Iqbal Latanro

Mengalir seperti Air

Direktur Utama PT Taspen, Iqbal Latanro. (Antara)

Oleh: Kunradus Aliandu / AB | Selasa, 25 April 2017 | 12:54 WIB

Air memiliki ciri dapat mengalir ke tempat rendah dan selalu dinamis dalam mengisi ruang kosong. Tetesannya mampu merusak batu yang keras. Jika diubah bentuknya, air tidak akan hilang.

Sifat air yang selalu mengalir ke tempat rendah bisa dianalogikan dengan sikap rendah hati pada manusia. Air selalu ingin berguna bagi makhluk hidup di sekitarnya. Ibarat pemimpin, air adalah pemimpin yang melayani. Jika berada di posisi teratas, ia akan menjadi pelayan bagi orang-orang yang membutuhkan di bawahnya.

Hal lain yang patut diteladani dari perjalanan air dari sumbernya menuju muara adalah sikapnya yang konsisten. Bayangkan, begitu banyak hambatan yang dilalui air gunung untuk mencapai muara.

Perilaku atau sifat air itu pun turut memengaruhi cara pandang dan gaya Iqbal Latanro dalam mengarungi kehidupan, sejak muda hingga ia menyandang jabatan tertinggi di PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk dan sekarang menjabat sebagai direktur utama PT Taspen (Persero).

“Kalau kita mengalir atau berjalan seperti air, saat permukaannya naik kita ikut naik, saat datar ikut datar. Kalau turun, kita ikut turun. Jadi, kita berserah diri, tawakal,” kata pria kelahiran Makassar, 5 Oktober 1958, ini.

Iqbal yang mengawali karier sebagai staf di kantor pusat BTN, adalah tipe eksekutif berkemauan kuat untuk terus berkembang meski di hadapannya banyak tantangan, tugas atau pekerjaan. Bagi pria yang satu ini, tantangan adalah peluang sekaligus sarana untuk belajar dan berinovasi.

“Kalau bisa, saya ingin dikenang sebagai orang yang memberikan perubahan atau inovasi di mana saja saya ditugaskan,” tutur Iqbal di Jakarta baru-baru ini. Berikut wawancara dengannya.

Bisa dijelaskan perjalanan karier Anda?
Saya dilahirkan di Makassar, 5 Oktober 1958. Lulus sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1983, saya menyelesaikan master of science di universitas yang sama pada 1998.

Awalnya saya bekerja sebagai staf di kantor pusat BTN (PT Bank Tabungan Negara Tbk). Pada 1995, saya mendapat kenaikan pangkat istimewa sebagai kepala cabang kelas I BTN Kantor Cabang Makassar. Pada 2005, saya mendapat kenaikan jabatan lagi sebagai direktur BTN dan pada 2007 ditunjuk sebagai direktur utama BTN. Selanjutnya pada 2013, saya diberi amanat menjadi direktur utama PT Taspen.

Apa saja tantangannya?
Saya merasa bersyukur karena saya diberi tantangan untuk mewariskan hal-hal positif yang dapat mengubah dan bisa dikenang orang sebagai suatu perubahan. Taspen itu organisasi layanan, kebetulan saya orang yang suka meningkatkan layanan. Kelihatannya saya masuk ke rumah yang benar.

Jadi, saya senang di Taspen. Saya bisa bersama teman-teman menginovasi layanan. Taspen itu cirinya dua, yaitu layanan dan investasi. Dua-duanya saling menunjang.

Prinsip dan nilai-nilai yang Anda terapkan?
Tentu semakin usia saya bertambah, kematangan semakin meningkat. Saya melihat di tempat baru ini perubahan yang dilakukan langsung terasa. Di BTN dulu saya sangat senang dengan kekhasan BTN sebagai public company. Tentu itu berpengaruh terhadap pola tata kelola perusahaan, sehingga BTN menjadi perusahaan terbuka yang governance-nya semakin bagus sampai hari ini.

Hal itu menjadikan saya lebih kaya pengalaman untuk diimplementasikan di Taspen. Taspen modal utamanya pelayanan dan transparansi. Jadi, yang kami dorong ke depan adalah good corporate governance (GCG)-nya, termasuk menyangkut transparansi. Pentingnya transparansi, karena Taspen milik banyak orang. Para pensiunan jumlahnya sekitar 6,8 juta orang.

Perubahannya apa saja?
Saya berusaha bikin sistem pengembangan karier yang jelas. Untuk menghindari risiko tinggi di dalam investasi, saya membuat tata kelola yang jelas dan berusaha agar memperoleh hasil optimal dalam investasi.

Dari dahulu, gaya saya sama, gaya kepemimpinan dengan tim yang solid, memanfaatkan orang-orang yang bisa mendorong inovasi. Selain itu, perubahan harus terasa. Orang merasakan ada perubahan dan perubahan itu berdampak pada sistem Taspen ini.

Inovasi paling monumental bagi Anda?
Banyak. Inovasi itu tak hanya dalam industri sebagai barang, tetapi juga bisa sebagai sistem. Misalnya inovasi sistem pengembangan karier, inovasi pola perekrutan, atau inovasi pola layanan. Taspen ini punya program Latanro, sahabat Latanro, kepanjangan dari Layanan Taspen Persero. Isinya mengenai tiga strategi "penyerangan" untuk meningkatkan pelayanan.

Pertama, kami ingin meningkatkan sistem pelayanan satu jam. Kedua, kami ingin mengembangkan layanan klaim otomatis, artinya Taspen yang jemput bola. Ketiga, Taspen akan menjadi pusat data pegawai ASN (aparatur sipil negara), baik yang kontrak kerja maupun ASN tetap, dengan mengembangkan sistem informasi manajemen gaji (Simgaji).

Ke mana fokusnya?
Kami fokus pada peningkatan layanan. Tahun ini kami menggunakan smart card, bekerja sama dengan layanan Telkomsigma. Layanan untuk autentik data banyak dikeluhkan, sekarang melalui gadget bisa diatasi, bahkan peserta bisa mengidentifikasi foto diri sendiri.

Masih perlu membuka kantor cabang baru?
Setiap tahun kami membuka dua kantor cabang. Kalau mau berhitung secara bisnis, tidak perlu buka. Bisnis itu kan ujungnya laba. Tetapi ini layanan, jangan sampai orang dari Nias terbang ke Medan hanya untuk mengurus pensiun. Pensiunan kan suka membawa keluarga juga, biayanya berapa?

Sekarang kami yang datang membuka kantor, dengan menjemput nasabah. Membuka cabang kami lakukan setiap tahun, sejak tiga tahun lalu. Tahun ini kami sedang survei dan kaji untuk Madura.

Strateginya begini, kita contohkan Lubuklinggau, Sumatera Selatan. Dahulu orang Lubuklinggau kalau mau mengurus Taspen harus terbang ke Palembang, bawa anak, bawa cucu. Ciri nasabah Taspen memang berbeda dari lainnya, mereka bawa keluarga kalau pergi klaim.

Layanan Taspen sekarang tak kalah dari bank suasananya. Kalau bank punya priority banking, kami juga punya, di sana bisa minum kopi, itu suatu perubahan yang mendasar.

Kami juga menghindari ongkos dari para pensiunan. Misalnya dulu terkesan di kantor Taspen itu banyak renternir, sekarang enggak boleh, layanan harus tanpa biaya. Kalau Anda pernah melihat orang Taspen "menerima" uang, bilang ke saya, saya kembalikan uangnya seribu kali.

Lebih menantang mana, BTN atau Taspen?
Semua menantang dan semua punya masalah tersendiri. BTN sangat rentan isu merger dan akuisisi, solusinya IPO (initial public offering), itu sudah kami laksanakan. Di Taspen juga ada isu soal eksistensi karena ada orang menjabarkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) menjadi satu.

Kami mengembangkan BPJS di Indonesia itu ada empat, yaitu BPJS Ketenagakerjaan untuk swasta, BPJS aparatur negara, yakni Taspen, BPJS ABRI (TNI) yaitu Asabri, dan BPJS Kesehatan.

Kemudiam, isu layanan. Kami harus melayani pensiun dengan cepat, tanpa klaim dan tanpa biaya. Kalau mau berhitung, kami tak mungkin buka cabang seperti di Nias (Sumatera Utara) dan di Ende (NTT). Tetapi yang kami lihat adalah bagaimana pensiunan memperoleh hak dengan layanan yang baik tanpa biaya.

Itulah salah satu ciri yang membedakan Taspen. Di BTN, kami bisa mengukur kinerja, misalnya dengan meningkatkan penyaluran kredit, menurunkan suku bunga deposito, mengganti saving maka laba naik. Di Taspen, premi ditentukan pihak lain, klaim ditentukan pihak lain. Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan pelayanan dan investasi.

Semua yang dilakukan sesuai harapan?
Saya merasa berbahagia bahwa saya didukung untuk melakukan banyak perubahan. Saya kira, perubahan itu sudah terasa. Persoalan sudah selesai atau belum, menurut saya, belum selesai. Jadi, kami harus selalu meningkatkan layanan.

Tantangannya, pertama adalah jumlah peserta banyak. Kedua, pelayanan bisa menjadi tidak efisien. Contohnya membuka kantor di mana-mana, itu kan membuang biaya, padahal kami juga harus meningkatkkan pendapatan. Ketiga, tentu tingkat edukasi. Ini bisa dipertimbangkan, tetapi persoalannya kami melihat pegawai negeri pertambahannya lebih kecil dari pertambahan pensiunan, yang istilahnya moratorium.

Jadi, Taspen harus hidup dari investasi, tidak bisa hidup dari premi, karena premi jumlahnya selalu menurun dengan adanya moratorium. Pensiunan meningkat, angka harapan hidup pensiun juga semakin meningkat, sekarang 72 tahun untuk wanita dan 68 tahun untuk pria. Jadi, beban yang ditanggung lebih besar dari beban yang menanggung.

Gebrakan ke depan seperti apa?
Gebrakannya antara lain meningkatkan investasi melalui relaksasi investasi langsung, kemudian instrumen-instrumen yang memberikan yield yang lebih baik. Dari sisi layanan di antaranya melalui teknologi informasi (TI) yang kami sebut smart card untuk Taspen. Layanan autentifikasi bisa dari rumah dan layanan proaktif tetap ingin kami lanjutkan. Karena itu, program Latanro kami jual. Sekarang Latanro itu bukan kultus individu lho, hanya tiba-tiba terpetik ide namanya Layanan Taspen Persero.

Cara Anda me-manage karyawan?
Taspen pernah lama tak merekrut karyawan. Karyawan mudanya bagus-bagus, sehingga kemungkinan pengembangannya tinggi. Orang kalau pintar kan gampang dikembangkan.

Kalau saya pergi ke kantor cabang, di sana saya pun senang berjalan kaki. Selain mengasyikkan, juga membuat saya bisa lebih dekat dengan pegawai. Saya pun bisa melihat kota atau daerah tertentu dari dekat. Setiap ke kantor cabang, saya selalu adakan briefing, diskusi, dan makan siang atau makan malam bersama agar makin dekat dengan karyawan.

Obsesi Anda?
Saya punya obsesi bahwa orang harus mengenang saya pernah di Taspen. Yang dikenang itu apa, nilai tambah yang saya berikan kepada Taspen. Mengapa saya harus berbuat karena masa saya bekerja di Taspen ada batasnya. Untuk bisa baik, saya harus bekerja dengan baik, sehingga orang bisa mengenang, dahulu ada nama Latanro gendut di situ, tetapi itu bukan kerja perorangan, melainkan kerja tim.

Apa filosofi Anda?
Filosofi hidup saya yaitu mengalir seperti air. Dalam keadaan naik kita ikut naik, saat permukaan datar ikut datar, kalau turun ikut turun. Berserah diri, tawakal. Tapi dari segi hidup, kalau bisa, saya dikenang memberikan perubahan di mana saya berada. Filosofi ini saya terapkan dalam pekerjaan dan dalam hidup.

Bagaimana Anda memanfaatkan waktu senggang?
Berolahraga. Saat ini saya mulai rajin berenang dan jalan kaki. Dahulu saya rajin main golf, tetapi mungkin karena gemuk, saya kurangi main golf. Lagi pula, kaki saya masih pakai pen, ini kan kaki saya diikat setelah mengalami kecelakaan, jadi saya lebih banyak berenang dan jalan kaki.

Saya ini kan sudah berusia, sudah punya anak dan cucu, istri dan anak-anak sudah punya kegiatan masing-masing. Jadi, hari Sabtu dan Minggu itulah waktu yang tepat untuk bersama keluarga. Hari kerja masing-masing sibuk. Tetapi sekarang kan ada WA group, saya punya grup WA keluarga inti, sehingga bisa saling update dan lain-lain.

Kebetulan saya suka traveling, istriku juga. Istriku kadang protes karena saya tidak bisa menemaninya. Saya punya prinsip, ketika kita masih dipakai orang, maka kita harus bekerja optimal. Mudah-mudahan ada masa di mana saya bisa menikmati hidup dan membayar janji-janji traveling saya kepada istri. Terkadang, saya ajak istri ikut kalau ada acara ke luar kota.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT