Nicko Widjaja

Bisnis Harus Jadi Obsesi

Bisnis Harus Jadi Obsesi
Nicko Widjaja. ( Foto: Istimewa )
Imam Suhartadi / AB Selasa, 3 Mei 2016 | 11:08 WIB

Menjalankan bisnis atau perusahaan ternyata tak cuma butuh keahlian. Profesionalisme dan kerja keras saja bahkan tidak cukup. Ada hal lain yang mesti dimiliki seorang eksekutif agar perusahaan yang dipimpinnya terus eksis dan tumbuh berkelanjutan.

“Menjalankan sebuah bisnis harus lebih dari sekadar bekerja. Ia juga harus menjadi sebuah obsesi. It’s more than just a job,” kata Nicko Widjaja di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi Chief Executive Officer (CEO) Telkom Metra Digital Innovation (MDI) Ventures ini, obsesi turut menentukan keberhasilan seseorang atau perusahaan yang dipimpinnya. Obsesilah yang menggerakkan seseorang untuk bekerja lebih keras, lebih kreatif, lebih inovatif, dan melahirkan ide-ide gemilang. Obsesi pula yang membuat seseorang mampu berimprovisasi dan punya visi jauh ke depan.

Mungkin karena itu, Nicko Widjaja menerapkan meritokrasi di setiap perusahaan yang dipimpinnya. “Saya seorang yang meritocratic dalam menerapkan budaya kerja. Semua ada nilai bobot kontribusinya. Achievement is everything,” ujarnya.

Lalu, apa visi Nicko Widjaja ihwal corporate venture capital? Bagaimana ia melihat perusahaan rintisan (startup) yang tengah menjamur di Tanah Air? Mengapa ia terobsesi pada Silicon Valley? Apa pandangannya tentang Silicon Valley? Berikut wawancara dengannya.

Apa perbedaan MDI Ventures dengan perusahaan modal ventura lain?
MDI Ventures adalah sebuah corporate venture capital (CVC) yang dimiliki Telkom Indonesia. Berbeda dengan private venture capital yang biasanya bertujuan mencari gain atau profit yang diperoleh dari menjual share investasi. Tujuan utama kami melakukan investasi adalah mencari sinergi value untuk grup.

Perkembangan MDI setelah Anda masuk?
Saya bergabung dengan MDI Ventures sejak Desember 2015. MDI Ventures berdiri pada tahun yang sama, beberapa bulan sebelum saya bergabung. Sebelumnya saya bergabung di Indigo, yaitu program inkubator atau accelerator milik Telkom, sejak awal 2015.

Saya melihat Indigo sebagai sebuah vantage point, di mana dalam perjalanannya, sebuah korporasi memang seharusnya melihat high-tech startup, mulai early stage sebelum bermain pada arena CVC yang lebih lanjut atau later stage.

Saya sering berbicara dengan perusahaan lain yang memulai aktivitasnya dari CVC (later stage) dahulu. Mereka pun akhirnya menyadari bahwa segalanya harus dimulai dari early stage. Dan, hanya melalui program inkubator atau accelerator, sebuah korporasi dapat belajar proses validasi yang meliputi customer, product, dan business model.

Di Indonesia, saat ini hanya Telkom Indonesia yang memiliki end-to-end financing cycle yang tidak dimiliki lainnya, yaitu from ideation to commerce. Indigo membina startup pada tahap awal atau seed, acceleration, MDI Ventures pada tahap pertumbuhan ke skala ekonomi lebih besar (growth stage and scaling up), dan Telkom Metra pada tahap merger-akuisisi atau exit opportunity.

Pengalaman sebelum Anda masuk MDI?
Latar belakang saya adalah corporate development. Saya pernah bekerja di Indofood selama empat tahun, berawal di pemasaran, lalu belajar banyak mengenai corporate development dan merger-akuisisi. Setelah itu, saya bereksperimen dengan entrepreneurship dan mengajar di UPH Business School.

Eksperimen saya memulai usaha cukup lama, hampir 10 tahun, sebelum akhirnya kembali full circle dengan Telkom. Beberapa di antaranya yaitu Thinking Room (perusahaan penyedia jasa desain), Mindcode (perusahaan riset konsumen), dan Systec Group (perusahaan modal ventura).

Saat didirikan, Systec Group merupakan salah satu pionir pada masanya. Bersama beberapa rekan usaha lainnya, Systec Group mengambil langkah berani pada 2010 untuk bermain dalam industri ini sebelum menjadi cool seperti sekarang. Pada 2014, saya pun sempat sebentar bergabung dengan Fenox di Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya bergabung dengan Telkom di MDI Ventures pada 2015.

