Hidup Itu Sederhana i

Arto Soebiantoro, Founder Gambaranbrand Network

Oleh: Happy Amanda Amalia / AB | Selasa, 30 Sepember 2014 | 11:01 WIB

Siapa bilang hidup itu rumit, kompleks, dan njlimet? Hidup, bagi Arto Soebiantoro, sungguh sederhana. Maka, berpikir dan bertindaklah secara sederhana. Seseorang mengalami kehidupan yang rumit karena tidak mau berpikir dan bertindak simple serta melakukan sesuatu bukan atas keinginan sendiri.

“Terkadang kita ingin berpikir sederhana, tapi tidak menjalankan atau tidak menjadikannya sederhana. Saya selalu mencoba menyederhanakan hidup,” kata founder Gambaranbrand Network itu di Jakarta, baru-baru ini.

Simplifikasi hidup yang dilakukan Arto Soebiantoro ternyata juga bertali-temali langsung dengan dunia merek yang digelutinya.

“Membangun dan membesarkan merek (branding) adalah persepsi kita terhadap apa yang dipersepsikan. Branding sebenarnya enggak susah. Mereka yang membuat susah branding adalah orang-orang yang membuatnya dengan kalimat-kalimat rumit,” papar putra bungsu mendiang seniman ternama Kris Biantoro dan Maria Nguyen Kim Dung itu.

Kiprah Arto di dunia merek dimulai ketika ia bekerja di beberapa perusahaan periklanan di Amerika Serikat (AS) pada awal 1998. Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang sistem informasi di California State University of Fresno dan desain iklan di Academy of Art, San Francisco, ia memutuskan pulang dan berkarya di Tanah Air.

Karier Arto terbilang mulus. Pada tahun pertamanya bekerja sebagai art director di biro iklan terbesar dunia di Jakarta, Arto menyabet penghargaan Citra Pariwara untuk kategori iklan televisi terbaik.

Kiprahnya di dunia periklanan berlanjut ketika pria kelahiran 17 Juni 1973 ini menjadi salah satu creative director termuda di sebuah biro iklan internasional di Jakarta. Dunia inilah yang kemudian memperkenalkannya memahami lebih dari 50 merek nasional dan internasional dalam 11 tahun terakhir.

Namun, pada awal 2006, Arto Soebiantoro meninggalkan dunia periklanan dan memfokuskan diri dalam bisnis membangun merek Indonesia melalui metode pendampingan. Sebuah metode yang sangat intens dan fokus pada pola pengembangan merek, khususnya bagi usaha kecil dan menengah (UKM).

Pada 2009, pria penyandang dan II taekwondo ini mendirikan Gambaranbrand Network yang menghimpun berbagai ahli merek dari berbagai bidang ilmu. Bersama mereka, pemain basket itu konsisten mengedukasi dan memberikan pemahaman ihwal pentingnya merek bagi pengusaha lokal. Berikut wawancara dengannya.

Bisa diceritakan perjalanan karier Anda?
Setelah menyelesaikan pendidikan di bidang sistem informasi di California State University of Fresno dan desain iklan di Academy of Art, San Francisco, pada 1999 saya pulang ke Indonesia. Di Jakarta, saya memulai karier sebagai art director di salah satu biro periklanan terbesar di dunia. Pada tahun pertama di Indonesia, saya mendapat penghargaan Citra Pariwara.

Mendirikan perusahaan ini adalah salah satu cara saya meneruskan nilai-nilai nasionalisme yang selalu diajarkan bapak kepada saya dan kakak saya (Anto Soebiantoro). Bapak saya mewariskan nilai-nilai nasionalisme. Baginya, menjadi artis adalah cara dia membangun nasionalisme. Nah, bapak meminta saya memikirkan bagaimana cara saya membangun nasionalisme. Kalau bapak membangun nasionalisme dari menyanyi.

Bapak mengajari hal-hal seperti itu sejak kami kecil. Kecintaan beliau kepada negara diwariskan kepada kami. Ketika saya mau berangkat sekolah ke Amerika, bapak saya selalu bilang,“Kamu sekolah di Amerika bukan untuk menjadi pintar, tapi untuk belajar kehidupan. Kamu akan bertemu orang yang paling hitam, paling gelap, paling tinggi, sampai paling curang. Kamu akan belajar di sana, ambil ilmunya, balik ke sini dan bangun negara ini. Kalau kamu pulang ke Indonesia kemudian menjadi artis sinetron, silakan. Kamu mau jadi apa pun, silakan.”

Kenapa tidak meneruskan jejak ayah Anda di dunia hiburan?
Sebenarnya bapak saya juga enggak gampang dan melalui proses panjang untuk terkenal dan menjadi seorang Kris Biantoro. Mungkin, kita tahunya bapak adalah Kris Biantoro saja. Tapi pada usianya yang ke-30, dia bukan siapa-siapa. Beliau baru dikenal orang saat berusia 35 tahun. Memang saat usia bapak 24 tahun, dia sempat terkenal karena suka menyanyi, tapi hanya sebatas penyanyi biasa karena saat itu televisi kan hanya satu, TVRI.

