dan asosiasi, termasuk Asosiasi Merek Indonesia (Amin), apa yang melatarbelakanginya?
Saya mulai aktif di beberapa asosiasi industri sejak sekitar 10 tahun lalu. Diawali dengan reformasi dan tekanan globalisasi, di mana pemerintah menjadi tidak lagi sekuat itu untuk melindungi pelaku usaha di dalam negeri maka kami merasa sangat perlu bersatu dan menggalang kekuatan di dalam berjuang bersama untuk menjaga eksistensi pelaku industri sektoral di dalam negeri.

Apalagi kita juga menghadapi perjanjian perdagangan bebas Tiongkok-ASEAN (China Asean Free Trade Area/CAFTA). Berawal dari diberlakukannya CAFTA untuk sektor-sektor tertentu, termasuk kosmetika dan elektronika pada 2010, serta melihat derasnya arus impor produk yang tak terkendali, kami para pengusaha dan pemilik merek di dalam negeri terdorong untuk bergabung. Kami bersama-sama menggalang kekuatan sebagai pemberi masukan kepada pemerintah mengenai kebijakan-kebijakan yang perlu dilakukan untuk melindungi pasar domestik dan industri nasional.

Untuk langkah ini, saya mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (Muri) sebagai pencetus gerakan yang melindungi merek dalam negeri. Ini dianggap sebagai upaya strategis guna membendung dampak negatif globalisasi. Sudah lebih dari 50 merek Indonesia ternama yang tergabung dalam Amin, seperti Mustika Ratu, Garuda Food, Bogasari,Indofood, Denpoo Elektronika, Maspion, Cosmos, Maya Brand Sardines, Contempo, Fujitec, Alleira, dan Ikat Indonesia.

Bagaimana kesiapan pelaku industri di dalam negeri?
Jauh dari siap. Jangankan Indonesia, negara-negara lain pun semakin melindungi pasar dan industri dalam negerinya pada era globalisasi, terutama CAFTA. Makanya, sebagai negara terbesar di ASEAN, kita jangan terlalu patuh tanpa strategi perlindungan. Semua negara melakukannya. Strategi perlindungan pasar domestik serta pengembangan industri nasional secara komprehensif harus ada.

Apa visi Anda sebagai wakil ketua umum Kadin Indonesia bidang industri tradisional berbasis budaya?
Industri berbasis budaya sangat strategis. Industri ini menunjang pertumbuhan ekonomi nasional berbasis kerakyatan karena pelakunya banyak, dari pengusaha mikro hingga besar. Indonesia memiliki 33 provinsi dan 500 suku bangsa dengan adat istiadat yang bermacam-macam, itu kekayaan yang luar biasa. Ada seni budaya, seperti tari, musik, adat istiadat, kain tradisional, hingga kuliner. Itu semua belum dieksplorasi secara maksimal.

Selain itu, industri tradisional berbasis budaya mampu menjadi tameng bagi arus globalisasi yang berpotensi menggerus sektor sosial, budaya, dan ekonomi kita. Industri berbasis budaya merupakan landasan bagi pembentukan dan pembangunan karakter bangsa. Generasi muda kita bisa kehilangan arah dan jati diri dalam arus keterbukaan informasi seperti sekarang ini bila mereka tidak dibekali unsur-unsur budaya yang adaptif terhadap kemajuan zaman. Lihat saja, mereka lebih senang Gangnam Style. Padahal, kita punya musik dan joget dangdut. Kenapa dangdut tidak dikolaborasikan dengan jazz atau bossanova, misalnya, agar kawula muda tertarik.

Begitu pula dengan kuliner. Kita punya rendang dan nasi goreng yang menjadi makanan terlezat nomor satu dan dua di dunia. Lalu sate nomor 14. Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama juga ngomong nasi goreng terus. Artinya apa? Kita punya kekayaan kuliner yang terlezat di dunia. Begitu kayanya kita, sehingga mau eksplorasi dari mana pun bisa.

