Dekan Fakultas Teknik UGM Panut Mulyono terpilih sebagai rektor dalam rapat pleno Majelis Wali Amanat UGM, 17 April 2017.

Rektor Baru UGM, Anak Guru yang Biasa Makan Tanpa Lauk

Dekan Fakultas Teknik UGM Panut Mulyono terpilih sebagai rektor dalam rapat pleno Majelis Wali Amanat UGM, 17 April 2017. (Fuska Sani Evani/ Suara Pembaruan)

Yogyakarta - Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof Panut Mulyono terpilih sebagai rektor Senin (17/4), melalui proses pemilihan yang sangat alot melibatkan tiga kandidat.

Lahir di Kebumen 1 Juni 1960, Panut besar di keluarga sederhana. Menurut kisahnya, ayah dia adalah seorang guru sekolah dasar dan dia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara.

Sejak kecil, Panut terbiasa hidup prihatin, bahkan saat duduk di bangku SD, dia bersama adik-adiknya, masih merasakan harus belajar dengan lampu teplok, lantaran kampungnya belum teraliri listrik. Berangkat ke sekolah pun Panut dan adik-adiknya tak memakai sepatu.

Penghasilan ayahnya sebagai guru yang pas-pasan tidak cukup untuk memberinya kenyamanan. Panut pun terbiasa makan nasi tanpa lauk.

“Saya ingat kami pernah mengalami kemarau panjang, lalu gagal panen, jatah beras sudah habis dari hasil panen, itu bapak utang ke mana-mana,” kenangnya.

Meski dibesarkan dari keluarga sederhana, Panut mampu lulus dari jurusan Teknik Kimia UGM pada 1986. Namun kedua adiknya secara bersamaan kuliah di UNY dan Kedokteran UNDIP.

Ketika lulus, dan diterima menjadi dosen, Panut sempat bimbang antara menjadi dosen atau menjadi pegawai di Nurtanio, lantaran ingin membantu ayahnya membiayai sekolah adik-adiknya.

Namun sang ayah berpesan agar Panut menjadi dosen saja. Berkat sokongan sang ayah itulah, Panut mampu meraih Program Master di Teknik Kimia Tokyo Institute of Technology tahun 1990, sekaligus mendapatkan gelar doktoralnya di kampus yang sama pada tahun 1993.

Dalam pengabdiannya sebagai Dekan Fakultas Teknik UGM, pria berpembawaan riang ini berprinsip siap menjadi ‘pelayan’ bagi mahasiswa, dosen dan karyawan dan selalu siap ditemui kapan saja. Untuk itu dia memilih tidak banyak bertugas di luar kantor, bahkan membatasi diri pergi ke luar negeri.

Menurut Panut, beberapa koleganya bahkan cukup mengirim pesan langsung bila ada persoalan tugas kantor yang belum diselesaikannya.

Selama menjadi dekan, 12 program studi (prodi) S1 di Fakultas Teknik sudah terkareditasi A. Sebagian prodi S2 dan S3 sudah terakreditasi A. Menurutnya tidak hanya akreditasi nasional, ia juga menggenjot akreditasi internasional, sebab sampai saat ini hanya prodi teknik kimia yang sudah mendapat pengakuan akreditasi internasional Institution of Chemical Engineers (IChemE).

Belajar dari pengalaman teknik kimia saat mendapat pengakuan akreditasi internasional, Panut menyerukan setiap prodi dan departemen mendirikan semacam dewan penasihat atau advisory board, yang terdiri dari alumni yang bisa memberikan masukan bagi pengembangan pendidikan dan pengagajaran.

Selama menjabat Dekan Panut mengaku berbagai pencapaian dalam peningkatan kegiatan Tridarma perguruan tinggi, terutama di bidang riset, jumlah penelitian naik jadi 60 persen dari sebelumnya saat di awal ia baru menjabat. Belum lagi kegiatan pengabdian yang telah diaplikasikan di tengah masyarakat lewat kegiatan KKN PPM.

Namun menurut Panut, masih ada dua hal yang belum kesampaian, yakni peningkatan alat laboratorium setara dengan industri, dan laboratorium di fakultas yang bisa dimanfaatkan dan menjadi rujukan bagi industri.



Suara Pembaruan

Fuska Sani Evani/HA

Suara Pembaruan