Indra Charismiadji

Pendidikan di Indonesia Baru Tahap Menghafal

Direktur Utama PT Eduspec Indonesia, Indra Charismiadji (Istimewa)

Oleh: Euis Rita Hartati / AB | Rabu, 16 September 2015 | 10:37 WIB

Jujur, sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni masih menjadi persoalan besar dan paling mendasar di Indonesia. Padahal, kualitas SDM akan menentukan mampu atau tidaknya para anak negeri mengolah sumber daya alam (SDA) menjadi produk bernilai tambah tinggi. Produk bernilai tambah tinggi itulah yang bakal membuat rakyat sejahtera dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju.

Adalah Indra Charismiadji yang merasa terusik dengan kondisi itu. Indra sadar betul bahwa kualitas SDM--selain dipengaruhi faktor budaya yang pada akhirnya memengaruhi pola pikir (mindset)--turut ditentukan faktor pendidikan formal. Itu pula yang kemudian menuntunnya terjun ke sektor pendidikan.

Indra Charismiadji boleh jadi merupakan satu dari sedikit orang yang memiliki idealisme dalam bisnis pendidikan di Tanah Air.

“Salah satu obsesi saya adalah menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan Indonesia,” tutur Indra di Jakarta, akhir pekan lalu.

Mendapat tempaan dari keluarga untuk berjiwa mandiri sejak belia, ditambah pengalamannya menghadapi krisis ekonomi, Indra Charismiadji dalam usia relatif muda sudah dipercaya memimpin PT Eduspec Indonesia, bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, Eduspec berencana mencatatkan sahamnya di bursa efek Hong Kong atau New York.

Bagaimana pandangan Indra tentang dunia pendidikan di Indonesia? Apa pula obsesinya ke depan? Apa yang dimaksud anak-anak muda di negeri ini baru dalam tahap menghafal? Berikut penuturan lengkap pria kelahiran 9 Maret 1976 tersebut.

Bagaimana perjalanan karier Anda?
Kalau bicara dunia kerja, sebenarnya saya sudah mulai bekerja sejak duduk di bangku SMA. Keluarga saya, walaupun mungkin berkecukupan, berupaya mendidik kami agar tidak manja. Jadi, sejak muda kami sudah diajari mencari uang sendiri. Sewaktu SMA, saya sudah menjalankan bisnis kecil-kecilan, mulai dari menjual kaos, hingga menjadi event organizer (EO).

Yang membanggakan, saya bersama teman-teman artis pada waktu itu, seperti Gugun Gondrong dan Lulu Tobing, menggelar acara fashion show di seluruh mal Matahari di Indonesia. Setelah itu, saya kuliah di Amerika Serikat (AS). Di sana, saya tetap bekerja sambil kuliah, walaupun orangtua masih mengirimi saya uang saku.

Cobaan terberat bagi saya terjadi saat krisis moneter 1997-1998. Saat itu, orangtua sudah tidak bisa lagi mengirim uang. Pilihannya saat itu kembali ke Indonesia atau bertahan. Karena kuliah saya setahun lagi selesai, akhirnya saya putuskan untuk bertahan di AS dan saya harus bekerja ekstra.

Akhirnya saya bisa menyelesaikan studi di University of Toledo, di Kota Toledo, negara bagian Ohio, AS, dengan gelar ganda di bidang keuangan dan pemasaran untuk jenjang strata satu. Saya juga melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi di Dana University, Kota Ottawa Lake, negara bagian Michigan, AS.

Pilihan saya waktu itu bekerja profesional, seperti pialang saham dan staf marketing. Saya bekerja di Merrill Lynch, Omnicare, dan Dana Holding Corporation. Setelah mapan di AS, hati saya terpanggil untuk bisa berbuat sesuatu bagi Tanah Air. Terus terang, berita tentang Indonesia saat itu tidak ada yang baik. Akhirnya saya putuskan untuk pulang ke Indonesia pada 2002, dengan membawa idelisme yang tinggi. Saya berpikir, kalau bukan orang Indonesia sendiri yang memperbaiki negara ini, lalu siapa lagi?

Yang Anda lakukan pertama kali di Indonesia?
Saat itu, yang saya pikirkan adalah membuat bisnis yang bisa membuka lapangan kerja bagi orang banyak. Lalu saya menerbitkan majalah yang mengupas masalah pendidikan, karena passion saya memang di dunia pendidikan. Ternyata terjun di bisnis media massa memang sangat tidak mudah, apalagi mengambil segmen pendidikan. Masyarakat tampaknya lebih menggemari berita entertainment, gosip, dan sejenisnya.

Akhirnya bisnis tersebut hanya bertahan setahun, walaupun semua modal sudah dihabiskan, termasuk tabungan istri saya. Tapi itu tidak mematahkan semangat saya untuk tetap berjuang di bidang pendidikan. Akhirnya saya terjun langsung ke bisnis yang bersinggungan dengan sektor pendidikan.

Saya memulainya dari pelatihan berbasis bahasa Inggris yang ditawarkan secara door to door. Saya memperkenalkan CALL (computer-assisted language learning) untuk pertama kalinya. Pengalaman bertahun-tahun di bidang teknologi pendidikan dan jejaring tingkat internasional membuat pemerintah menempatkan saya sebagai konsultan di bidang pengembangan Pembelajaran Abad 21.

