Reginald Josiah Hamdani

Asah, Asih, Asuh

Reginald Josiah Hamdani (Istimewa)

Oleh: Mardiana Makmun / AB | Senin, 22 Mei 2017 | 12:48 WIB

Gaya kepemimpinan yang mengusung filosofi asah, asih, dan asuh (mendidik, mencintai, dan membina) mungkin sudah tak asing. Namun, tak banyak chief executive officer (CEO) yang betul-betul menerapkannya. Reginald Josiah Hamdani termasuk di antara pemimpin perusahaan yang berupaya mengimplementasikan nilai-nilai tersebut.

Sebagai contoh, jika memimpin rapat, ia ingin semua peserta menyampaikan ide-idenya. Intinya, semua bisa berdiskusi dan berbicara.

“Mereka jangan melihat saya sebagai CEO, tetapi teman diskusi. Nah, saat mengambil keputusan, barulah saya mengenakan ‘topi’ CEO saya,” tutur CEO PT Central Asia Financial itu di Jakarta, baru-baru ini.

Dengan berpegang pada filosofi asah, asih, dan asuh, eksekutif kelahiran Bogor, 12 Agustus 1978, ini juga berupaya untuk senantiasa menciptakan suasana tanpa beban, tanpa tekanan, segar, dan menyenangkan saat bekerja.

“Dalam bekerja, saya ingin tim bekerja dengan fun,” ujarnya.

Jangan heran jika di kantor Central Asia Financial yang beken dengan brand Asuransi Jagadiri, ada ruangan bermain Playstation. Setiap hari Senin dan Jumat, karyawan juga boleh mengenakan pakaian bebas, seperti kaus.

“Hari Senin kan orang suka malas bekerja karena suasananya masih ingin melanjutkan libur hari Minggu. Kalau Jumat, orang bisa langsung ke acara setelah bekerja. Jadi, enggak usah pulang untuk ganti baju dulu,” katanya.

Namun tak berarti para karyawan Asuransi Jagadiri bisa berleha-leha dan berpuas diri. “Saya juga menginginkan tim di sini terus meningkatkan kompetensinya. Mereka diasah dengan mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi di bidang asuransi,” ucap dia. Berikut wawancara dengannya.

Bisa cerita perjalanan karier Anda?
Saya memulai karier di perbankan. Pada 2002, saya bekerja di Citibank NA, menjabat sebagai senior business planning analyst hingga 2006. Dari Citibank, saya pindah ke Bank Danamon sebagai senior treasury financial analyst. Di Citibank, saya diminta men-develop produk, antara lain Target Saving Planning dan Leader Deposit. Konteksnya karena saat itu muncul fund crisis. Nah, supaya nasabah enggak keluar, saya membuat produk yang lebih menguntungkan nasabah. Kebetulan saat di Citibank pun saya suka bantu bagian treasury untuk develop produk. Saya juga bantu kustodian, terlibat di transfer pricing.

Dari bank, saya pindah ke perusahaan konsultan Ilead Consulting, konsultan untuk perbankan. Saya bosan di finance dan treasury. Saya ingin mencoba marketing. Karena itu, begitu diterima bekerja di Ilead sebagai marketing, saya ambil. Kebetulan di Ilead ada Pak Barry Lesmana, sebelumnya country business manager Citybank NA. Juga ada Pak Th Wiryawan, marketing director Citibank.

Keputusan saya pindah ke Ilead Consulting ditentang ayah, ibu, dan calon istri. Apalagi saat itu Danamon adalah bank nomor lima terbesar di Indonesia. Sedangkan Ilead Consulting adalah perusahaan baru dengan karyawan hanya 11 orang. Tetapi, keputusan itu adalah the best decision of my life.

Di situ, saya digembleng. Saya banyak menggarap pekerjaan, dari mulai finance, hingga presentasi ke direksi-direksi perusahaan calon klien. Saya membuat strategi, rekomendasi, juga memberikan pendampingan. Itu tidak gampang.

Di situ saya banyak belajar, banyak menggunakan teori. Tetapi enggak enaknya, karena sebagai konsultan, saya enggak merealisasikan. Berhasil atau tidaknya teori tergantung klien. Kalau klien melakukan dengan baik, bisa berhasil. Kalau tidak, tentu tidak berhasil. Nah, di sini saya kehilangan rasa pencapaian itu.

Kapan masuk bidang asuransi?
Pada 2010, saya keluar dari Ilead dan masuk perusahaan asuransi, PT Asuransi Cigna (Cigna Indonesia). Pertimbangannya saat itu, saya melihat industri banking sudah masuk tahap stagnant growth. Sudah enggak bisa berkembang lagi. Kita lihat, untuk transaksi, Bank Mandiri, Bank BNI, BRI, itu jagonya. Untuk investasi, ya Bank HSBC dan lain-lain. Banking industry sudah stagnan. Di sisi lain, saya lihat, pada 2010-2011 industri asuransi pertumbuhannya mencapai 20-30 persen per tahun. Saat itu, saya melihat bisnis asuransi seperti bisnis perbankan beberapa tahun sebelumnya.

Terobosan yang Anda lakukan?
Di Asuransi Cigna, saya membuat inovasi dan insiatif dari beberapa saluran, produk, dan komunikasi pemasaran. Saya menyalurkan dua saluran distribusi baru dengan fokus direct marketing, yaitu DRTV dan internet marketing. Hasilnya, dari DRTV saya mendapatkan 50.000 lead dalam seminggu dan dari internet marketing dapat mempertahankan hampir 100 persen persistensi pada bulan ke-7 dan 95 persen persistensi di bulan ke-13. Saya juga berkontribusi pada produk baru dengan menyumbang lebih dari 30 persen total produk new business Cigna.

Pertimbangan bergabung dengan Asuransi Jagadiri?
Saya melihat kok bisnis asuransi hanya jual, jual, dan jual saja, dengan mengandalkan tenaga agen. Padahal, asuransi bisa memberikan manfaat lebih kepada nasabah. Saya belajar dari Pak Barry Lesmana dan Bank BCA. Sebelumnya, bank-bank hanya fokus menghimpun dana sehingga dana pun mengendap.

Padahal, kalau dana digunakan untuk banyak transaksi akan lebih menguntungkan. Lalu, BCA menggunakan banyak mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk memudahkan orang bertransaksi. Dampaknya, itu ternyata membuat nasabah menjadi loyal kepada BCA.

Dengan berpikiran hal yang sama, di asuransi pun orang ingin merasakan banyak manfaat dari berasuransi, termasuk kemudahan membeli dan melakukan klaim. Seperti bank dengan banyak mesin ATM, kalau asuransi bisa memberikan kemudahan untuk dipakai maka orang akan pakai terus.

Seperti apa kemudahan itu?
Saat masuk PT Central Asia Financial (CAF) sebagai CEO, saya diberi kebebasan untuk mengubah total model bisnis asuransi di CAF. Sebelumnya, saya mulai langsung menyurvei calon customer. Saya cari pendapat, mengapa orang enggak mau membeli asuransi. Jawabannya karena ribet, susah, buang uang, capai, hingga enggak suka dikejar-kejar agen.

Berdasarkan hasil survei itu, saya rombak semua model bisnis CAF, dari menjual asuransi lewat agen menggunakan iPad, ke penjualan melalui dua distribution channel, yaitu digital dan telemarketing. Lewat digital, calon nasabah bisa melihat dan memutuskan untuk membeli asuransi secara mudah, tanpa harus ditanya riwayat penyakit, merokok atau tidak, dan lain-lain. Namun, telemarketing tetap dibutuhkan untuk memberikan penjelasan produk kepada calon nasabah.

Hasil yang Anda peroleh?
Setelah membuat pilot project pada Oktober 2014, pada akhir Januari 2015 CAF meluncurkan brand baru asuransinya, yaitu Jagadiri, dengan kanal distribusi berbentuk digital dan telemarketing yang menyasar target market berusia muda, 28-45 tahun. Produknya pun memberikan manfaat lebih, contohnya asuransi kesehatan Jaga Sehat Plus yang memberikan jaminan uang kembali sebesar 50 persen, baik ada klaim maupun tidak ada klaim, yang dibayarkan setiap tiga tahun.

Begitu juga asurasi jiwa Jaga Jiwa Plus, memberikan perlindungan jiwa terhadap risiko meninggal dunia serta memberikan manfaat pengembalian premi 100 persen dalam lima tahun atau 110 persen dalam tujuh tahun apabila tidak ada klaim. Kami pastikan customer selalu untung karena selain jiwa terlindungi, uang customer pun tidak hilang. Manfaat lainnya, Jagadiri memberikan tiket menonton gratis di CGV Cinemas pilihan setiap bulan dan dengan pilihan waktu yang tak ditentukan, bisa weekdays atau weekend.

Bagaimana respons pasar?
Hanya dalam 11 bulan, Jagadiri menempati posisi tiga besar untuk asuransi jiwa berdasarkan ranking Alexa. Pada 2015, traffic visitor website mencapai 51.000 per bulan dan meningkat menjadi 70.000 per bulan pada 2016, bahkan pada kuartal I 2017 mencapai 180.000 per bulan. Sedangkan jumlah nasabah kini mencapai sekitar 20.000.

Penjualan kami naik signifikan. Pada 2015, sales mencapai Rp 15 miliar dengan premi Rp 5 miliar. Pada 2016, sales naik menjadi Rp 46 miliar dengan premi Rp 25 miliar. Komposisi penjualan terbanyak disumbang 80 persen oleh Jaga Sehat Plus dan Jaga Sehat Keluarga, 15 persen Jaga Jiwa Plus, dan sisanya produk lain.

Apa kunci suksesnya?
Kuncinya yang pasti, asuransi ini menyenangkan, memanjakan, dan mengenali kebutuhan customer. Orang Indonesia itu menyukai sesuatu yang instan dan sesuatu yang gampang. Mau beli asuransi tinggal buka web atau download aplikasinya, pilih, dan klik. Bahkan untuk mengklaim pun dibuat mudah. Maksimal klaim cair dalam 14 hari. Bila tidak, silakan tuntut Jagadiri. Itu garansi yang kami tawarkan.

Orang Indonesia juga ogah rugi dan senang membanding-bandingkan dengan produk lain. Kalau ada yang lebih bagus dan murah, kenapa beli yang lain? Jagadiri menawarkan produk yang lebih murah dan terjangkau karena kami memangkas biaya agen.

Apakah meniadakan agen merupakan ancaman bagi profesi agen asuransi?
Tidak. Model bisnis asuransi Jagadiri tidak akan mematikan jasa agen. Apalagi penetrasi asuransi di Indonesia masih di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), sehingga pasarnya masih luas. Dari market yang luas itu, tentu ada nasabah yang senang dilayani, biasanya nasabah dengan premi besar. Nah, ini bisa dilayani oleh agen asuransi.

Tahun ini targetnya seperti apa?
Kami menargetkan sales pada 2017 sebesar Rp 75 miliar dengan premi Rp 50 miliar. Target ini kami ingin melakukan konsolidasi dan penguatan sistem teknologi informasi (TI). Jangan sampai penjualan lari kencang, tetapi tidak diimbangi oleh investasi materi dan waktu. Kami tingkatkan, perbaiki proses di dalam lebih dulu supaya janji-janji yang kami tawarkan jangan sampai tidak sesuai.

Hal ini juga sesuai dengan filosofi hidup yang saya terapkan di bisnis ini, yaitu series of sprint. Larilah jarak pendek lebih dulu, 100 meter, 100 meter. Kalau langsung maraton bisa mati kita. Jadi, lari 100 meter, lalu berhenti dulu supaya punya waktu untuk memperbaiki diri agar bisa terus bertumbuh. Kalau lari sambil memperbaiki atau multitasking, itu bisa saja, tetapi hasilnya tidak akan optimal.

Anda punya gaya kepemimpinan seperti apa?
Bergerak di digital itu tak perlu banyak orang, sedikit saja tetapi berkualitas dan bisa menggerakkan masing-masing proses. Nah, kuncinya, pertama harus ada otomatisasi sehingga enggak perlu banyak orang.

Saya menerapkan gaya kepemimpinan asah, asih, dan asuh. Kalau sedang meeting, saya ingin semua peserta bisa menyampaikan idenya. Semua bisa diskusi dan bicara. Mereka jangan melihat saya sebagai CEO, tetapi teman diskusi. Nah, saat mengambil keputusan dari diskusi tersebut, barulah saya mengenakan "topi" CEO saya.

Dalam bekerja, saya juga ingin tim bekerja secara fun. Di kantor ada ruangan bermain Playstation. Setiap Senin dan Jumat, peraturan di Jagadiri membolehkan karyawan menggunakan pakaian bebas seperti kaos. Hari Senin kan orang suka malas bekerja karena suasana masih ingin libur seperti Minggu. Kalau Jumat, orang bisa langsung ke acara setelah bekerja. Jadi, enggak usah pulang untuk ganti baju dulu.

Namun, saya juga menginginkan tim di sini terus meningkatkan kompetensinya. Mereka diasah dengan mengikuti pelatihan untuk mendapatkan sertifikasi di bidang asuransi. Kebetulan saya di sini enggak ambil tim yang berlatar belakang asuransi. Yang saya ambil adalah orang-orang yang menjadi target market Jagadiri, sehingga mereka benar-benar memahami apa yang menjadi kebutuhannya.

Obsesi Anda ke depan?
Sebagai profesional, saya ingin melihat asuransi lokal bisa berkembang dan menjadi pemain utama di market kami sendiri. Di industri bank, empat dari top 5 bank adalah perusahaan lokal. Sedangkan di asuransi, semua pemain utama masih perusahaan asing.

Saya juga punya obsesi bagaimana agar inovasi enggak cuma mengopi dari luar negeri. Sebaliknya, kita menjadi kopi untuk market luar negeri, kita mengekspor knowledge. Memang, konsep Jagadiri sudah diminta di Malaysia, karena ke depan channel digital akan menjadi pilar utama industri asuransi. Tetapi saya belum mau. Saya ingin mengembangkan pasar dalam negeri terlebih dahulu.




Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT