Andi Taufan Garuda Putra

Mapan Saja Tidak Cukup

Mapan Saja Tidak Cukup
Founder/CEO Amartha Microfinance, Andi Taufan Garuda Putra ( Foto: Istimewa )
Happy Amanda Amalia / AB Selasa, 12 Mei 2015 | 11:29 WIB

Menjadi karyawan perusahaan multinasional sekaliber IBM adalah dambaan banyak anak muda di Indonesia, bahkan dunia. Tapi Andi Taufan Garuda Putra rela mundur dari perusahaan teknologi informasi (TI) berbasis di New York, Amerika Serikat (AS), itu.

Alasannya sangat filosofis. “Mapan saja enggak cukup kalau tidak bisa memaknai hidup,” kata pria kelahiran Jakarta, 24 Januari 1987 itu di Jakarta, baru-baru ini.

Alasan itu pula yang ia kemukakan kepada orangtuanya. Semula, orangtua Andi Taufan tak setuju ketika anaknya mundur dari IBM pada 2009 dan memilih mendirikan perusahaan lembaga keuangan mikro (microfinance) di Parung, Bogor, Jawa Barat.

Ngapain memulai semua dari nol lagi, padahal semuanya sudah settle, sudah cukup mapan?” ujar orangtua Andi ketika itu.

Jalan yang dilalui lulusan School of Business and Management, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 2008 ini memang tak semulus yang dibayangkan. Dukungan yang diharapkan datang dari orangtua tidak diperolehnya, bahkan Andi Taufan terus-menerus berkonflik dengan orangtua tercinta.

Toh, itu tak berlangsung lama. Orangtua entrepreneur muda ini akhirnya maklum dan memberikan restu atas langkah yang ditempuh sang anak. Apalagi setelah Andi Taufan menyabet penghargaan Young Changemakers-Ashoka Indonesia, pada Desember 2010. Niat Andi Taufan untuk menggeluti bisnis microfinance melalui perusahaan yang didirikan dan digawanginya, Amartha Microfinance, pun semakin bulat.

Lalu, mengapa Andi Taufan begitu terobsesi pada bidang microfinance? Apa visi bisnis yang diembannya selaku founder dan chief executive officer (CEO)? Apa pula yang dimaksud dengan memaknai hidup? Berikut wawancara dengannya.

Bagaimana perjalanan hidup Anda sehingga memutuskan untuk membangun Amartha Finance?
Pertama, karena saya pribadi berasal dari keluarga menengah. Sejak saya kecil, orangtua selalu memberi yang terbaik buat saya, khususnya di bidang pendidikan. Segala yang saya terima selalu yang terbaik dan saya bersyukur karena saya selalu mendapatkan yang terbaik.

Saat di sekolah, saya melihat ada banyak orang yang tidak seberuntung saya. Tidak hanya di sekolah, melainkan juga di lingkungan sekitar, saat saya melakukan perjalanan dari rumah sampai ke sekolah dan sebaliknya. Saya melihat ada banyak yang tidak seberuntung saya. Hal itu semakin nyata dan jelas terlihat saat saya bekerja di IBM.

Apa yang Anda temukan di IBM?
Saat saya bekerja di IBM, saya mendapat tugas keliling, ke luar daerah dan ke luar kota. Saya ke kebun-kebun kelapa sawit dan dari situ ketimpangan semakin jelas. Karena kalau sudah masuk ke daerah-daerah pelosok perbedaannya semakin terlihat. Jadi, Indonesia tidak seindah dan semaju Jakarta.

Kenapa kemudian Anda memilih bidang microfinance?
Saya melihat salah satu praktik untuk membantu masyarakat kecil adalah melalui pendekatan bisnis. Kami membangun dan membantu mereka untuk memiliki bisnis modal yang jelas, dengan penghasilan yang sustain. Salah satunya adalah memulai microfinance.

