Kostaman Thayib, Presiden Direktur PT Bank Mega Tbk

Beberapa koleganya pernah menganalogikan pola kerja pria yang satu ini dengan "seven-eleven". Ada juga yang berkelakar jam kerjanya seperti waktu operasi mini market AM-PM yang buka nonstop, terus-menerus.

Kostaman Thayib memang seorang pekerja keras. Meski mengaku bukan seorang workaholic (maniak kerja), ia merasa enjoy bekerja setiap hari dari pagi sampai larut malam. “Kalau mau sukses memang harus kerja keras,” kata Presiden Direktur PT Bank Mega Tbk itu di Jakarta, baru-baru ini.

Tapi Kostaman Thayib tak asal bekerja keras. Bagi pria kelahiran Palembang, 1 November 1962 ini, bekerja keras saja tak cukup. Kerja keras harus dibarengi kerja cerdas. “Ketika melaksanakan hal itu, kita jangan berpikir berada di pihak yang rugi dan merasa perusahaan diuntungkan,” ujarnya.

Kostaman Thayib memandang pekerjaan yang diembannya adalah wujud tanggung jawab yang harus dilaksanakan secara optimal. Ia percaya kontribusi terbaik yang diberikan kepada perusahaan akan menguntungkan semua pihak.

“Semua pihak akan diuntungkan, termasuk kita sebagai karyawan. Pada akhirnya, kita akan tercatat memiliki kinerja baik dan diberi kepercayaan lebih besar, lalu karier meningkat dan penghasilan pun bertambah,” paparnya.

Kostaman menerapkan pepatah leader create leaders dan lead by example. Dengan demikian, pemimpin harus memberikan contoh yang baik, tidak sekadar berbicara atau walk the talk. “Fungsi pemimpin di organisasi sangat penting karena akan menjadi contoh dan arahan. Kalau leader memiliki sifat pemalas, anak buah pun akan ikut malas,” tandasnya.

Kostaman Thayib tengah getol melakukan reorganisasi perusahaan. Tujuannya tiada lain untuk membangun fondasi perusahaan yang lebih kuat, sehingga kinerja bisnis bank tersebut pada tahun-tahun mendatang tumbuh lebih baik. Apa saja langkah yang ditempuhnya? Apa pula obsesinya? Berikut hasil wawancara dengannya.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Di dunia perbankan, saya pernah berkarier selama 10 tahun di BCA dan tiga tahun di Bank Mandiri. Karier saya di Bank Mega sekitar 10 tahun lebih, masuk pada 2004 sampai 2012, menjabat sebagai direktur retail banking membawahkan atau menangani kartu kredit, liabilities, dan e-channel. Setahun terakhir sebelum menjabat presdir, saya menjabat sebagai direktur business development dan tetap membawahkan kartu kredit, liabilities, e-channel, sekaligus juga kredit komersial, konsumer, korporasi, dan small medium enterprises (SME) product management. Sejak 17 April 2013, saya menjabat sebagai presiden direktur di Bank Mega.

Anda mengawali karier sebagai bankir?
Tidak. Saya lulus kuliah di Trisakti pada 1987 jurusan elektro untuk computer engingeering, sehingga saya sempat bekerja di perusahaan komputer selama dua tahun, lalu mengambil pendidikan pascasarjana di Amerika Serikat dengan dua bidang studi yang berbeda. Pada awal 1992, saya masuk ke dunia perbankan. Selama 23 tahun, saya tidak pernah keluar dari profesi bankir.

Seorang bankir bisa datang dari latar belakang pendidikan mana pun, sehingga tidak harus dari jurusan ekonomi atau akuntansi. Seorang bankir yang berasal dari insinyur atau teknik rata-rata memiliki logika yang kuat, berpikir secara sistematis, dan lebih detail, karena dilatih demikian pada saat menempuh pendidikan di kuliah. Hal ini bisa menunjang ketika bekerja di bidang teknik maupun nonteknik.

Pendidikan pascasarjana di jurusan finance yang saya ambil ikut mendukung karier saya di bank. Jadi, ketika masuk ke dunia perbankan, saya tidak kaget. Ketika pertama kali bekerja di bank, awalnya saya masuk ke bidang pengembangan anjungan tunai mandiri (ATM) dan electronic banking, kemudian di bidang retail banking.