Saya kemudian bergabung dengan perusahaan Singapura. Saya sekarang memimpin PT Eduspec Indonesia yang merupakan bagian dari Eduspec International yang beroperasi di Malaysia, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Tiongkok. Dalam dua tahun ke depan, perusahaan kami akan mencatatkan sahamnya di bursa efek, pilihannya di Hong Kong atau New York. Sekarang masih tahap persiapan.

Apa saja yang sudah dilakukan Eduspec Indonesia?
Dalam kiprah pelayanan, Eduspec Indonesia membantu pengembangan sekolah-sekolah melalui program-program inovatif dan modern yang mengacu pada Pembelajaran Abad 21. Kami menjadi pelopor dalam mempromosikan pemanfaatan media dan integrasi teknologi informasi dan komunikasi.

Integrasi teknologi informasi dan komunikasi ini juga sejalan dengan proses pembelajaran dalam Kurikulum 2013 yang mengintegrasikan STEM (science, technology, engineering and math) dari mulai tingkat sekolah dasar.

Sejak diakuisisi pada 2010, Eduspec Indonesia telah membantu lebih dari 500 institusi pendidikan, baik negeri maupun swasta, di Provinsi DKI Jakarta dan beberapa kota besar lainnya di Indonesia.

Mengapa bidang pendidikan begitu menarik perhatian Anda?
Saya memang lahir dari keluarga pendidik. Jadi, mungkin faktor genetik juga sangat kuat mengalir di tubuh saya. Kakek saya kepala sekolah, nenek saya guru. Ayah saya walaupun tentara tapi juga lebih banyak mengajar. Selain itu, melalui pendidikan, saya ingin kualitas SDM kita bisa menjadi lebih baik agar bangsa Indonesia mampu bersaing dengan tenaga kerja asing. Apalagi kita menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Bagaimana Anda menilai kondisi dunia pendidikan di Indonesia saat ini?
Terus terang, kita masih tertinggal. Untuk bidang pendidikan, kita masih berada di urutan ke-69 dari 76 negara. Undang-undang (UU), bahkan konstitusi, mengamanatkan negara berperan dalam mencerdaskan bangsa. Cerdas di sini memiliki level, yakni menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisa, mengevaluasi, barulah tahap mencipta (inovasi).

Menurut pengamatan saya, anak didik kita mayoritas masih dalam tahap menghafal. Selain itu, kita juga punya pekerjaan rumah (PR) besar, yakni mengubah mindset anak didik, dari seorang yang manja menjadi seorang yang mandiri dan memiliki jiwa juang yang tinggi. Ini untuk mendorong lahirnya generasi yang kreatif dan mampu melahirkan inovasi-inovasi baru.

Gaya kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?
Karena saya bergerak di bidang pendidikan dan concern pada masalah inovasi, gaya kepemimpinan yang mendidik dan inovatif itulah yang saya terapkan kepada karyawan. Saya tidak membiasakan diri untuk memberi perintah secara detail kepada mereka yang biasa juga disebut manajemen mikro. Saya selalu memberi challenge kepada mereka. Saya hanya sebutkan garis besar goal yang harus dicapai, mereka yang harus mencari jalan keluar. Bagi yang tidak terbiasa, gaya kepemimpinan saya ini aneh.

Anda punya kompetitor di bisnis ini?
Kompetitor saya sebenarnya bukan dari perusahaan luar negeri, melainkan dari dalam sendiri. Sejak perusahaan ini berdiri, mungkin sudah ada 15-20 perusahaan sejenis yang dibuat oleh mantan anak buah saya. Tapi saya meyakini kreativitas tidak akan pernah bisa dicuri karena dunia pendidikan ini terus berkembang. Terbukti perusahaan-perusahaan itu sudah gulung tikar, sebaliknya perusahaan saya terus berkembang.

Obsesi Anda ke depan?
Saya ingin menjadi bagian dari solusi dunia pendidikan di Indonesia. Dalam lima tahun ke depan, saya ingin menjadi yang terdepan di dalam negeri, menjadi mitra pemerintah dalam membangun dunia pendidikan di Indonesia. Dalam 10 tahun ke depan, saya ingin banyak anak bangsa yang bisa berkiprah di dunia internasional. Memang dalam dua tahun ke depan, perusahaan ini akan listing di bursa saham asing, tapi fokus saya tetap memajukan dalam negeri terlebih dahulu.

Saya juga ingin agar lebih banyak lagi perusahaan yang peduli pada dunia pendidikan. Program-program corporate social responsibility (CSR) sebaiknya lebih banyak disalurkan ke bidang pendidikan. Mari kita bergandengan tangan untuk bersama-sama memajukan dunia pendidikan di Indonesia.

Peran keluarga selama ini?
Saya beruntung karena selalu mendapat dukungan penuh dari keluarga. Istri saya warga Filipina. Kami sama-sama perantau ketika di AS. Jadi, dia mengerti betul apa yang menjadi passion saya dan kesibukan saya selama ini. Sebagai kepala keluarga, saya juga ingin menjadi contoh yang baik bagi dua anak-anak saya. Meskipun sibuk, sedapat mungkin saya mengedepankan quality time bagi keluarga.


Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT