Andy Yentriyani

Dedikasikan Diri untuk Perempuan Korban Kekerasan

Dedikasikan Diri untuk Perempuan Korban Kekerasan
Kharina Triananda / AB Senin, 11 Agustus 2014 | 23:16 WIB

Andy Yentriyani (34), komisioner Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mengaku telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk berdedikasi sepenuhnya kepada perempuan korban kekerasan. Dedikasi tersebut ditandai dengan keterlibatannya di Komnas Perempuan sejak 2000 dalam mencegah dan menghapuskan kekerasan terhadap perempuan. Setelah satu dekade lebih mencurahkan pikiran dan tenaga untuk kaumnya yang mencari keadilan, Andy dipercaya menjabat komisioner sejak 2010.

"Ada dua hal yang mendasari ketertarikan saya terhadap dunia perempuan. Pertama, Tragedi Mei 1998, di mana isu kekerasan seksual menjadi salah satu pokok masalah pada saat itu. Kedua, saat saya harus kehilangan teman-teman saya di usia muda saat saya masih menetap di Pontianak. Saat anak-anak SMP lain memikirkan cita-cita, banyak teman  saya yang mau tidak mau harus menikah di usia belia," tutur Andy saat ditemui Beritasatu.com di kantor Komnas Perempuan, Jakarta, Senin (11/8).

Menurutnya, kedua pengalaman itu sangat menyentak kesadarannya. Ia pun semakin jelas melihat posisi perempuan pada peristiwa Mei 1998, di mana dalam situasi-situasi konflik mereka selalu mempunyai pengalaman yang spesifik menjadi korban kekerasan.

Pengalamannya saat tumbuh di Kampung Sungai Asam, Pontianak, menginspirasinya untuk membuat skripsi bertema trafficking yang membawanya menjadi sarjana ilmu sosial dari Universitas Indonesia jurusan hubungan internasional.

"Teman-teman saya di Pontianak yang beretnis Tionghoa banyak yang harus pasrah dinikahkan dengan warga Taiwan dan menetap di sana. Melalui pernikahan transnasional tersebut, sebagian besar berujung ke kasus trafficking," ceritanya.

Akhirnya, setelah menyelesaikan studi S2 di University of London dengan mengambil jurusan media dan komunikasi, perempuan yang berasal dari etnis Tionghoa ini pun kembali ke Indonesia dan memenuhi janjinya untuk memajukan Indonesia dengan mencari keadilan untuk perempuan korban kekerasan.

Rekomendasikan Inspiring Young Leaders 2015 di sini

Ruang Publik
Saat ini cukup banyak pencapaian yang diraih Komnas Perempuan. Selain ratifikasi banyak konvensi dan regulasi internasional, Andy dan komisioner lain di Komnas Perempuan juga menghadirkan ruang publik untuk mengingatkan masyarakat bahwa apa yang terjadi pada Mei 1998 merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat buruk dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

"Setelah menunggu sekian lama, yakni 16 tahun setelah reformasi, akhirnya dengan pemerintahan yang baru, terutama di DKI Jakarta, dan juga keteguhan dari ibu-ibu dan teman-teman komunitas korban Mei 1998, kita pun bisa membuat sebuah ruang publik bersama untuk mengingat peristiwa tersebut. Ruang publik tersebut kita buat di TPU (tempat pemakaman umum, Red) Pondok Rangon. TPU tersebut merupakan makam massal yang terdiri lebih dari 113 makam korban Mei 1998," kata Andy.

Dengan adanya ruang publik tersebut, Andy berharap tragedi yang melukai kemanusiaan dan perjalanan sejarah Indonesia tidak akan terjadi. Menurutnya, jangan sampai ada yang mengalami hal serupa lagi, terutama terhadap kelompok minoritas yang sering dijadikan kambing hitam.

Langkah maju lainnya dari Komnas Perempuan adalah dorongan dan dukungan publik bagi terciptanya Rancangan Undang-Undang (RUU) Kekerasan Seksual. Selama ini, revisi Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang sudah ada, tidak cukup membantu perempuan korban kekerasan seksual.

"Ini adalah sesuatu yang harus kita rayakan. Apalagi kita ingat dalam rangkaian kerusuhan Mei 1998, isu kekerasan seksual merupakan salah satu titik berangkat. Dengan begitu, kami tentunya sangat berharap aparat penyelenggara negara dan aparat penegak hukum akan bersungguh-sungguh menjalankan landasan hukum dan payung hukum yang sudah ada untuk mencegah maupun menangani perempuan korban kekerasan," harapnya.

Harapan lainnya adalah agar landasan-landasan hukum yang sudah ada juga segera diperbaiki karena dirasa belum sempurna. Namun, diakuinya selama 16 tahun reformasi ini banyak kemajuan dalam upaya pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga ada banyak kontradiksi.

"Kita memantau ada lebih dari 300 kebijakan diskriminatif yang katanya mau melindungi perempuan, tetapi justru malah menempatkan perempuan di posisi sebagai pihak yang dikriminalisasikan. Kami sungguh berharap bahwa aparat negara bisa memperbaiki kondisi tersebut. Tentunya perbaikan ini membutuhkan dukungan penuh dari masyarakat karena kekerasan terhadap perempuan banyak sekali dilingkupi aspek-aspek budaya. Kalau masyarakat tidak mendukung, sama saja mereka menganggap bahwa kekerasan itu ya lazim saja bila terjadi," imbuhnya.

Rangkaian harapan yang disampaikan Andy membuktikan bahwa perjalanan Komnas Perempuan masih panjang. Namun, dia tetap optimistis dengan pemerintahan baru mendatang. Secara pribadi, ia berharap otonomi daerah melalui penguatan desa dan berbagai proses perubahan dalam tubuh bangsa ini, membuat perempuan-perempuan korban kekerasan bisa mendapat akses keadilan yang lebih baik.

"Akses keadilan yang lebih cepat dan murah, itulah harapan saya tehadap pemerintahan baru, karena di daerah susah sekali untuk menjangkau aparat, apalagi mendapat pedampingan," tandasnya.

---

Andy Yentriyani adalah salah satu tokoh Inspiring Young Leader 2014 versi Beritasatu.com. Lihat hasil polling Inspiring Young Leaders 2014 favorit pilihan pembaca, klik di sini.

CLOSE