Derom Bangun.

Setia pada Janji

Derom Bangun. (Istimewa)

 

Meraih kesuksesan dalam bisnis atau organisasi tak cukup berbekal gairah (passion), disiplin, dan kerja keras semata, tetapi juga harus setia pada janji. Kesetiaan pada janji bahkan turut menentukan kesinambungan perusahaan.

Pengusaha nasional Derom Bangun percaya betul bahwa kesetiaan pada janji bisa menghasilkan berbagai "keajaiban". Relasi atau mitra bisnis, misalnya, akan mudah memenuhi apa pun permintaan seseorang yang selalu setia pada janji.

"Dalam berbisnis harus setia janji. Jangan sampai ada janji yang menjadi persoalan di kemudian hari. Jadi, hargai setiap deal bisnis dengan mitra," tutur Derom Bangun di Jakarta, baru-baru ini.

Nama Derom Bangun tak bisa dilepaskan dari industri sawit. Maklum, ia sudah sangat lama malang-melintang di industri penghasil devisa terbesar itu. Tahun ini, Derom Bangun genap 50 tahun berkiprah di industri sawit nasional, baik sebagai pebisnis maupun pegiat organisasi di dalam maupun luar negeri.

Berbagai penghargaan telah diraih Derom karena perannya memajukan industri sawit nasional. Julukan sebagai Duta Besar Sawit Indonesia juga disematkan kepadanya. Kecuali itu, ia rutin menjadi pembicara pada konferensi sawit internasional di berbagai negara.

Pria kelahiran Karo, Sumatera Utara, pada 16 Juni 1940, ini sejatinya adalah insinyur teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Jalan hidup Derom berubah saat ia masuk ke PT Socfindo, perusahaan sawit di provinsi kelahirannya. Dari perusahaan itu, Derom mulai menggeluti industri sawit, kemudian merintis sendiri bisnis komoditas tersebut dengan mendirikan PT Kinar Lapiga dan PT Tara Bintang Nusa.

Bagaimana sesungguhnya perjalanan karier Derom Bangun? Apa yang membuat ketua umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) ini begitu jatuh cinta pada industri sawit? Apa pula obsesi dan filosofi hidup pengusaha yang pernah menjadi ketua umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) ini? Berikut wawancara dengannya.

Insinyur teknik kimia, tetapi menggeluti bidang sawit, bisa diceritakan?
Ya, teman-teman saya di ITB sampai mengatakan, ah sesat itu dia. Tetapi belakangan mereka bilang, oh dia tersesat ke jalan yang benar. Memang untuk lulusan seperti saya, waktu itu industri perminyakan, migas, dianggap sebagai tempat yang baik untuk bekerja.

Alasan Anda?
Dari kecil, saya sudah tahu soal sawit. Ketika di SD, saya sering berada di kebun sawit, sudah pegang buahnya. Saya tusuk dengan kuku saya, oh ada minyak di dalamnya, ini luar biasa. Ketika SMA, saya melihat gerbong-gerbong tangki melintas membawa minyak sawit dari pabrik ke Pelabuhan Belawan. Saat itu, saya sudah tahu ada perusahaan sawit bernama Socfindo, dulu namanya masih Socfin. Di perusahaan sawit inilah saya kemudian melamar kerja.

Pertama bekerja, inilah yang paling menarik. Ternyata bau minyak sawit bukan main wanginya. Padahal, selama masa studi di jurusan teknik kimia ITB, saya sudah memasuki banyak pabrik, tetapi baunya sungguh tidak menyenangkan. Ke pabrik soda, pabrik semen, saya harus menutup mulut rapat-rapat dengan masker.

Saya juga sempat cukup lama di Shell di Plaju, ada juga bau menyengat di hidung sampai tenggorokan. Berbeda ketika saya masuk ke pabrik sawit, ada aroma luar biasa. Saya juga melihat orang-orang yang bekerja di pabrik sawit, meski tidak mewah tetapi hidupnya tenang.

Kiprah Anda di Socfindo?
Saya merasa dituntun oleh Tuhan. Begitu masuk di Socfin terus ada masalah yang membuat saya langsung berperan. Tiba-tiba perusahaan menunjuk ke saya, kamu bisa mengatasinya atau tidak? Saya bilang bisa. Perusahaan bertanya, apa yang diperlukan? Saya bilang perlu pompa sekian, pipa sekian, selang sekian. Besoknya barang-barang itu dikirim ke pabrik dan saya mengatasi masalah yang ada.

Saya langsung mendapat kesempatan untuk dikenal di perusahaan dengan sembilan pabrik sawit, empat pabrik karet, beserta perkebunan dan pengolahannya. Tak berapa lama, saya menjadi kepala bagian, bolak-balik ke Eropa untuk memilih mesin karena waktu itu terjadi perubahan drastis teknologi pengolahan sawit. Saya juga belajar ke Malaysia, berangkat ke Luksemburg dan pulang membawa mesin baru. Saya mendapat tugas dan kesempatan ikut memilih dan merancang peralatan perusahaan.

Kapan Anda mulai merintis usaha sendiri?
Bisnis saya jalan sampai sekarang, tetapi saya bukanlah pengusaha besar. Ada PT Kinar Lapiga dan PT Tara Bintang Nusa, dua perusahaan itu saya yang mendirikan. Satu lagi saya ambil alih, PT Bukitmas Sawit Subur. Ketiga-tiganya sekarang jalan semua, tetapi perusahaan kecil. Dulu PT Kinar Lapiga sempat ada pabriknya, tetapi sekarang fokus ke perkebunan saja.

Karena saya sukanya jalan-jalan, istri saya, Jendamita Sembiring, saya minta tangani. Pendidikan istri saya ekonomi, makanya saya minta tangani ini. Dia jadi direktrisnya. Karena tidak punya latar belakang perkebunan, dia ikut kursus di LPP (Lembaga Pendidikan Perkebunan) di Sampali, Medan.

Dia kursus di asrama sehingga tahu cara meminta kredit dan mengawasi kredit. Bisnis itu harus pakai uang bank, harus other people's money atau harus pakai uang orang lain, bukan pakai uang sendiri. Itu rumusnya bagi yang sedang belajar menjadi pengusaha. Uang itu ada di bank semua.

Untuk perusahaan yang saya ambil alih, mula-mula kebun karet, pemiliknya menjual karena rugi. Setelah diambil alih, tiga bulan break even point (BEP) dan kemudian berjalan baik, lalu kami tukar menjadi sawit dan dalam 7-8 tahun mulai baik. Istri saya yang menangani ini semua, kemudian pada 2005 saya minta anak saya yang pertama balik ke Medan untuk mengurus perusahaan. Saya tetap mengurus yang begini-begini (Gapki, DMSI).

Kunci sukses Anda?
Dalam berbisnis harus setia janji. Selama saya bikin pabrik, jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO), tidak pernah satu kali pun saya tidak dapat menepatinya. Saya katakan di kontrak bahwa bulan ini saya serahkan 600 ton CPO, maka saya jalankan kontraknya. Tidak pernah satu pun pegawai yang telat dibayar gajinya. Bayar pemborong tidak pernah telat satu hari pun.

Maka, ketika kami minta sesuatu kepada relasi, apa pun akan dipenuhi. Tidak pernah ada janji kami yang menjadi persoalan. Kami hargai setiap deal bisnis. Sebagai pengusaha, kami berhubungan atau berurusan dengan pemasok, pemborong, karyawan, pegawai, kami hargai mereka semua.

Dalam organisasi, saya juga berupaya selalu memperhatikan pendapat orang lain. Dalam rapat pengurus organisasi di mana saya menjadi ketuanya, saya tidak pernah mengarahkan pendapat saya sebagai kebijakan organisasi. Saya lebih dulu menampung semua pendapat, lalu mengajak merumuskan bersama-sama. Dengan begitu, saya tidak pernah dibantah dalam rapat.

Gaya kepemimpinan Anda terinspirasi siapa?
Saya tidak meniru siapa pun, tetapi saya belajar dari semua pemimpin. Apa yang saya anggap baik, satu per satu saya jalankan. Ada yang menarik saat saya menjadi ketua AVOC (ASEAN Vegetable Oils Club). Saya ikut mendirikannya dengan mitra dari Filipina, Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Saya menerapkan cara memimpin yang biasa saya lakukan, meminta pendapat untuk sesuatu topik baru, kemudian saya ajak mereka mencari benang merahnya dan menyimpulkan.