Kenapa microfinance? Karena saat saya ngobrol dengan masyarakat kecil di perdesaan atau dengan masyarakat yang tidak seberuntung kita, kenapa hidupnya begini-begini saja? Kenapa dari dulu penghasilan segini-gini aja? Mereka pasti menjawab karena enggak punya modal. Modal, modal, modal, dan modal terus yang diomongin.

Scheme microfinance bisa memecahkan masalah permodalan mereka?
Lewat microfinance, kami bisa bantu kasih jawaban kepada mereka tentang solusi permodalannya. Minimal ke depan, kalau masalah modal terselesaikan, kita bisa membicarakan hal-hal lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan daripada berbicara modal terus.

Konsep microfinance sendiri mungkin semakin mengglobal saat Muhammad Yunus (bankir dari Bangladesh yang mengembangkan konsep kredit mikro, Red) mendapat penghargaan Nobel Perdamaian pada 2006. Tapi di Indonesia sendiri, sebenarnya sudah banyak perusahaan yang bergerak di microfinance, seperti koperasi simpan pinjam, baitul maal wat tamwil (BMT), dan bank perkreditan rakyat (BPR) yang memang khusus bergerak di bidang kredit usaha mikro.

Bagaimana keberadaan lembaga-lembaga microfinance sekarang?
Menurut saya, walaupun sudah banyak lembaga yang melayani masyarakat kecil, kekuatan misi sosialnya tidak sekuat itu untuk memberdayakan orang. Menurut saya, harus ada peranan lembaga keuangan mikro yang enggak hanya mendorong peningkatan financial capital, tapi juga bisa menyeimbangkan social capital dengan masyarakatnya. Dan itu yang kami coba tawarkan melalui Amartha.

Perbedaan lembaga microfinance dengan macrofinance atau perbankan?
Kalau kita membicarakan masyarakat yang tinggal di kampung, mereka pasti sudah mengira kalau bank-bank besar itu sifatnya eksklusif. Mereka pasti berpikir kalau masuk ke bank, alas kakinya harus dilepas karena mereka melihat lantainya yang bersih. Mereka menjadi merasa tidak punya apa-apa yang tepat untuk masuk ke bank dan hal itu sangat disayangkan.

Akhirnya kami bikinkan konsep yang lebih humanis. Kami yang datang ke mereka, kami jemput bola, datang ke kampung-kampung. Kami tunjukkan bahwa layanan keuangan ada yang di dekat mereka, ada di samping mereka, dan bisa mereka datangi setiap minggu, tanpa harus keluar ongkos untuk datang ke bank.

Ada kesulitan saat mendekati mereka atau Anda malah diduga sebagai rentenir?
Itu sudah pasti. Selama ini yang mereka lihat pembiayaan yang datangnya harian dan mingguan kan adanya rentenir. Mereka bilangnya bank keliling, tanpa badan hukum yang jelas. Nah, yang membuat kami berbeda adalah dari human relationship-nya dan hubungan itu kelihatan terbangun. Sekarang kalau kami datang, kami bukan nagihin uangnya tapi mereka memang sudah tahu kalau harus membayar utangnya dan menabung.

Selain itu, kami memberikan edukasi, kami ajarkan untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kami ajarkan cara meminjam yang bijak supaya jangan terlalu banyak. Mereka harus mengukur dengan penghasilan keluarganya per minggu.

Hal lain yang diajarkan Amartha Microfinance?
Kami mengajarkan demokrasi, membicarakan tentang negara demokrasi. Tahun lalu, saat pemilihan umum (pemilu), kami lumayan banyak memberikan edukasi untuk memilih secara bijak. Kami mendorong ibu-ibu supaya lebih berani dan terlibat dalam aktivitas-aktivitas di desanya. Bapak-bapaknya ada juga yang gabung.

Pembiayaan Amartha memang fokusnya buat keluarga. Kenapa ibu-ibu yang menjadi tumpuan? Kalau kita bicara kemiskinan, biasanya yang paling banyak berkorban kan para ibu. Apalagi kalau kita bicara kemiskinan, yang paling menderita di dalam keluarga dan paling banyak berkorban pasti ibunya. Jika kita mulai memberdayakan seorang ibu maka di situ kunci untuk menyejahterakan sebuah keluarga supaya peduli pada anaknya, pada kesehatannya, tempat tinggalnya, dan nutrisi keluarga. Ibu juga kan yang mengelola keuangan keluarganya?

Kalau di bank disebut nasabah, di Amartha kami sebut anggota. Kini sudah melayani lebih dari 10.000 anggota, yang aktif sekarang 6.500 anggota. Mereka tersebar di Kabupaten Bogor, Kabupaten Bandung, Kabupaten Banten, dan Kabupaten Lebak. Tahun ini kami akan kembangkan ke Subang, Karawang, Sukabumi. Kami ingin masuk ke pelosok-pelosok daerah lainnya di Jawa Barat dan Banten.

Seperti apa model bisnis Amartha?
Model bisnis Amartha ini menarik. Kami melakukan pendekatan secara gotong-royong, partisipatif, transparan, dan akuntabel.
Untuk bergabung dengan Amartha, satu kelompok terdiri atas 20 anggota. Yang bisa membuat kelompok disebut koordinator. Nanti koordinator yang menentukan siapa saja anggota yang bisa masuk kelompoknya. Bahkan, begitu bergabung, para anggota sudah bisa mulai mengajukan pembiayaan dan kami biasanya mencairkan dana dalam waktu dua minggu.

Untuk proses pencairan pinjaman, sebelumnya kami mendorong para koordinator membantu analisis kredit. Misalnya jika ada ibu yang ingin bergabung, koordinator akan bertanya kepada anggota lain, apakah ibu ini bisa sama-sama bertanggung jawab. Tapi sebelumnya kami memberikan pelatihan dulu kepada kelompok-kelompok yang sudah terbentuk.

Kami sampaikan nilai-nilai dalam kelompok, tentang gotong-royong. Kemudian kami jelaskan tujuan pembiayaan apa saja yang boleh diajukan. Kami berikan pelatihan tiga hari, setelah itu mereka boleh mengajukan pembiayaan dan melakukan pencairan. Tapi untuk mengajukan pembiayaan harus mendapat persetujuan kelompoknya. Tujuannya agar jika terjadi masalah, sistem gotong-royongnya bisa dihidupkan.

Dari sisi non-performing loan (NPL)-nya bagaimana?
Kalau misalnya muncul masalah, ada yang tidak bisa bayar maka harus sejak awal diberitahukan kepada kelompoknya. Nanti kelompoknya bersama-sama menyelesaikannya. Mulai dari masalah kena bencana atau kabur meninggalkan utang, kelompoknya akan sama-sama bertanggung jawab dan mencari solusinya.

Sejauh ini mereka tetap lancar bayar ke Amartha. Kalaupun ada yang menunggak, biasanya mereka tetap bersama-sama mencari solusi, misalnya patungan mencicil ke Amartha. Tapi orang yang menunggak dan kabur, pasti dikejar oleh kelompoknya. Dan, terbukti Amartha jalan lima tahun, NPL-nya bisa diadu dengan bank meskipun hanya beda skala. Kalau Amartha skalanya 10.000 orang, kalau bank puluhan juta orang.

Pernah ada anggota yang menunggak dan lari ke Jakarta. Kelompoknya mengejar dari Bogor sampai ke Jakarta naik kereta, ada lima orang sampai 10 orang yang mengejar. Makanya kami buat kelompok yang beranggotakan sampai 20 orang, sehingga kalau harus patungan membayar utang, bebannya tidak terlalu berat.

Kendala saat memulai bisnis Amartha?
Tidak semua orang percaya kepada kami. Kami harus tunjukkan kemampuan kami dulu sampai di mana. Tapi yang paling susah adalah meyakinkan orang-orang terdekat. Butuh waktu juga untuk meyakinkan orang-orang dari luar. Meyakinkan orangtua butuh setahun lebih. Pada 2010 kan belum terlalu terdengar soal kewirausahaan. Orangtua saya sampai bilang,“Ngapain memulai semua dari nol lagi, pahadal semualnya sudah settle, sudah cukup mapan?” Saya jawab, “Karena mapan saja enggak cukup kalau kita tidak bisa memaknai hidup.”

Konflik itu akhirnya berhenti saat saya mendapat penghargaan Ashoka Young Change Makers Awards pada Desember 2010. Saya ajak orangtua datang ke acara itu. Mungkin karena kerja saya sudah mendapat apresiasi dari orang lain dan saat itu modalnya tidak seberapa, tapi memiliki manfaat besar. Jadi, sampai sekarang terus didukung. Tapi memang penting sih, kalau misalnya sudah mendapat restu orangtua, terutama restu ibu, semuanya akan lebih lancar lagi.

Sudah cukupkah dukungan pemerintah terhadap sektor microfinance?
Itu yang membuat saya agak bingung. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang menggerakkan financial inclusion yang menjadi tagline pemerintah sekarang, agar bank melakukan perpanjangan tangan ke orang-orang yang tidak bisa akses ke bank. Kenapa fokusnya ke piramida atas, padahal piramida bawah jumlah orangnya lebih banyak, sehingga fokusnya ke situ dan dibuat aturan sejelas-jelasnya.

Tapi saya juga tidak merasa pesimistis terhadap pemerintah, saya masih optimistis. Memang tidak gampang mengurus Indonesia yang sebesar ini dan jumlah penduduknya banyak. Yang bisa kita kerjakan sebagai warga negara adalah ikut berperan meningkatkan perekonomian masyarakat kecil.

Gaya kepemimpinan Anda?
Gaya saya dalam membangun Amartha sebagai organisasi yang dinamis adalah dengan bottom up. Semua harus punya inisiatif untuk berperan demi kemajuan perusahaan bersama. Karena kami fokus ke masyarakat di perdesaan, maka semuanya harus ikut turun, semua lapisan tim ikut melihat langsung, turun ke bawah, ikut merasakan.

Mungkin bisa dikatakan kalau saya tipe pemimpin yang lebih banyak mendengar, selalu mendorong agar mengutamakan empati saat harus mengambil keputusan. Kalau ingin tumbuh maju maka pertumbuhan kami harus mengikat dengan masyarakat, di mana kami berada. Saya lebih suka gaya kepemimpinan yang menggerakkan partisipasi karyawan untuk maju bersama-sama.

Impian Anda untuk Amartha?
Amartha pada 2017 akan melayani 100.000 masyarakat di perdesaan. Mimpinya sih ingin mencapai 1 juta anggota di seluruh pelosok Indonesia pada 2020. Mimpi kami, orang-orang di pelosok-pelosok desa di daerah-daerah terluar bukan bicara modal yang terkait dengan kesejahteraan. Masih banyak hal lain yang bisa dibicarakan, misalnya pendidikan, lingkungan, kesehatan keluarga, dan bagaimana mereka bisa lebih partisipatif dalam pembangunan di desanya. Kami ingin mereka tidak hanya menjadi penerima manfaat saja, tetapi juga berkontribusi untuk terlibat sebagai aktor pembangunan ekonomi di desanya.

Bagaimana Anda memandang hidup ini?
Berpikir besar, bermimpi besar, dan berdoa yang besar dengan melakukan hal-hal yang baik setiap harinya secara konsisten. Tidak usah terlalu muluk-muluk untuk melakukan sesuatu yang besar, tapi setiap hari ada progres dalam hidup yang saya buat dan ada hal-hal baru yang saya buat.

Sumber: Investor Daily
CLOSE