Kebijakan strategis yang dibutuhkan untuk mengembangkan MDI?
Saya melihat timing adalah segalanya bagi sinergi yang akan dilakukan perusahaan portofolio di MDI Ventures. Sebagai contoh, jika pada 2007 saya bawa proposal Uber dan Air BnB ke shareholder, bagi Telkom pasti tidak ada hubungannya antara bisnis taksi dan penginapan. Apakah bisa terjadi sinergi?

Fast forward ke 2016, tentunya sangat bersinergi karena kedua perusahaan ini menggunakan payment solutions, network solutions, mobility, data analytics, serta kemampuan lainnya yang dimiliki Telkom Indonesia.

Konsep timing ini yang menjadi landasan bagi strategi MDI Ventures. Kami tidak hanya berinvestasi pada perusahaan yang memiliki immediate synergy saja, namun juga melihat di luar kategori yang dibutuhkan sekarang, yaitu yang akan dibutuhkan pada masa depan.

Inilah yang menjadi landasan strategis kami dalam melakukan investasi untuk startup yang masuk kategori non-immediate synergy, yaitu mereka yang memiliki ide yang mampu menciptakan aliran nilai ekonomi baru serta transaksi baru antarpenggunanya.

Tantangan, hambatan, dan peluang MDI ke depan?
Tantangan hari ini adalah bahwa belum banyak tech entrepreneur kita yang siap berkompetisi dengan pemain luar atau bahkan yang lebih besar. Hanya sedikit dari startup yang kita baca di media yang mampu menjadi yang terdepan, karena budaya kita bukan budaya yang suka berkompetisi.

Kalau melihat budaya Silicon Valley, itu selalu menantang yang besar. Lihat saja, hampir semua startup yang hari ini menjadi perusahaan papan atas dunia, awalnya dari garasi atau kamar kos-kosan. David versus Goliath. Berbeda dengan di sini, kesempatan bersaing dengan perusahaan besar justru dihindari.

Maka itu, kantor kami hanya ada dua di dunia, yakni Silicon Valley dan Jakarta. Ini dual track, tidak hanya kami membawa yang terbaik dari Silicon Valley ke Indonesia, tetapi juga yang terbaik dari Tanah Air ke Silicon Valley.

Ekosistem dan infrastruktur sudah mendukung perkembangan startup?
Ekosistem pendanaan menjadi sangat menarik sejak 2015. Lihat saja, banyak korporasi yang sudah ikut dalam industri ini. Ketika saya pertama kali berkecimpung di dunia CVC atau startup pada 2010, pendanaan pada umumnya hanya di level angel investor (investor perorangan).

Yang menjadi menarik adalah para korporasi yang terjun ke dalam industri ini juga membantu pertumbuhan para startup yang ditanami modal dengan go-to-market strategy yang lebih solid ketimbang hanya memberikan pendanaan secara pasif.

Dengan ini, infrastruktur pun menjadi berubah. Payment, logistik, dan sebagainya yang dulu sering dikatakan menjadi kendala, kini menjadi semacam opportunity bagi pihak swasta untuk memenuhinya seiring meningkatnya jumlah permintaan.

Beda perbankan dengan CVC?
CVC bukanlah pemberi pinjaman dana seperti bank atau perusahaan penyedia modal lainnya. CVC sangat spesifik kepada tahapan pendanaan dan mencari keuntungan dari melepaskan saham pada tahapan berikutnya. It’s pure business, bukan lembaga sosial maupun lembaga peminjaman modal. Ketika CVC melakukan investasi, mereka tahu sekali risiko yang dihadapi.

Mencari pendanaan di CVC boleh dikatakan 1.000 kali lebih sulit dibandingkan dengan institusi lain karena banyaknya faktor yang dipertimbangkan ketika memutuskan untuk berinvestasi pada sebuah startup.

Anda punya gaya leadership seperti apa?
Saya seorang yang meritocratic dalam menerapkan budaya kerja. Semua ada nilai bobot kontribusinya, dan memupuk kompetisi internal. Achievement is everything.

Filosofi hidup Anda?
Ini mungkin klise. Dalam menjalankan sebuah bisnis, harus lebih dari sekadar bekerja, bahkan harus menjadi sebuah obsesi. It’s more than just a job.

Bagaimana Anda mendeskripsikan Silicon Valley?
Reid Hoffman pernah mengatakan bahwa Silicon Valley bukanlah sebuah lokasi, kita tidak akan menemukannya di peta. Silicon Valley adalah sebuah ide yang konstan "memberontak" melawan status quo, yang secara spesifik adalah area teknologi informasi dan komunikasi, perpaduan antara high tech dan art.

Silicon Valley ada karena memiliki budaya yang ingin terus "mengganggu" atau disrupt terhadap tatanan dunia untuk hidup yang lebih baik. Itu sebabnya, mindset tentang Silicon Valley memiliki ciri-ciri ingin terus bereksperimen. Semuanya masih tahap "mencari". Berdasarkan definisinya, sebuah startup adalah sebuah organisasi sementara yang dirancang untuk mencari model bisnis berulang dan terukur.

Yang sering salah kaprah adalah startup disamakan dengan usaha kecil dan menengah (UKM). UKM pada prinsipnya bertolak belakang dengan startup, karena UKM mencari "rasa aman".

Berarti pola pikir Silicon Valley bertentangan dengan budaya Timur?
Tentu. Dari sisi "memberontak" tadi, budaya kerja Timur dari yang saya perhatikan lebih condong ke budaya yes man. Apalagi untuk ekosistem startup, budaya yes man sangat bertolak belakang dengan inovasi.

Satu hal lagi tentang budaya "kegagalan". Di Silicon Valley, kegagalan adalah hal yang penting dalam berinteraksi dan teguh mencari model bisnis yang nantinya menjadi fit dengan pasar. Ini juga berlawanan dengan budaya Timur yang menganggap pengakuan kegagalan sebagai sebuah kelemahan.

Namun, saya melihat banyak sekali perubahan di sini. Revolusi mental terus-menerus dikumandangkan. Selama kita semua berpaling kembali kepada moto ini, segala budaya yang menjadi hambatan dalam bekerja dapat dieliminasi.

Seberapa siap Indonesia menyambut pola pikir Silicon Valley?
Pergeseran pola dan budaya kerja membutuhkan waktu. Membangun pola pikir Silicon Valley di Indonesia bukan hanya pada startup saja, tetapi juga pada lingkungan komunitas investor dan korporasi.

Masyarakat kita sangat open-minded, apalagi terhadap hal positif. Kalau pada 2010 ditanya, apa itu pola pikir Silicon Valley, semua pasti akan skeptis dan mengatakan mindset itu hanya berlaku di AS atau negara maju.

Padahal, di AS sendiri hanya 15 persen dari masyarakatnya yang tahu apa itu Silicon Valley. Fast forward 2016, startup, investor, korporasi, dan institusi lainnya meng-endorse pola pikir Silicon Valley terus-menerus sebagai awal transformasi budaya kerjanya.

Apa yang diperlukan untuk mengadopsi hal positif Silicon Valley?
Penting agar para technopreneur diberikan contoh, inspirasi, motivasi, dan semangat agar mereka menemukan jati diri masing-masing. Kita hidup pada abad ke-21, bukan ekonomi pabrik. Pada abad ke-19, pertengahan era ekonomi industri, semua orang diharapkan patuh, disiplin, dan produktif. Tidaklah masuk akal menggunakan template seperti itu sekarang.

MDI juga punya visi menerapkan pola pikir Silicon Valley kepada startup?
MDI Ventures hanya investasi di growth stage para startup yang sudah memiliki pola pikir tersebut. Kami tidak lagi me-nurture suatu startup yang didanai di MDI Ventures, melainkan mengakselerasi dengan sinergi grup.

Kami me-nurture para startup di Indigo. Startup di Indigo masih tahap early stage, di sinilah kami menerapkan konsep pola pikir tersebut. Tidak semua mengerti, bahkan banyak yang menolak. Boleh dikatakan, startup yang sukses melewati program Indigo adalah mereka yang menerapkan pola pikir Silicon Valley ke dalam operasionalnya.

Bagaimana dengan orang yang tidak ingin mengadopsi pola pikir Silicon Valley karena sudah merasa sukses dengan budaya kerjanya sendiri?
Untuk bisnis yang tradisional, mungkin tidak perlu pola pikir ini. Jika Anda bekerja di high tech startup, rasanya tidak mungkin Anda tidak memikirkan scalability, automation, agility, dan lean operation. Itu semua tidak mungkin ada dalam budaya kerja tradisional.

Pola pikir Silicon Valley dapat diterapkan siapa saja tanpa melihat latar belakang bisnis atau industrinya?
Banyak juga yang salah mengerti. Hanya mengambil sebagian saja dan diartikan salah. Rasanya tidak dapat diterapkan oleh siapa saja. Silicon Valley adalah mindset spesifik untuk industri high tech startup atau korporasi yang siap melakukan transformasi budaya. Rasanya tidak cocok diterapkan misalnya untuk mom-and-pop business atau industri rumahan.

Apa saja hambatannya sehingga pola pikir Silicon Valley sulit diperkenalkan di Indonesia?
Comfort zone dan pola pikir statis dan tradisional. Budaya kerja lama yang menjadi halangan terhadap proses inovasi, yaitu hierarki, birokrasi, dan senioritas yang berbelit, serta budaya yes man yang sudah mengakar dalam pola pikir kita harus diubah menjadi lebih kritis.

Sumber: Investor Daily
CLOSE