Mereka bilang, oh hebat sekali you memimpin. Saya memang tidak mencoba menyodorkan sesuatu untuk disepakati langsung. Saya hanya mendorong adanya inisitiaf dan ide-ide untuk kemudian mencari yang terbaik bersama-sama. Semua pendapat dikumpulkan baru dirumuskan. Mengayomi semua pendapat.

Strategi Anda memajukan perusahaan?
Sebenarnya saya tidak pernah berangan-angan membuat perusahaan. Saya pernah belajar dari buku tentang bagaimana menjadi kaya. Ternyata menjadi kaya itu ada bahayanya, yaitu orang menjadi tidak tahu batas dan tidak tahu kapan berhenti. Saya harus cepat belajar kapan berhenti. Pelajaran yang bisa diambil adalah you have to know when to stop, itu paling sulit.

Terkait perusahaan, saya punya prinsip, hanya secukupnya saja. Mungkin orang lain memandang saya tidak mampu membesarkan perusahaan saya. Tetapi saya melihatnya, ya beginilah yang saya anggap layak untuk diri saya dan perusahaan ini harus dipelihara baik-baik.

Anda dianggap sebagai tokoh berpengaruh di industri sawit, apakah itu pencapaian monumental Anda?
Saya pikir tidak ada pencapaian monumental dari saya. Saya pikir tidak ada yang membanggakan. Soal penghargaan itu, pada dasarnya kemajuan industri sawit Indonesia adalah hasil kerja banyak pemangku kepentingan. Jadi, saya anggap penghargaan itu bukan untuk saya, tetapi buat mereka semua yang terlibat.

Hanya saja, Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS) mengatakan industri sawit Indonesia sudah berkembang sedemikian besarnya, bahkan mampu menghimpun dana untuk keperluan industri dan keperluan lain. Industri sawit memang sudah besar, sudah menjadi 200 kali dari sisi produksi dan luas lahan. Dulu hanya ada beberapa perkebunan di Sumatera, Sumut, dan Aceh, sekarang sudah sampai Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera hampir seluruhnya.

Apa obsesi Anda?
Saya terdorong masuk ke bidang sawit karena melihat manfaatnya bagi masyarakat. Saya hanya ingin sawit bisa jadi sarana memakmurkan banyak orang. Ini sudah saya sampaikan dalam konsep Rancangan Undang-Undang (RUU) Perkelapasawitan.

Di bidang sawit, ruang peraturan belum memungkinkan semua dapat menikmati sawit. Contohnya pengusaha transportasi punya lima angkot sudah disebut pengusaha medium. Secara fisik, di sawit juga ada seperti itu, tetapi peraturannya belum memberikan jalan. Itu yang saya coba masukkan dalam RUU Perkelapasawitan, tetapi belum tentu diterima.

Ketika saya buka kebun di Langkat pada 1982, orang-orang di sekitar sana masih menanam karet. Ada yang tidak mau beralih dari karet ke sawit. Tetapi setelah ikut menanam sawit, mereka berhasil. Anaknya bisa sekolah ke Pulau Jawa, baru mereka merasakan dampak positif sawit.

Dahulu, saya berikan bibit secara kredit kepada mereka, nanti setelah panen dibayar. Sekarang di sana kebun sawit semua. Saya merasa mereka ikut bertambah baik hidupnya karena bertanam kelapa sawit.

Ini juga telah terjadi di Malaysia. Di sana ada beberapa skema yang membuat perkebunan kelapa sawit harus besar agar mudah mengurusnya. Kalau satu per satu kurang efisien, makanya Malaysia membentuk Felda (Federal Land Development Authority). Dengan adanya Felda, petani-petani dihimpun menjadi perusahaan besar.

Di Indonesia susah karena ada faktor budaya yang menyebabkan petani sawit tidak suka digabungkan. Ada budaya kebanggaan sebagai owner, sehingga kalau dilebur pride itu hilang.

Filosofi hidup Anda?
Saya harus berbuat untuk sesama, untuk memuliakan yang Maha Kuasa karena kita adalah ciptaan-Nya.



Investor Daily

Tri Listiyarini/AB

Investor Daily