Kemudian dia sekolah di Australia selama enam tahun dan saat itulah dia “hilang”. Pada 1969, dia baru kembali lagi, mungkin usianya sekitar 28 tahun. Tapi puncak-puncaknya, dia terkenal ya saat usianya 35 tahun. Padahal, dia sudah memulai karier pada usia 15 tahun dan dia enggak melewati zaman instan.

Bapak saya memulainya dari tukang ketik perusahaan, berjualan roti, dan menjadi juru parkir. Memang hobinya menyanyi yang membuat dia akhirnya berhasil. Bapak selalu bilang bahwa proses menjadi seorang artis enggak mudah. Makanya, dia enggak pernah mengajari anak-anaknya menjadi artis.

Bahkan, bapak saya enggak pernah bilang dirinya sebagai artis. Paling benci kalau dia disebut selebritas. Dia akan bangga sekali kalau disebut seniman atau budayawan.

Anda juga pernah merasakan dunia seni?
Saat berusia 28 tahun, saya pulang ke Indonesia. Saya waktu itu sempat kontak-kontak dengan beberapa PH (production house) untuk bermain sinetron. Tapi saya merasa panggilan saya bukan di situ. Lalu saya bekerja di perusahaan iklan, yang kerjanya membangun brand, membangun iklan.

Perjalanan hidup Anda terlalu mulus?
Pada tahun pertama bekerja, saya menang pariwara, itu sekitar tahun 2000. Pada 2001, saya bekerja di salah satu agensi besar, kemudian menjadi creative director. Padahal, beberapa creative director ada di posisi itu pada usia 35 tahun atau 40 tahun.

Ini yang kemudian membuat saya berpikir dan ingat apa yang bapak saya bilang,“Apa sih yang mau kamu kasih ke negara ini?” Rasanya ada panggilan untuk melakukan sesuatu. Saya melihat celah itu di bidang merek.

Ada apa dengan merek?
Saya pernah bekerja untuk membuat merek Coca-Cola sampai Honda, bagaimana merek-merek itu bisa kuat. Saya pikir, Indonesia akan sangat keren jika bisa membangun merek-merek seperti itu. Ada sekitar 40.000 merek yang setiap tahun terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM.

Bayangkan, dalam 10 tahun berarti ada 400.000 merek. Jadi, kita punya ribuan merek yang tidak atau belum dikelola dan sangat potensial. Sedangkan agency-agency, periklanan, dan creative hanya melihat perusahaan-perusahaan besar. Padahal, yang kecil-kecil bisa menjadi brand yang kuat juga.

Ini mungkin panggilan bagi saya yang ingin membangun sebuah brand. Awalnya memang saya tidak paham cara membangun sebuah brand. Saya hanya tahu brand itu adalah bentuk komunikasi, logo yang menarik, seragam, iklan yang unik. Pelan-pelan saya mulai mengerti dari banyak kasus yang saya tangani.

Proses itu dimulai dari mana?
Saya belajar dari proyek pertama saya yang gagal. Saya sudah mencoba segalanya dan hasilnya bagus, tapi kenapa bangkrut? Ternyata karena cashflow-nya salah. Ketika saya tanya, bawahan saya menjawab bahwa orang yang memegang keuangan keluar. Ini artinya apa? Artinya struktur organisasinya tidak tepat, karena sampai ada satu orang yang keluar, kemudian menjadi bangkrut.

Membangun brand artinya membangun keseluruhan kapal. Ketika brand tenggelam, kita tidak bisa bilang bahwa ini bukan karena salah satu orang tidak bekerja. Akhirnya saya tahu bahwa ada 11 disiplin ilmu yang harus dijalankan untuk membangun brand, yakni management, finance, design, communication, hospitality, information technology, dan lainnya.

Tapi, saya tidak mungkin bersekolah untuk semua disiplin ilmu tersebut. Kemudian saya berpikir, bagaimana caranya membangun brand Indonesia dengan seluruh disiplin ilmu itu dalam satu gerakan unik, management based consortium. Konsorsium ini merupakan sekumpulan para ahli dari 11 disiplin ilmu dengan komitmen yang sama, yaitu membangun brand Indonesia yang kuat.

Kenapa memilih nama Gambaranbrand?
Branding itu kalau dipelajari lebih detail sebenarnya tidak susah. Mereka yang bikin susah branding adalah orang-orang yang membuatnya dengan kalimat-kalimat rumit. Pada akhirnya branding adalah persepsi kita kepada sesuatu atau gambaran terhadap apa yang dipersepsikan.

Demi menciptakan gambaran itu, kami membangun nilai-nilai, memberikan tampilan berbeda. Kami menyusun metodologi bahwa brand harus dimulai dari mimpi, karena mimpilah yang memicu kita menuju titik itu. Kalau mimpinya berubah-ubah, kita tak bisa membangun brand.