Selain batik, kita punya kain tenun. Agar bisa digunakan sehari-hari, tenun bisa dibuat lebih tipis dan menggunakan benang katun, sehingga tidak gatal dan nyaman di badan. Intinya, budaya tidak boleh mati, harus terus berkembang, namun tanpa meninggalkan akarnya, supaya perajin mau terus memproduksinya dan ekonomi kita bisa terus hidup.

Program Anda untuk memajukan industri tradisional berbasis budaya?
Program pertama saya adalah meminta gubernur DKI mengharuskan pelaku industri pendukung pariwisata seperti hotel, restoran, bandara, dan airlines untuk mengadopsi, memamerkan, menjual, dan mempromosikan unsur-unsur budaya Indonesia secara luas. Saya ingin mal menyediakan minimal 50 persen makanan tradisional. Pengelola hotel menyediakan menu-menu tradisional dan menggunakan interior berbasis budaya Indonesia.

Kami akan mendorong pariwisata berbasis budaya Indonesia. Selama ini, pemerintah dan swasta hanya fokus pada transportasi dan penjualan jumlah room hotel saja. Padahal, banyak sekali unsur pariwisata yang bisa dibenahi, antara lain tontonan, seperti tari, musik, pertunjukan adat, kemasan kulinernya, dan masih banyak lagi. Ketika datang berwisata ke suatu tempat, orang kan ingin shopping, makan, melihat tontonan, dan lain-lain. Jakarta kami jadikan pilot project. Gubernur DKI sangat mendukung. Pak Jokowi akan mengeluarkan peraturan gubernur tentang hal ini.

Konsep seperti apa yang ditawarkan Mustika Ratu?
Mustika Ratu menawarkan konsep kecantikan keraton Jawa yang pada zamannya merupakan pusat peradaban. Di sana berkumpul para scientist dan pakar seni budaya, sehingga ter-develop perawatan kecantikan dari keraton. Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversity) nomor dua setelah Brasil. Ini yang harus dimanfaatkan. Riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan, 80 persen masyarakat dunia masih memanfaatkan perawatan kesehatan berbasis alam. Contohnya kita punya tanaman pegagan yang 10 kali lebih efektif untuk obat daya ingat dibanding gingko biloba. Buktinya saja, Ibu Mooryati pada usia lebih dari 80 tahun masih memiliki ingatan kuat dan bertubuh sehat.

Apa yang Anda lakukan agar Mustika Ratu langgeng dan terus berkembang?
Kami terus berinovasi dan melakukan penguatan branding melalui pengembangan produk-produk sesuai perkembangan zaman. Dengan begitu, produk-produk Mustika Ratu mampu memenangi persaingan di hati konsumen. Kami juga berupaya agar harga produk kami tetap kompetitif.

Aksi korporasi tahun ini arahnya ke mana?
Kami akan terus memperkuat distribusi di dalam negeri, terutama di daerah-daerah terpencil dan perbatasan. Memang kami punya pengalaman 25 tahun menjual produk kami di Malaysia. Tapi dengan berlakunya kawasan bebas Asean (Asean Free Trade Area/AFTA), terutama saat kita terintegrasi dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada 2015, kami semakin sulit menjual di sana. Jadi, bagaimana kami memperluas distribusi dan memperkuat pasar dalam negeri, itu yang menjadi fokus kami pada 2013. Untuk produk baru, akan ada beberapa. Tapi kami masih fokus pada perawatan tubuh seri kopi, pepaya, mawar, dan melati. Itu yang menjadikan kami market leader di sini. Produk kami sering dapat penghargaan. Ini membuktikan kami mampu bersaing.

Anda punya obsesi lain seperti duduk di parlemen atau di pemerintahan?
Sampai saat ini saya belum berpikir untuk terjun ke dunia politik, walaupun ada beberapa parpol yang sudah meminang saya. Menurut saya, ini masalah prioritas. Saya masih berkonsentrasi pada perjuangan mengatasi kendala-kendala industri lokal dalam menghadapi globalisasi. Tapi dalam hidup, semua jawaban akan terpengaruh oleh situasi dan kondisi (sikon). Pada sikon yang berbeda, bisa saja jawabannya lain lagi.

 

Investor Daily

Penulis: NAN/AB

Sumber:Investor Daily