Indonesia adalah pasar yang baik untuk retail banking karena didukung oleh banyaknya jumlah penduduk. Ini juga yang diminati bank-bank asing untuk masuk ke Indonesia. Saya rasa semua bank ingin berkembang dan fokus di ritel tanpa meninggalkan segmen bisnis yang lain. Dengan demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa segmen ritel memang potensial.

Kiat Anda meraih kesuksesan?
Untuk mencapai sukses ada dua hal, yakni harus kerja keras dan kerja cerdas. Ini agar bisa memberikan kontribusi terbaik, tidak bisa santai-santai, sehingga hasilnya pasti lebih baik. Tapi kalau hanya kerja keras tanpa kerja cerdas, juga kurang optimal.

Kerja keras dan kerja cerdas adalah kombinasi terbaik. Sebab, kita harus menganut prinsip memberikan yang lebih baik dari yang baik, ini memang membutuhkan waktu. Misalnya, membatik dalam satu bulan tentu hasilnya bagus. Tapi, kalau motif atau corak batik dikerjakan selama lima bulan, tentu bisa lebih detail lagi.

Banyak orang bertanya kepada saya, Anda workaholic? Saya bukan workaholic dalam pengertian hanya suka kerja saja. Saya juga suka bersantai. Bagi saya, bekerja adalah wujud tanggung jawab yang harus dilakukan. Saya dipanggil orang "seven-eleven", artinya ngantor pukul tujuh pagi pulang pukul 11 malam. Lalu ada yang menganalogikan saya dengan jam operasional mini market AM-PM.

Kalau mau sukses memang harus kerja keras dan kerja cerdas. Tapi jangan lalu berpikir kita rugi dan perusahaan yang diuntungkan. Kita harus percaya, kontribusi terbaik akan menguntungkan semua pihak, termasuk kita. Pada akhirnya, kita punya kinerja baik, sehingga akan diberi kepercayaan besar, karier meningkat, dan penghasilan juga meningkat.

Ambisi Anda?
Saya tidak memiliki ambisi macam-macam. Bahkan, saya tidak memiliki ambisi untuk menjadi dirut atau presdir. Saya ingin menjadi orang yang bisa membimbing, dan mendorong orang-orang di bawah saya agar bisa berhasil seperti saya. Itu bagi saya adalah kebahagian tersendiri. Ada pepatah, leader create leaders. Jadi, leadership saya seperti itu. Leader itu lead by example, harus memberikan contoh yang baik, tidak sekadar ngomong atau walk the talk. Fungsi leader di organisasi sangat penting karena menjadi contoh dan arahan. Kalau leader-nya pemalas, anak buah juga akan ikut malas.

Siapa yang menjadi sumber insiprasi Anda?
Banyak hal yang bisa memengaruhi hidup, cara bekerja, dan cara berpikir. Hal itu bisa berasal dari tokoh-tokoh penting, tokoh sederhana, dan kejadian di sekitar kita. Saya bisa begini karena dipengaruhi oleh faktor pendidikan di keluarga.

Ayah saya memiliki prinsip bahwa warisan terpenting yang diberikan kepada anak-anaknya adalah pendidikan. Ini seperti memberikan kail kepada seseorang, bukan ikan. Beliau percaya, pendidikan itu seperti kail yang merupakan simbol kehidupan pada zaman dahulu. Ibaratnya, jangan memberikan ikan kepada orang, karena dia hanya hidup dalam satu hari hingga sebulan. Kalau diberikan kail, dia akan hidup lebih lama.

Pola ini juga yang saya terapkan kepada anak-anak saya, termasuk dalam mencarikan sekolah yang baik agar bisa membentuk watak yang baik. Saya berharap anak-anak tidak cengeng dan menjadi pekerja keras, sehingga leadership mereka perlu dilatih. Pendidikan di keluarga sangat penting. Sebab, keluarga adalah inti terkecil dari masyarakat. Kalau keluarga berantakan, masyarakat pasti ikut berantakan. Jadi, kalau ingin membentuk masyarakat dan negara yang baik, mulailah dari keluarga. Manusia itu dibentuk dari kasih sayang keluarga.

Saya juga banyak diinspirasi oleh petinggi-petinggi di tempat bekerja dulu dan saat ini. Misalnya motivasi yang diperoleh dari keluarga Salim, pebisnis Chairul Tanjung, dan berbagai referensi pemimpin yang saya baca dari buku. Mereka pada umumnya adalah pekerja keras.

Ada yang terlahir sudah kaya, dan ada juga yang menjadi kaya setelah bekerja keras. Tapi, mereka pada umumnya pekerja keras. Mereka juga berpikir detail, sehingga kalau bertemu mereka, kita akan takjub dengan kedetailannya dalam membahas sesuatu. Banyak orang bilang Pak Kostaman sangat detail, saya bilang bos-bos saya jauh lebih detail, jangan kira mereka tidak detail. Pendidikan teknik yang saya tekuni memang mengajarkan untuk detail. Tapi banyak orang yang sukses mengajarkan bahwa kalau mau sukses harus detail.

Semua orangtua harus memberikan warisan dukungan pendidikan kepada anak. Itu adalah harta yang tidak lekang oleh waktu. Ini menginspirasi saya untuk membangun bangsa. Saya pernah membuat produk Mega Berbagi. Melalui produk ini, orang harus memiliki kerelaan menyumbang sebagai pull fund 1% dari bunga simpanan yang diperoleh untuk sumbangan pendidikan membangun sekolah.

Bank Mega sudah membangun tiga sekolah, dana yang terkumpul hingga saat ini cukup untuk membangun 20-30 sekolah. Walaupun ini masih jauh dari kebutuhan masyarakat, setidaknya kami berupaya berempati dan mengambil bagian bagi kemajuan bangsa ini. Mustahil bangsa ini bisa maju kalau pendidikan masyarakatnya tidak bagus.

Demikian juga dengan kualitas pendidikan di Bank Mega. Tahun ini dan seterusnya kami fokus untuk pengembangan sumber daya manusia. Setelah reorganisasi perusahaan, kami menempatkan orang-orang yang seusai dengan kemampuan.

Obsesi Anda di Bank Mega?
Saya mengharapkan Bank Mega menjadi bank kebanggaan bangsa Indonesia. Bank ini memiliki posisi yang unik karena merupakan satu-satunya bank swasta besar yang masih dimiliki putra bangsa. Banyak bank swasta lain yang sudah dimiliki asing. Setidaknya kami ingin agar ada bank lokal yang berkembang dan menjadi kebanggaan bangsa yang sangat bagus.

Berdasarkan pengalaman, Bank Mega tidak bisa bertumbuh pada salah satu segmen saja. Kami juga menyadari, mengelola usaha kecil dan menengah (UKM) bukan hal mudah. Oleh karena itu, kami mengubah strategi dimulai dengan reorganisasi yang lebih fokus seperti silo-silo dari direktur sampai staf ke bawah. Jadi, ada direktur, divisi, region manager, area menager, kepala cabang, sampai staf yang fokus untuk funding, fokus UKM, dan operasional. Demikian kami harapkan, masing-masing akan berkembang, sehingga semua bidang akan berkembang dengan baik dan penyimpangan-penyimpangan akan berkurang.

Untuk menandai peralihan organisasi dan cara kerja, kami menunjukkan logo baru yang merupakan cerminan atau simbol dari sesuatu yang ingin kami sampaikan keluar dan ke dalam. Ada arti-arti warna pada logo baru, warna gelap atau warna tua menyimbolkan Bank Mega ingin menjadi bank yang kokoh dan kuat. Warna-warna cerah mengambarkan optimistis, dinamis, dan semangat. Kadang-kadang kokoh seperti kaku, jadi ada cerahnya. Abu-abu lambang teknologi. Jadi, kami ingin Bank Mega memiliki sistem teknologi yang canggih dan baik. Ke depan, kami sedang membangun teknologi informasi (TI) dan sistem yang baik. Warna kuning menggambarkan kecerdasan, harapan, keagungan, dan kebesaran. Warna oranye menggambarkan semangat dan optimisme.

Kami ingin membawa Bank Mega seperti itu, memiliki fundamental kuat dan dinamis. Orang-orang di dalamnya juga diharapkan bertingkah laku seperti itu. Organisasi hanya alat saja, perubahan ini sebagai alat utnuk berkembang lebih baik. Logo baru adalah satu kesatuan. Ada makna tujuan visi dan misi di balik itu.

Investor Daily

Penulis: TEH/AB

Sumber:Investor Daily