Bagaimana potensi pasarnya?
Logikanya begini. Misalnya nanti ada ribuan jurnalis baru atau ribuan restoran padang baru, kompetisinya akan berbeda, dan pada akhirnya orang akan membeli sebuah brand. Potensi branding sangat besar. Jika dari 40.000 yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM setahun dan ada satu persen dari brand itu yang dibangun dan bisa besar, artinya kita butuh 10 perusahaan lagi yang seperti kami.

Tantangan yang Anda hadapi?
Semua pasti ada kesulitannya. Bagi kami, ini bagian dari proses. Perusahaan-perusahaan besar juga punya banyak produk gagal. Misalnya produk Equil, di belakang pabrik mereka ada kuburan produk-produk yang gagal, jumlahnya ribuan. Tapi yang dikenal sampai sekarang ya Equil.

Kami bukan konsultan. Kami sebenarnya dream maker. Tugas kami adalah membangun impian orang-orang itu. Kami selalu mulai dengan bertanya,“Impian Anda apa sih? Coba bayangkan untuk 10 tahun mendatang.”

Adalah tugas kami memastikan impian mereka berjalan. Itu sebabnya, kami memulai pembicaraan dari struktur organisasi, setelah itu baru berlanjut ke fase komunikasi.

Apa ciri khas produk Gambaranbrand?
Kami adalah perusahaan yang masuk ke hal-hal detail. Kami ini penjahit, bukan toko. Kami memosisikan diri sebagai ahlinya pengembangan merek-merek lokal.

Dukungan pemerintah terhadap merek lokal?
Sebenarnya Indonesia tidak punya cetak biru pengembangan merek lokal. Akhirnya kementerian-kementerian atau instansi-instansi pemerintah punya cara sendiri untuk mencetak brand. Aturannya menjadi tumpang-tindih. Setiap pameran, produk yang ditampilkan memamerkan hal yang sama.

Seperti apa gaya kepemimpinan Anda?
Kami tidak punya aturan di Gambaranbrand. Pegangan kami hanya satu, yakni komitmen kepada klien dan yang penting klien merasa diperhatikan. Di perusahaan kami, karyawan bisa datang dan pulang jam berapa saja. Pakaiannya pun santai. Tapi, jangan sampai ini disalahgunakan untuk hal-hal yang tidak profesional.

Siapa figur yang menginspirasi hidup Anda?
Bapak saya. Kemudian Bung Karno. Selain itu karakter dokter Patch Adam yang dimainkan mendiang Robin Williams. Bapak saya selalu bilang, “Jangan pernah berpikir soal uang. Just lakukan yang terbaik di bidang kamu. Kamu jangan berpikir apa pun, nanti Tuhan yang kasih jalan sendiri dan uang itu akan datang sendiri, karena itu adalah hasil akhir apa yang kamu kerjakan.”

Hal terbaik yang Anda peroleh saat bekerja?
Di perusahaan ini, kami membangun impian seseorang. Bagi saya, tidak ada yang lebih nikmat daripada melihat orang mewujudkan impian atau setidaknya mendengarkan keinginan mereka tanpa mereka merasa diangap gila karena impian-impian yang dimilikinya.

Obsesi Anda?
Branding itu ilmu tingkat tinggi manajemen korporat. Maka saya ingin lebih banyak orang memahami brand. Memahami brand sama dengan memelihara emas, properti. Kami membangun terus berapa nilai jualnya. Nanti trennya para investor datang untuk membeli brand, karena membeli brand itu kan mahal dan melalui proses yang panjang.

Dengan mengenal brand, kita bisa menciptakan masa depan, ketahanan ekonomi di daerah, membuka lapangan kerja. Kalau pakai produk lokal, mereka harus membayar pajak dan pajaknya masuk ke daerah. Nah, kalau brand asing, it’s ok, tapi keuntungannya ya ke perusahaan asing.

Apa filosofi hidup Anda ?
Semua harus dimulai dari mimpi. Harus selalu mengejar impian itu. Bagi saya, kadang-kadang kita harus melayani orang karena cara pandangnya selalu berbeda.

Cara Anda menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi?
Saya terkadang bingung, kapan saat saya bekerja dan kapan saya sedang bermain. Saya menikmati semua proses itu. Kakak saya bekerja di perusahaan besar, gajinya lima kali lipat dari saya, tapi saya bisa bangun jam 10 pagi atau 12 siang. Ada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Bagaimana Anda memandang hidup ini?
Hidup ini sederhana, tidak rumit dan banyak hal yang sederhana. Hanya saja, meski ingin berpikir sederhana, terkadang kita tidak menjalankan atau membuatnya menjadi sederhana. Untuk itu, lakukan sesuatu berdasarkan keinginan sendiri. Jadi, saya selalu mencoba menyederhanakan hidup.

 


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT